
KETAHANAN PANGAN: Deretan lumbung padi bagai menyambut siapa pun yang berkunjung.
TRADISI menanam padi secara alami dan metode penyimpanan di leuit membuat warga Kasepuhan Sinar Resmi punya warisan berharga. Yakni, puluhan varietas padi lokal dengan cita rasa dan ciri yang unik.
Kepada Jawa Pos, Darsih menceritakan empat varietas padi yang tersimpan di leuit keluarganya. Perempuan 45 tahun yang lahir dan besar di kampung adat itu melestarikan cere manok, cere kawat, pare apel, dan sri kuning. "Kalau yang paling enak ya cere kawat. Pulen nasinya," ucapnya saat ditemui akhir bulan lalu.
Musim ini, Darsih dan suaminya memutuskan untuk tidak menanam cere kawat. Mereka menyemai benih pare apel. Alasannya, pare apel punya ketahanan paling tinggi terhadap kemarau panjang jika dibandingkan tiga varietas lainnya.
Abah Asep menyatakan, saat ini ada 68 varietas padi di Kasepuhan Sinar Resmi. Masing-masing punya nama dan karakteristik yang berbeda. Padi-padi itu tidak semuanya berwarna putih setelah menjadi nasi. Beberapa di antaranya berwarna kekuningan, merah, hitam, atau ungu saat dimasak. Padahal, secara fisik, tampilan padinya serupa. ’’Saya sendiri tidak tahu asal muasalnya. Mungkin perkawinan silang di alam. Yang jelas, leluhur kami mewariskan itu,’’ ungkapnya.
WARISAN LELUHUR: Empat perempuan memasak nasi dari beras hasil panen sendiri pada akhir bulan lalu. Kesepuhan Sinar Resmi mengembangkan varietas padi sendiri secara turun-temurun.
Abah Asep menyebutkan nama-nama unik varietas padi yang diinisiasi leluhurnya. Ada marilen, sri kuning, cere layung, raja denok, terong beureum, panca warna, sampai nemol. ’’Di sini, setiap keluarga punya minimal 3–4 varietas padi,’’ katanya.
Metode penyimpanan di leuit oleh warga juga menghasilkan padi yang tahan lama. Varietas padi yang dilestarikan masyarakat Kasepuhan Sinar Resmi tetap layak dikonsumsi meski telah disimpan belasan hingga puluhan tahun.
Itu lantaran konsep adat tidak memperbolehkan warga mengambil padi di dasar leuit. Simpanan padi yang diambil haruslah dari atas. Dengan demikian, yang di bawah akan tersimpan semakin lama karena terus tertumpuk panenan baru. ’’Kemarin saya baru masak beras dari padi yang usianya sudah 50 tahun,’’ ujar Abah Asep. Kendati sudah lama tersimpan, padi yang diambil dari leuit keluarga itu tetap sedap disantap.
Sejauh ini, baru 12 varietas padi Kasepuhan Sinar Resmi yang tersertifikasi. Itulah yang menjadi kegelisahan Abah Asep. Dia berharap ada peneliti yang membantu mengidentifikasi varietas padi yang dilestarikan di kampung adat tersebut sejak zaman nenek moyang. Itu supaya warisan Kasepuhan Sinar Resmi tidak lenyap begitu saja ditelan zaman. (elo/c18/hep)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Awas Macet! Besok Ribuan Buruh Demo May Day di Surabaya, Ini Jalan yang Perlu Dihindari
