
Photo
JawaPos.com - Pemilu serentak tahun ini memang banyak menelan korban. Cukup banyak petugas penyelenggara pemilu yang meninggal dan sakit akibat kecapean. Bahkan, hingga kini, petugas yang jatuh sakit dan meninggal karena mengurus Pemilu terus bertambah. Hingga kini Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI mencatat petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang meninggal dan sakit selam menjalankan tugas bertambah. Tercatat jumlah yang meninggal sebanyak 225 orang dan sakit 1.470 orang.
Yogi Wahyu, Jakarta
Banyak surat suara yang harus dihitung membuat petugas KPPS harus bekerja ekstra. Inilah yang membuat banyak penyelenggara Pemilu tumbang karena sakit, bahkan ada yang sampai mengalami keguguran. Seperti yang dialami oleh Ketua KPPS TPS 110 Kelurahan Lagoa, Koja Dini Amaliah, 37.
Dini tidak pernah menyangka dirinya menjadi Ketua KPPS akan berujung duka. Janin 5 minggu yang dikandungnya akhirnya meninggal dunia usai dia kelelahan bertugas dalam pesta demokrasi 17 April lalu. Dini pun hanya pasrah serta berharap pengorbanan dirinya akan sepadan untuk kedamaian bangsa Indonesia pasca-pemilu.
Selain Dini di Koja, seorang ibu bernama Imas Maesaroh, 40, di Kelurahan Grogol, Jakarta Barat, juga harus keguguran usai bertugas sebagai KPPS. Keduanya mengalami keguguran di hari yang sama yakni Minggu (21/4) lalu.
Dini menjelaskan, tiga hari sebelum pemungutan suara ia harus mondar-mondir mengurus persiapan seperti membagi undangan dan naik turun tangga di Kantor Kelurahan. Saat itu Dini belum mengetahui bahwa dirinya hamil. Di tanggal 15 April 2019, ia bersama suami memutuskan untuk pergi ke bidan untuk cek. Hasilnya, dokter memberitahu bahwa ia positif 80 persen hamil.
" Saya baru tahu positif hamil itu tanggal 15 April. Emang tetangga sudah bilang kalau kondisi badan saya ada perubahan. Tapi saya belum berani cek saat itu," kata Dini saat ditemui di kediamannya di Jl Mangga Blok A gang 1, Lagoa, Koja, Jakarta Utara, kemarin (26/4).
Saat itu, kata Dini, ia berfikiran untuk tidak melanjutkan sebagai petugas KPPS. Namun, susahnya mencari pengganti ditambah posisinya sebagai ketua, ia terpaksa harus melanjutkan. Untuk memastikan kondisi janin dan kesehatannya, Dini sampai konsultasi ke empat dokter. Hasilnya, dokter mengatakan tidak apa-apa dengan catatan harus banyak minum vitamin.
"Saya Bismillah aja. Semua baik-baik saja. Tapi ternyata Allah berkehendak lain," tuturnya.
Ketua KPPS TPS 110 Kelurahan Lagoa, Koja Dini Amaliah, 37, mengalami keguguran saat bertugas. (Yogi Wahyu/ Jawa Pos)
Imas Maesaroh, 40, anggota KPPS TPS 04 Kelurahan Grogol, Jakarta Barat (Yogi Wahyu/ Jawa Pos)
Dikatakan Dini, ia merasa kondisi perut sakit ketika sekitar jam 3 pagi mengantar kotak suara ke Gelanggang Remaja Kecamatan Koja. Saat itu kondisi sudah capek dan muka pucat. Setelah tanda tangan, ia pun segera pulang ke rumah. Sesampai di rumah Dini sudah mulai berasa capek dan keluar lah flek-flek. Kemudian Dini langsung kontrol ke dokter. Dini dianjurkan untuk istirahat karena kecapean dan diberi obat penguat.
"Ternyata mungkin penguatnya sama rahim saya memang lemah. Udah dikasih penguat supaya tidak pendarahan ternyata masih keluar memang itu sudah kecapean banget," ujarnya.
Kondisi flek tersebut terus terjadi, hingga pada hari Minggu (21/4) pagi anak yang sudah delapan tahun ditunggu-tunggu keluar sebelum waktunya. Suami Dini yang melihat hal itu segera membawanya ke RSUD Tugu Koja. Meski dokter menyarankan untuk dirawat, namun Dini lebih memilih untuk pulang.
"Keluarnya hari minggu. (Perut) dielus-elus sama suami sambil baca Al Fatiha sampai 100 kali, terus keluar (janin). Janin sudah saya kubur di depan rumah," kata Dini sambil menetekan air mata.
Saat ditemui dirumahnya, Dini mengaku masih merasakan nyeri. Hingga saat ini, ia masih melakukan kontrol ke dokter setiap hari kamis. Dini mengaku merasa sedih dengan musibah yang tengah menimpanya. Bagaimana tidak, setelah 8 tahun menunggu kehamilan anak pertamanya, namun baru 5 minggu sudah meninggal. Tidak hanya itu, suami dan keluarga besarnya pun ikut bersedih bahkan merasa kecewa.
"Saya berhati-hari nangis dengan suami. Nunggu 8 tahun, tapi setelah dikasih saya malah teledor," katanya.
Dini juga mengkritik Pemilu tahun ini dianggapnya berantakan. Sebab, semuanya serba dadakan. Ia mencontohkan terkait pemberian ATK (alat tulis kantor). Di Pemilu sebelumnya ATK diberikan sehari sebelum pemungutan. Sedangkan tahun ini, ATK diberikan pagi sebelum pemungutan. Kemudian kotak suara sekarang banyak dan ribet.
"Jadi selama pemilu saya ngga istirahat-istirahat. Tiga hari sebelum pemilu jalan terus. Pas pemungutan suara juga istirahat paling sholat dan makan. Pokoknya pemilu sekarang menurut saya berantakan," ungkapnya.
Meski sempat bersedih atas peristiwa tersebut, namun Dini berusaha tegar dan menerima dengan ikhlas apa yang sudah dialaminya. "Saya sudah ikhlas, karena saya niatnya ibadah. Semua sudah kehendak Allah," tuturnya.
Sama halnya dengan Imas Maesaroh. Ia harus kehilangan anak keempatnya karena kecapean saat pemungutan suara tanggal 17 April lalu. Ia harus kerja ekstra mempersiapkan properti untuk pelaksanaan pemilu. Imas yang tinggal di bawah harus naik turun dari rumah menuju TPS 04. Ini kali pertamanya ia menjadi petugas KPPS.
Photo
Rekapitulasi Surat Suara Pemilu 2019 Tingkat Kecamatan. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)
"Itu tanggal 16 saya ikut menyiapkan tenda dan pulang ke rumah tengah malam. Paginya lanjut mempersiapkan yang lainnya dan harus naik turun. Kan posisi TPS nya ada di atas. Udah gitu ngga ada jeda waktu istirahat. Paling makan dan sholat doang," katanya.
Janin yang ada didalam perut Imas berusia 7 minggu. Ia mulai merasa sakit dan nge flek pada hari Sabtu (20/4) dan keesokan harinya keguguran. Oleh keluarga, Imas dipadukan ke Rumah Sakit Ibu dan Anak Ibnu Sina. Saat di cek, kondisi perut sudah tidak ada janin.
"Kata dokter karena kecapean," terangnya.
Imas sendiri tidak konsultasi dengan dokter terkait kondisi kandungannya. Sebab, ada satu temannya yang senasib yakni hamil. Namun, berbeda dengan dirinya yang harus keguguran, kondisi kehamilan temannya tidak apa-apa. "Saya ngga konsultasi ke dokter soal kondisi tubuh. Bahkan ada teman juga yang lagi hamil itu ngga apa," tuturnya.
Terpisah, Ketua KPU Jakarta Utara Abdul Bahder Maloko mengatakan, pihaknya sudah menerima laporan adanya petugas KPPS yang mangalami keguguran. Ia juga menegaskan petugas yang mengalami keguguran atau sakit akan mendapatkan santunan. Pasalnya, pihaknya sudah melapor ke DKI dan tindaklanjut ke Provinsi.
"Kita sudah mendata dan melaporkan petugas yang keguguran atau sakit. Saat ini kita tinggal menunggu. Mungkin nunggu jadwal. Besok pagi kita akan jenguk," jawabnya singkat.
Photo
Photo

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
