Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 15 Juli 2024 | 17.59 WIB

Cegah Kekerasan Murid sejak MPLS

Kedua, pendekatan edukasi. Pelaksanaan MPLS menjadi momentum bagi sekolah untuk melakukan sosialisasi tata tertib dan kebijakan mengenai pencegahan dan penanganan kekerasan di sekolah. Target dari pendekatan ini bukan hanya warga sekolah, tetapi juga orang tua melalui kegiatan parenting.

Sebagai bagian dari penguatan karakter, nilai-nilai dari konsensus dasar bangsa, yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika, seharusnya menjadi bagian materi yang disampaikan selama MPLS.

Nilai-nilai tersebut meliputi religiusitas, kekeluargaan, keselarasan, kerakyatan, keadilan, demokrasi, kesamaan derajat, ketaatan hukum, kesatuan wilayah, persatuan bangsa, kemandirian, toleransi, keharmonisan, dan gotong royong.

Implementasi nilai konsensus dasar dapat dilakukan dengan beragam strategi kreatif. Di antaranya melalui dialog, bermain peran, deklarasi anti kekerasan, dan kampanye anti kekerasan di media sosial.

Ketiga, penyediaan sarana dan prasarana. Pendekatan ini memungkinkan kolaborasi sekolah dengan berbagai pihak untuk menyediakan sarana pembelajaran yang aman dan nyaman bagi peserta didik dan juga bagi penyandang disabilitas.

Selanjutnya, sekolah secara konsisten harus mempromosikan budaya sekolah yang inklusif. Budaya saling menghargai dan menghormati sehingga setiap individu yang ada di sekolah merasa diterima oleh satu sama lain. Peningkatan peran tim TPPK, kolaborasi dengan lembaga, organisasi, dan berbagai komunitas sangat perlu untuk ditingkatkan.

Proses ini sesuai dengan yang ditulis oleh pakar ilmu perilaku Jason Hreha. Menurut dia, kebiasaan pada dasarnya adalah solusi yang dapat diandalkan untuk masalah-masalah yang berulang di sekitar kita (Clear, 2022). Artinya, pembekalan dan kebiasaan baik yang dibangun sejak MPLS dan dilakukan secara berkelanjutan dapat membongkar kebiasaan-kebiasaan buruk.

Tahun ajaran baru menjadi titik penting untuk mencegah kekerasan di sekolah. Sudah saatnya semua pihak ambil bagian dan berkolaborasi dalam mewujudkan pendidikan berkualitas tanpa kekerasan di sekolah. (*)


*) ABDUL MAJID HARIADI, Guru SMK Negeri 1 Sidoarjo dan fasilitator guru penggerak, sedang mengikuti Training of Trainers Nilai Kebangsaan Lemhannas RI

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore