alexametrics
Cerita Minggu

Mengantar Lalu Muhammad Zohri Menuju Level Dunia

Butuh Setidaknya Pangkas Waktu 0,09 Detik
27 Mei 2019, 00:13:52 WIB

Ikut serangkaian kejuaraan bermutu adalah salah satu jalan yang disiapkan untuk Lalu Muhammad Zohri menuju Olimpiade 2020. Tapi, untuk jangka panjang, dia berharap bisa kuliah dan berlatih di Amerika Serikat.

RAGIL P.I., JakartaNURIS A.P., Surabaya

DARI lintasan aspal di pelosok Lombok Utara yang panas itu, lahir seorang buyung yang nyaris mempecundangi seorang juara dunia.

Hanya satu “kedipan mata” selisih di antara mereka.

Dan, 1 tahun 2 bulan dari sekarang, si buyung tersebut, Lalu Muhammad Zohri, akan bertemu kembali dengan sang juara dunia itu, Justin Gatlin. Di pentas tertinggi olahraga: Olimpiade. Akankah di Tokyo, Jepang, kelak itu, selisih satu kedipan mata tersebut sudah terlampaui?

“Saya fokus latihan lebih disiplin saja. Selain itu, nggak boleh cepat puas dengan prestasi,” kata Zohri dalam latihan rutin di Stadion Madya, Jakarta, Kamis (23/5) lalu.

Dalam Seiko Osaka Golden Grand Prix 2019 pada Minggu (19/5) lalu, Zohri finis ketiga dengan catatan waktu 10,03 detik. Pemuda dari Desa Pamenang Barat, Nusa Tenggara Barat, tersebut hanya 0,03 detik di belakang Gatlin, juara dunia 2005 dan 2017 sekaligus perebut emas Olimpiade 2004.

Raihan itu mengantarkan Zohri -yang baru akan genap berusia 19 tahun pada 1 Juli nanti- ke Olimpiade Tokyo 2020. Juara dunia junior tersebut jadi atlet Indonesia pertama -sekaligus satu-satunya sejauh ini- yang telah memastikan tiket.

Pelari 100 meter putra Indonesia, Lalu Muhammad Zohri. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)

Di Olimpiade nanti, sudah pasti Zohri akan berhadapan dengan banyak “Gatlin” lain dari berbagai penjuru bumi. Para atlet kelas wahid yang akan bersaing di nomor mahkota atletik: 100 meter.

Catatan 10,03 detik itu ekselen untuk ukuran pelari yang baru tiga tahun serius menjadi sprinter dan baru 1,5 tahun bergabung di pelatnas. Tapi, kalau mau berbicara di Olimpiade nanti, minimal masuk final, apalagi medali, Zohri masih harus bekerja sangat, sangat, keras.

Sebagai gambaran, dalam Olimpiade Rio de Janeiro tiga tahun lalu, untuk bisa masuk lima besar babak final, minimal harus mencapai waktu 9,94 detik. Sementara itu, medali perunggu diperoleh dalam waktu 9,91 detik. Kalau hasil di Rio tersebut yang jadi acuan, artinya dengan personal best 10,03 detik, Zohri perlu memangkas waktu 0,09 detik lagi. Untuk bisa berharap soal medali.

Tapi, jangan salah, memangkas 0,09 detik di atletik itu tidak gampang. Rekornas 100 meter yang dicatat Mardi Lestari pada PON 1989 di Jakarta, misalnya, baru bisa dipecahkan Suryo Agung Prabowo 20 tahun kemudian dalam SEA Games di Laos dengan 10,17 detik.

Bayangkan, dua dekade, hanya maju 0,03 detik. Sebelum dipecahkan Zohri di kejuaraan Asia di Doha, Qatar, April lalu dengan 10,15 detik. Kemudian dia perbaiki lagi di Osaka.

