Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 19 Juli 2023 | 18.17 WIB

Supersoccer Arena, Kudus, dan Ikhtiar Turut Membangun Sepak Bola Putri

Menyalurkan bakat-bakat atlet ke akademi ataupun klub itulah yang membedakan PB Djarum di sepak bola putri tersebut dengan di badminton. ’’Kalau di bulu tangkis, karena kami sudah punya klub, kami ambil dari klub-klub kecil yang lain atau mungkin individual gitu,’’ ujarnya.

Sementara itu, di sepak bola, pihaknya akan mengundang klub-klub untuk memantau dan melihat bakat. Jika berminat dengan pemain tertentu, dipersilakan ditarik.

Tania mengakui, pihaknya tidak memberikan beasiswa kepada pemain. Bantuan yang diberikan berupa fasilitas, coaching clinic, ataupun bantuan bola kepada sekolah-sekolah.

Pihaknya juga mengajak guru-guru SD, terutama di Kudus, mengikuti pelatihan dengan instruktur mantan pelatih Persiba Balikpapan Timo Scheunemann. Para guru akan diajari dasar-dasar bermain sepak bola untuk anak-anak sekolah dasar, termasuk bagaimana cara berkomunikasi.

Program lain, pihaknya mendatangkan pesepak bola putri tim nasional (timnas) untuk memberikan motivasi dan contoh. Cara seperti itu biasa dilakukan PB Djarum di badminton saat mencari bakat. ’’Jadi, ini sepak bola rasa badminton sebenarnya, hehehe,’’ tuturnya.

Sementara itu, President Director Djarum Foundation Victor Hartono menuturkan, salah satu keresahannya di sepak bola putri adalah melihat negara-negara tetangga Indonesia sudah bisa berlaga di Piala Dunia Sepak Bola Putri. Thailand di edisi 2019 serta Vietnam dan Filipina pada tahun ini.

’’Jadi, kalau teman-teman kita serumpun ini pada masuk semua, kok kita yang paling besar di Asia Tenggara belum masuk, sih? Dan, slotnya untuk Asia kalau di sepak bola putri itu lebih banyak daripada (Piala Dunia) putra, lho. Jujur saya iri,’’ tuturnya.

Victor meyakini, jika dikelola dengan baik, sepak bola putri bisa saja sangat menjanjikan. Momen pembangunan Supersoccer Arena diakuinya tak lepas dari lolosnya tim Asia Tenggara ke Piala Dunia. ’’Nggak harus jadi juaranya Asia Tenggara untuk ke Piala Dunia (putri). Top two saja sudah cukup kok,’’ ujarnya.

Mimpi besar lainnya adalah menyatukan bangsa lewat olahraga, seperti yang telah PB Djarum lakukan di badminton. ’’Kejayaan sport sudah terbukti membantu menyatukan negara. Kami memang mulai dari badminton dulu karena badminton tuh olahraga favorit orang Indonesia selain sepak bola,’’ katanya.

Dan, badminton terbukti bisa konsisten berprestasi tinggi. ’’Terus tinggal olahraga lain apa dan bidang apa yang kami bisa bantu berikutnya. Akhirnya sekarang turun tangan di sepak bola (putri),’’ tuturnya.

Harapannya, tentu prestasi sepak bola putri bisa meningkat. Sebagaimana harapan Asyifa dan kawan-kawannya yang begitu bersemangat berlatih sore itu. (*/c7/ttg)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore