
BERPRESTASI: Roja Muhammad Bisma Rohmatullah mendapat kado berupa kitab kuning Marah Labid dua jilid dari Rais Am PB NU KH Ma
Bukan tanpa sebab Roja Muhammad Bisma Rohmatullah didapuk sebagai santri berprestasi di Stadion Gelora Delta Sidoarjo pekan lalu. Bisma, panggilan akrabnya, memang santri yang cukup istimewa.
JOS RIZAL, Sidoarjo
RUMAH bercat biru di RT 4, RW 2, Desa Tebel Barat, Gedangan, Sidoarjo, itu tampak seperti taman kanak-kanak. Ada sentuhan tangan bocah-bocah di beberapa dindingnya. Berupa goresan krayon maupun pensil.
Kesan cerah semakin terasa di dalam rumah. Juga, terasa edukatif. Ada poster nama-nama hewan pemakan daging, poster dinosaurus mini, tabel aksara Arab, hingga tokoh-tokoh kartun terkenal. Ketika Jawa Pos bertandang, suasana saat itu cukup ramai dengan suara tembak-tembakan.
Suara tersebut berasal dari Bisma yang tengah bermain perang-perangan di laptopnya. ’’Des, des des,’’ katanya. Menirukan suaran tembakan dengan nada rendah. Sang ibu, Etik Sabtiniwati, duduk di sampingnya. ’’Ya begini kalau sedang liburan, refreshing main game,’’ ungkap perempuan 36 tahun itu. Etik, tampaknya, bangga dengan prestasi putranya.
Dia masih ingat betul kejadian Minggu siang (22/10) pada saat perayaan Hari Santri Nasional (HSN) di Stadion Gelora Delta Sidoarjo. Momen ketika putra sulungnya mendapat pelukan erat dan kado berupa kitab kuning Marah Labid dua jilid dari Rais Am PB NU KH Ma'ruf Amin. Kala itu Bisma didapuk sebagai salah satu santri berprestasi. Panitia telah menjaring beberapa nama. Nama Bisma merupakan salah satu yang berprestasi. Dia termasuk bocah ’’ajaib’’. Dia mampu menghafal Alquran di usia yang masih dini.
Dia dipanggil ke atas panggung, lantas duduk bersama para ulama dan sejumlah kiai khos. Di hadapan ribuan santri dari berbagai daerah, dia mendapat tepuk tangan yang begitu meriah. Panitia maupun KH Ma'ruf Amin menilai Bisma sebagai salah satu penerus ulama atas kecakapannya tersebut. Dia dianggap mempunyai kemampuan di atas rata-rata. Di usia delapan tahun, dia mampu menghafal seisi surah dalam Alquran. Kini, ketika usianya hendak melewati 10 tahun, bocah itu mampu menghafal tiga kitab penting di lingkungan ulama. Yakni, alfiah, arbain nawawi, bulughul maram.
Kitab alfiah memuat tanda baca kitab kuning dan cara mengartikan bait-bait hadis. Kitab arbain nawawi merupakan kumpulan 42 hadis atau petuah pilihan para ulama tentang permasalahan pelik agama.
Sementara itu, kitab terakhir, bulughul maram, memuat kumpulan hadis yang sering dijadikan landasan berpikir atau fikih para intelektual muslim. Sebagai bocah cilik yang masih berusia 10 tahun, dia mampu menghafal tiap poin dalam kitab-kitab tersebut. ’’Terharu rasanya, nggak nyangka anak saya punya prestasi seperti itu,’’ tuturnya.
Seminggu sebelum perayaan HSN, Etik maupun Bisma tidak memiliki firasat apa pun. Undangan untuk hadir dalam HSN sudah dikantongi. Bisma dan keluarga hadir memenuhi undangan. Namun, Bisma dan keluarga tidak menyangka akan mendapat durian runtuh berupa kado dan ucapan selamat dari Rais Am PB NU KH Ma'ruf Amin. ’’Duh, saya kira cuma hadir dan duduk aja. Eh, ternyata,’’ lanjut Etik.
Saban hari Bisma menimba pengetahuan akademik dan agama di Pondok Pesantren (Ponpes) Yanbu'ul Quran, Kudus. Sudah lima tahun belakangan dia mengasah berbagai ilmu pengetahuan di sana. Di lingkungan ponpes, Bisma dikenal sebagai salah satu santri yang cerdas. Di bidang pendidikan agama, rapornya tidak pernah lepas dari peringkat pertama. ’’Selalu juara satu, itu termasuk nilai menghafal Alquran dan kitab,’’ kata Etik.
Di bidang akademik, Bisma tidak kalah cakap. Namanya kerap nangkring di posisi 10 besar siswa berprestasi di kelasnya. Prestasi tersebut diraih sejak duduk di bangku kelas I madrasah ibtidaiyah (MI).
Etik menambahkan, sejak kelahiran Bisma, dirinya begitu menginginkan keturunan yang cakap di bidang akademik dan spiritual. Terutama generasi penghafal Alquran. Karena itu, perempuan yang mendapat gelar sarjana di bidang akuntansi dari Universitas Dr Sutomo tersebut memilih menyekolahkan sang buah hati di ponpes. Harapannya, pembelajaran di ponpes bisa membentuk karakter dan kemampuan sang anak sesuai dengan yang diinginkan. ’’Bukan cuma Bisma. Saya ingin semua anak saya hafal Alquran,’’ ungkapnya.
Pasangan Etik dan Ismail dikaruniai tiga buah hati. Selain Bisma, dua lainnya adalah Muhammad Alimudin Saidullah, 7, dan Ahmad Hilmi Sarifullah, 2. Sama seperti Bisma, Alimudin juga menempuh sekolah tahfidz atau penghafal Alquran, tetapi beda tempat. Alimudin kini tercatat sebagai santri Ponpes Al-Munawwariyyah, Malang.
Etik mengisahkan, saat mengandung maupun setelah melahirkan, dirinya tidak merasakan sesuatu yang berbeda. Anaknya tumbuh normal sebagaimana bocah lain yang menyukai es krim, cokelat, dan sepak bola. Bahkan, mereka juga kadang merengek ketika minta mainan. Etik baru menyadari bahwa anaknya memiliki kelebihan ketika selesai mengaji pada suatu malam. Dia merasa Bisma kecil punya kemampuan yang luar biasa dalam mengingat.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
