Maemunah,63, warga Jalan Duri Utara Gang Longar,Rt 008/005, Tambora, Jakarta Barat saat ditemui di depan rumahnya yang ikut terbakar pada Sabtu (8/7) lalu
Luka itu masih menganga. Bukan karena terluka fisiknya, namun hatinya karena harus kehilangan anak semata wayangnya yang meninggal karena kelelahan dan ikut terbakar, akibat membantu pemadaman api yang membakar pemukiman padat penduduk di lingkungan tempat tinggalnya.
Oleh: Tazkiyan Royyan, JawaPos.com
PUING-puing tembok bekas terbakar di pemukiman padat penduduk di Jalan Duri Utara Gang Longar, Rt 008/005, Tambora, Jakarta Barat, masih hancur berserakan pada Senin (10/7) lalu. Kosen-kosen yang terbuat dari kayu berubah menjadi arang.
Disudut gang, dengan mengenakan daster motif bunga dan kerudung pink, Maemunah, 63, duduk termenung di depan rumahnya yang ikut terbakar pada Sabtu (8/7) malam. Tatapan matanya kosong. Seolah tak percaya harus hidup sebatang kara, usai anaknya tewas dalam kebakaran besar yang melanda pemukiman yang ditinggalinya bertahun-tahun lamanya.
Afriyanto, 30, nama putranya. Pemuda itu harus meregang nyawa usai berjibaku dengan api yang membakar dari satu bangunan ke bangunan lain. Afriyanto tewas usai melawan asap yang menyebar di pemukiman, membumbung tinggi meluluhlantakan puluhan rumah permanen dan semi permanen.
Maemunah masih berkaca-kaca saat mengingat kepungan asap yang telah membuat anak semata wayangnya meninggal. Di sisi lain, ia juga merasa bangga dengan jiwa heroik Afriyanto.
Pasalnya, anaknya itu bukan meregang nyawa karena mencoba menyelamatkan rumahnya sendiri, tetapi juga saat menjadi relawan yang bergotong-royong dengan warga dan pemuda lain untuk memadamkan api yang sudah besar di rumah tetangga-tetangganya.
"Ini (Afriyanto) nolong yang di belakang. Ibu sudah (ngungsi) di sekolahan," ujarnya saat ditemui JawaPos.com di depan bangunan rumahnya yang hangus dibakar api, Senin (10/7) siang.
Maemumah tak begitu tahu bagaimana Afri berjibaku dengan panasnya api. Ia juga tak begitu tahu bagaimana anaknya berjibaku dengan asap yang tak berhenti. Hanya saja, berdasarkan cerita temannya, anaknya itu sempat terjatuh saat melakukan pemadaman.
"Menurut teman-temannya sempet jatuh, tapi dia bangun lagi," ucapnya lirih.
Ia baru melihat Afri sekitar pukul 22.00 WIB malam. Saat itu, Maemunah mengatakan anaknya itu datang dalam keadaan sudah dengan luka bakar di beberapa bagian tubuhnya.
"Belakang tubuhnya pada luka karena kena reruntuhan itu," katanya dengan nada mulai gemetar.
Air matanya mulai turun di pelupuk matanya. Maemunah berusaha tegar, tetapi kenangan anak semata wayangnya di masa-masa terakhir hidupnya membuat dirinya tak mampu menahan tangis.
Bagaimana tidak, di tengah badannya yang sudah penuh dengan luka, paru-parunya banyak menghirup asap bekas kebakaran, Afrianto justru mengatakan pada ibunya bahwa ia baik-baik saja.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
