
SALING BERBAGI: Abhi Praya membagikan cara berkomunikasi dengan teman tuli di Royal Plaza, Surabaya (23/9).
Abhi Praya Merayakan Hari Bahasa Isyarat Internasional 2023 dengan Mengisi Kelas Bisindo
Abhi Praya memang menjadi tutor bisindo, selain memaksimalkan ekspresi dan gestur saat mendongeng. Lewat mengajar dan beragam kegiatannya, dia ingin menunjukkan bahwa kekurangannya bukan halangan dan turut mendorong teman tuli berani tampil.
LAILATUL FITRIANI, Surabaya
---
ABHI Praya begitu bersemangat memperagakan gerakan abjad bahasa isyarat Indonesia (bisindo). Senyum tak pernah lepas dari wajahnya. Dia gembira melihat banyaknya peserta yang hadir, baik dari teman tuli maupun teman dengar.
”Ada lebih dari 100 orang yang ikut. Semoga teman dengar dapat ilmu dari teman tuli dan mau terus belajar,” ujarnya setelah mengisi kelas bisindo dasar untuk memperingati Hari Bahasa Isyarat Internasional di Royal Plaza, Surabaya, Sabtu (23/9).
Sehari-hari, pemilik nama lengkap Abhi Praya Ifander Rafi itu memang mengajar bisindo untuk anak-anak tuli. Dia bergabung di Pusat Bahasa Isyarat Indonesia (Pusbisindo) sejak Maret tahun lalu sebagai salah seorang tutor.
”Mengajarnya online dan offline di mana-mana. Kemarin Juni sampai Agustus ada kelas offline di Paco,” ungkap pemuda 22 tahun tersebut.
Selain menyibukkan diri mengajar bisindo, Abhi aktif berkeliling dari satu tempat ke tempat lain untuk mendongeng. Awalnya, dia belajar mendongeng secara otodidak berangkat dari kegemarannya membaca buku.
Skill mendongengnya semakin berkembang setelah bertemu dengan pendongeng sekaligus pegiat literasi Bunda Inge. ”Dongeng favorit yang sering saya bawakan itu ada Aku Bisa, Kelinci dan Kura-Kura, Timun Mas, sama Bawang Merah Bawang Putih,” papar pendongeng tuli asal Surabaya tersebut.
Abhi memaksimalkan ekspresi dan gesturnya saat mendongeng. Diharapkan, cerita yang dia bawakan dapat tersampaikan. Ada juru bahasa isyarat pula yang membantu menerjemahkan. ”Biasanya, saya juga membantu teman tuli jadi MC acara. Kalau MC, saya belajar sendiri,” kata Abhi.
Lewat berbagai aktivitasnya itu, dia ingin menunjukkan bahwa kekurangan yang dimiliki bukanlah penghalang. Abhi ingin teman tuli lainnya juga berani tampil.
Itu pula yang kemudian memotivasinya untuk mendirikan sebuah komunitas yang mampu mewadahi teman-teman tuli. Dengan dukungan founder Kumpul Dongeng dan tim bisindo, komunitas Cerita Teman Tuli (Tatuli) pun terbentuk. Tepat pada Hari Anak Nasional tahun lalu. ”Karena tuli harus berani dan percaya diri. Tidak boleh malu,” tegasnya.
Tak hanya sampai di situ, beberapa kali dia juga melakukan advokasi untuk memperjuangkan hak-hak teman tuli. Advokasi tuli pertamanya dilakukan bersama Gerakan untuk Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia (Gerkatin) Kota/Kabupaten Kediri, Jawa Timur, pada Juli lalu.
Sebelum melakukan presentasi tersebut, Abhi mengikuti pelatihan advokasi tuli dan hak bahasa isyarat di Jakarta selama satu minggu dengan Gerkatin dan WFD (World Federation of the Deaf). ”Saya ingin mengajak teman-teman berani menyuarakan haknya kepada pemerintah untuk akses tuli,” tuturnya.

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
