Menyalurkan bakat-bakat atlet ke akademi ataupun klub itulah yang membedakan PB Djarum di sepak bola putri tersebut dengan di badminton. ’’Kalau di bulu tangkis, karena kami sudah punya klub, kami ambil dari klub-klub kecil yang lain atau mungkin individual gitu,’’ ujarnya.
Sementara itu, di sepak bola, pihaknya akan mengundang klub-klub untuk memantau dan melihat bakat. Jika berminat dengan pemain tertentu, dipersilakan ditarik.
Tania mengakui, pihaknya tidak memberikan beasiswa kepada pemain. Bantuan yang diberikan berupa fasilitas, coaching clinic, ataupun bantuan bola kepada sekolah-sekolah.
Pihaknya juga mengajak guru-guru SD, terutama di Kudus, mengikuti pelatihan dengan instruktur mantan pelatih Persiba Balikpapan Timo Scheunemann. Para guru akan diajari dasar-dasar bermain sepak bola untuk anak-anak sekolah dasar, termasuk bagaimana cara berkomunikasi.
Program lain, pihaknya mendatangkan pesepak bola putri tim nasional (timnas) untuk memberikan motivasi dan contoh. Cara seperti itu biasa dilakukan PB Djarum di badminton saat mencari bakat. ’’Jadi, ini sepak bola rasa badminton sebenarnya, hehehe,’’ tuturnya.
Sementara itu, President Director Djarum Foundation Victor Hartono menuturkan, salah satu keresahannya di sepak bola putri adalah melihat negara-negara tetangga Indonesia sudah bisa berlaga di Piala Dunia Sepak Bola Putri. Thailand di edisi 2019 serta Vietnam dan Filipina pada tahun ini.
’’Jadi, kalau teman-teman kita serumpun ini pada masuk semua, kok kita yang paling besar di Asia Tenggara belum masuk, sih? Dan, slotnya untuk Asia kalau di sepak bola putri itu lebih banyak daripada (Piala Dunia) putra, lho. Jujur saya iri,’’ tuturnya.
Victor meyakini, jika dikelola dengan baik, sepak bola putri bisa saja sangat menjanjikan. Momen pembangunan Supersoccer Arena diakuinya tak lepas dari lolosnya tim Asia Tenggara ke Piala Dunia. ’’Nggak harus jadi juaranya Asia Tenggara untuk ke Piala Dunia (putri). Top two saja sudah cukup kok,’’ ujarnya.
Mimpi besar lainnya adalah menyatukan bangsa lewat olahraga, seperti yang telah PB Djarum lakukan di badminton. ’’Kejayaan sport sudah terbukti membantu menyatukan negara. Kami memang mulai dari badminton dulu karena badminton tuh olahraga favorit orang Indonesia selain sepak bola,’’ katanya.
Dan, badminton terbukti bisa konsisten berprestasi tinggi. ’’Terus tinggal olahraga lain apa dan bidang apa yang kami bisa bantu berikutnya. Akhirnya sekarang turun tangan di sepak bola (putri),’’ tuturnya.
Harapannya, tentu prestasi sepak bola putri bisa meningkat. Sebagaimana harapan Asyifa dan kawan-kawannya yang begitu bersemangat berlatih sore itu. (*/c7/ttg)

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