Lalu, apa yang bisa dilakukan agar modal Zohri sekarang ini bisa dikapitalisasi di Olimpiade nanti? Pelatih sprinter di pelatnas Eni Nuraeni menyatakan tidak ingin terlalu membebani anak didiknya tersebut. Meski begitu, dia tetap memberikan program yang lebih spesifik.

Lalu Muhammad Zohri ketika tampil di babak final nomor 100 meter putra Asian Games 2018 lalu. (Jawa Pos Photo)

“Yang jelas menyesuaikan dengan usia. Selanjutnya fokus bagaimana meningkatkan kecepatan, kekuatan, dan daya tahan,” kata pelatih yang mendapat gelar pelatih terbaik Asia 2019 itu.

Dilihat dari hasil Osaka lalu, Eni melihat Zohri sudah memiliki mental yang bagus untuk bersaing. Anggota tim estafet 4 x 100 yang merebut perak di Asian Games 2018 tersebut cukup enjoy berlari bersama Gatlin. “Saya tentu berharap dia (Zohri) bisa berlari di bawah 10 detik. Karena peluangnya (untuk berprestasi, Red) lebih besar jika bisa mencapai itu,” ucap Eni.

Untuk kompetisi, jadwal terdekat Zohri adalah turun di Grand Prix Asia 2019 di Chongqing, Tiongkok, pada 4-7 Juni mendatang. Setelah itu dia juga mengikuti Kejuaraan Dunia Atletik 2019 di Doha, Qatar, pada 9 September hingga 6 Oktober.

Eni juga berharap Zohri bisa tampil dalam Diamond League, seri tahunan kompetisi atletik kelas wahid. “Turnamen itu (Diamond League) kan bersifat undangan. Melihat waktunya yang kemarin di Osaka, ada kemungkinan Zohri bisa ikut,” ucapnya.

Di sisi lain, PB PASI juga belum berencana mengirim Zohri untuk menimba ilmu ke luar negeri. “Mengirim berlatih ke luar negeri secara berkala itu bagus. Tapi, untuk menyekolahkan, itu bukan persoalan yang sederhana,” tutur Sekjen PB PASI Tigor Tanjung.

Padahal, itu yang sebenarnya diharapkan Zohri sendiri. Dia bercita-cita, jika bisa terlepas dari kendala bahasa, ingin menimba ilmu sebanyak-banyaknya di luar Indonesia. “Saya mau ke Amerika Serikat. Kalau bisa sekolah di sana, kuliah di sana, sampai latihan di sana juga.”

Yang bisa dilakukan PASI kini ialah memperbanyak program dengan mengirim Zohri mengikuti kejuaraan internasional yang bermutu. Dengan begitu, mental bertandingnya bisa kian berkembang. Juga kelemahan teknis lainnya, misalnya teknis start.

Lalu Muhammad Zohri bersama atlet kontingan Asian Games 2018 saat dilepas untuk berlaga. (Miftahulhayat/Jawa Pos)

Tapi, cukupkah itu? Suryo Agung menilai Zohri sepatutnya dibiarkan berkembang step-by-step. Sesuai tahap biologisnya. Jadi, Olimpiade tahun depan sebaiknya dimanfaatkan untuk menimba pengalaman sebanyak-banyaknya. “Baru untuk tahun 2024 bisa matang persiapannya,” kata Suryo yang mewakili Indonesia di Olimpiade 2008 Beijing.

Di Stadion Madya, pada Kamis lalu itu, Zohri tak tampak terbebani oleh besarnya sorotan serta ekspektasi yang mungkin mulai muncul sejak keberhasilannya merebut tiket Olimpiade. Dia tetap seperti Zohri yang dulu: santai, doyan bercanda, dan sedikit pemalu.

Zohri juga tidak segan selalu bertanya kepada tim pelatih tiap kali ada kesempatan. “Setelah itu langsung saya praktikkan. Biar saya nggak terus melakukan kesalahan yang sama,” katanya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (*/c9/ttg)



Close Ads