alexametrics

Roja Muhammad Bisma, Santri Cilik Berprestasi pada HSN 2017

30 Oktober 2017, 11:50:14 WIB

Bukan tanpa sebab Roja Muhammad Bisma Rohmatullah didapuk sebagai santri berprestasi di Stadion Gelora Delta Sidoarjo pekan lalu. Bisma, panggilan akrabnya, memang santri yang cukup istimewa.

JOS RIZAL, Sidoarjo

RUMAH bercat biru di RT 4, RW 2, Desa Tebel Barat, Gedangan, Sidoarjo, itu tampak seperti taman kanak-kanak. Ada sentuhan tangan bocah-bocah di beberapa dindingnya. Berupa goresan krayon maupun pensil.

Kesan cerah semakin terasa di dalam rumah. Juga, terasa edukatif. Ada poster nama-nama hewan pemakan daging, poster dinosaurus mini, tabel aksara Arab, hingga tokoh-tokoh kartun terkenal. Ketika Jawa Pos bertandang, suasana saat itu cukup ramai dengan suara tembak-tembakan.

Suara tersebut berasal dari Bisma yang tengah bermain perang-perangan di laptopnya. ’’Des, des des,’’ katanya. Menirukan suaran tembakan dengan nada rendah. Sang ibu, Etik Sabtiniwati, duduk di sampingnya. ’’Ya begini kalau sedang liburan, refreshing main game,’’ ungkap perempuan 36 tahun itu. Etik, tampaknya, bangga dengan prestasi putranya.

Dia masih ingat betul kejadian Minggu siang (22/10) pada saat perayaan Hari Santri Nasional (HSN) di Stadion Gelora Delta Sidoarjo. Momen ketika putra sulungnya mendapat pelukan erat dan kado berupa kitab kuning Marah Labid dua jilid dari Rais Am PB NU KH Ma’ruf Amin. Kala itu Bisma didapuk sebagai salah satu santri berprestasi. Panitia telah menjaring beberapa nama. Nama Bisma merupakan salah satu yang berprestasi. Dia termasuk bocah ’’ajaib’’. Dia mampu menghafal Alquran di usia yang masih dini.

Dia dipanggil ke atas panggung, lantas duduk bersama para ulama dan sejumlah kiai khos. Di hadapan ribuan santri dari berbagai daerah, dia mendapat tepuk tangan yang begitu meriah. Panitia maupun KH Ma’ruf Amin menilai Bisma sebagai salah satu penerus ulama atas kecakapannya tersebut. Dia dianggap mempunyai kemampuan di atas rata-rata. Di usia delapan tahun, dia mampu menghafal seisi surah dalam Alquran. Kini, ketika usianya hendak melewati 10 tahun, bocah itu mampu menghafal tiga kitab penting di lingkungan ulama. Yakni, alfiah, arbain nawawi, bulughul maram.

Kitab alfiah memuat tanda baca kitab kuning dan cara mengartikan bait-bait hadis. Kitab arbain nawawi merupakan kumpulan 42 hadis atau petuah pilihan para ulama tentang permasalahan pelik agama.

Sementara itu, kitab terakhir, bulughul maram, memuat kumpulan hadis yang sering dijadikan landasan berpikir atau fikih para intelektual muslim. Sebagai bocah cilik yang masih berusia 10 tahun, dia mampu menghafal tiap poin dalam kitab-kitab tersebut. ’’Terharu rasanya, nggak nyangka anak saya punya prestasi seperti itu,’’ tuturnya.

Seminggu sebelum perayaan HSN, Etik maupun Bisma tidak memiliki firasat apa pun. Undangan untuk hadir dalam HSN sudah dikantongi. Bisma dan keluarga hadir memenuhi undangan. Namun, Bisma dan keluarga tidak menyangka akan mendapat durian runtuh berupa kado dan ucapan selamat dari Rais Am PB NU KH Ma’ruf Amin. ’’Duh, saya kira cuma hadir dan duduk aja. Eh, ternyata,’’ lanjut Etik.

Saban hari Bisma menimba pengetahuan akademik dan agama di Pondok Pesantren (Ponpes) Yanbu’ul Quran, Kudus. Sudah lima tahun belakangan dia mengasah berbagai ilmu pengetahuan di sana. Di lingkungan ponpes, Bisma dikenal sebagai salah satu santri yang cerdas. Di bidang pendidikan agama, rapornya tidak pernah lepas dari peringkat pertama. ’’Selalu juara satu, itu termasuk nilai menghafal Alquran dan kitab,’’ kata Etik.

Di bidang akademik, Bisma tidak kalah cakap. Namanya kerap nangkring di posisi 10 besar siswa berprestasi di kelasnya. Prestasi tersebut diraih sejak duduk di bangku kelas I madrasah ibtidaiyah (MI).

Etik menambahkan, sejak kelahiran Bisma, dirinya begitu menginginkan keturunan yang cakap di bidang akademik dan spiritual. Terutama generasi penghafal Alquran. Karena itu, perempuan yang mendapat gelar sarjana di bidang akuntansi dari Universitas Dr Sutomo tersebut memilih menyekolahkan sang buah hati di ponpes. Harapannya, pembelajaran di ponpes bisa membentuk karakter dan kemampuan sang anak sesuai dengan yang diinginkan. ’’Bukan cuma Bisma. Saya ingin semua anak saya hafal Alquran,’’ ungkapnya.

Pasangan Etik dan Ismail dikaruniai tiga buah hati. Selain Bisma, dua lainnya adalah Muhammad Alimudin Saidullah, 7, dan Ahmad Hilmi Sarifullah, 2. Sama seperti Bisma, Alimudin juga menempuh sekolah tahfidz atau penghafal Alquran, tetapi beda tempat. Alimudin kini tercatat sebagai santri Ponpes Al-Munawwariyyah, Malang.

Etik mengisahkan, saat mengandung maupun setelah melahirkan, dirinya tidak merasakan sesuatu yang berbeda. Anaknya tumbuh normal sebagaimana bocah lain yang menyukai es krim, cokelat, dan sepak bola. Bahkan, mereka juga kadang merengek ketika minta mainan. Etik baru menyadari bahwa anaknya memiliki kelebihan ketika selesai mengaji pada suatu malam. Dia merasa Bisma kecil punya kemampuan yang luar biasa dalam mengingat.

Misalnya, setelah Etik rampung membaca ayat-ayat suci Alquran, Bisma kecil bisa menirukannya. Yang ditirukan nyaris sempurna. Etik sendiri kerap dibuat tercengang kala mendengarkan ayat-ayat yang dibacakan Bisma yang saat itu berusia empat tahun.

Sejak saat itu Bisma tidak pernah absen dilatih untuk mengaji dan menghafal Alquran. Ayah dan ibunya sendiri yang mengajar mengaji setiap malam. Ketika usianya lima tahun, Bisma sudah mampu menghafal puluhan surat-surat pendek dalam Alquran.

Siang itu Bisma juga memperagakan kemampuannya membaca Alquran secara acak. Sembari terus memainkan game, Bisma dengan lancar membaca surah Al-Mulk. Surat ke-67 tersebut diminta dibaca secara acak. Begitu pula ketika diminta membaca surah Ar-Rum. Dia dengan lancar mengutip surat tersebut.

Etik menyatakan, baru kali ini anggota keluarganya mengenyam pendidikan pesantren. Padahal, Bisma tidak memiliki pendahulu dari alim ulama. Apalagi berkecimpung di bangku pesantren. ’’Terlebih bisa menghafal Alquran,’’ paparnya.

Kini Etik lebih percaya pada pendidikan pesantren daripada pendidikan formal. Menurut dia, pendidikan pesantren lebih unggul dalam membentuk karakter individu. Pesantren memberikan segala pengetahuan yang diperlukan anak-anaknya dalam menjalani hidup kelak saat dewasa. Tidak melulu pelajaran berhitung yang mengutamakan ganti rugi, tetapi juga pelajaran untuk menjadi orang yang ikhlas berbakti pada sesama.

Ibu rumah tangga itu yakin bahwa anak yang mengenyam pendidikan di pesantren memiliki keunggulan khusus. Yakni, kebaikan yang terus mengalir. Jauh dalam benaknya, Etik menyatakan bahwa ada tiga amalan yang tidak akan putus ketika dirinya berpulang. Yakni, amal jariah, ilmu yang bermanfaat, dan keturunan atau anak saleh yang tidak henti-hentinya mendoakan orang tua. ’’Saya percaya anak-anak saya nanti akan pintar mendoakan saya dan buyut-buyutnya,’’ ungkap Etik dengan penuh percaya diri.

Untuk membentuk karakter anak yang berbakti dan berprestasi, Etik tidak pernah menuntut banyak hal. Hanya satu yang tidak bisa ditawar. Yakni, disiplin waktu. Kepada tiga buah hatinya, Etik mengajarkan cara memaknai waktu. Mereka harus mengerti kapan harus bermain, makan, dan beribadah.

Etik juga memberikan banyak bahan bacaan di luar kitab-kitab berbau agama. Misalnya, komik. Tujuannya, sang buah hati tidak jenuh dengan budaya membaca. Dia ingin menanamkan budaya literasi yang kuat sejak dini. Bisma dan adik-adiknya wajib menyukai membaca meski hanya sekian menit.

Bisma sendiri menyukai komik Naruto. Selain ngetren dan disukai banyak kalangan, komik karangan Mashashi Kishimoto itu banyak mengajarkan seseorang agar tidak mudah putus asa dalam menggapai cita-cita. Orang tuanya berharap nilai-nilai semangat mengejar cita-cita itu ada dalam benak Bisma sejak dini.

Lantas, apa sebenarnya cita-cita Bisma? ’’Pengin jadi penembak,’’ ucapnya singkat. Dia menjawab dengan tatapan serius pada laptop dan terus bermain perang-perangan. Tidak menghiraukan siapa pun di sekitarnya. Khas bocah seusianya.

Editor : admin

Reporter : (*/c15/ano)




Close Ads
Roja Muhammad Bisma, Santri Cilik Berprestasi pada HSN 2017