Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 22 Mei 2023 | 19.43 WIB

Klik Sentuh dan Pindai, Bisa Belajar Beragam Arca serta Topeng Malangan

BERAGAM LAYANAN DIGITAL: Sayyid Maulana Fathir, salah seorang pengunjung Museum Mpu Tantular Jawa Timur di Sidoarjo, mencoba virtual reality (19/5). - Image

BERAGAM LAYANAN DIGITAL: Sayyid Maulana Fathir, salah seorang pengunjung Museum Mpu Tantular Jawa Timur di Sidoarjo, mencoba virtual reality (19/5).

Bergeser sedikit dari monitor e-museum, ada layar 50 inci yang tersambung dengan kacamata VR tadi. Selain kendi, ada empat benda lainnya dalam VR tersebut: patung primitif, lingga-yoni, arca Siwa, serta perhiasan emas Garudeya.

Satu lagi, di dalam ruang digital tersebut juga ada delapan kotak seperti keramik yang diletakkan di atas meja. Kotak tersebut berisi huruf dan gambar-gambar yang bisa dipindai. ”Ini augmented reality table. Kotaknya itu di-scan pakai tablet, nanti langsung keluar video dan gambar terkait koleksi benda bersejarah,” kata Puguh.

Abiyyu Wardana, pengunjung lain, mencoba augmented reality.

Karena ada delapan kotak, artinya ada delapan konten yang bisa dipindai dan dilihat dari monitor tablet. Di antaranya, ada patung Panji, cerita Bubuksah dan Gagangaking, serta topeng Malangan. ”Misalnya, terkait topeng Malangan, begitu di-scan kotaknya nanti di layar tablet langsung muncul video orang menari menggunakan topeng tersebut,” jelas Puguh.

Hudiyono menerangkan, untuk sementara AI digital dimanfaatkan untuk edukasi dan publikasi. Saat ini Pemprov Jatim melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Jatim juga telah memulai digitalisasi manuskrip turots atau kitab kuno. Pendigitalan manuskrip itu dilakukan ke berbagai pondok pesantren di Jatim. Banyak kitab yang sudah lapuk dialihmediakan.

Sadari sendiri mengakui, konten di ruang digital Mpu Tantular masih perlu terus ditambah. Penggunaannya juga butuh pendampingan dan pembatasan. ”Tidak bisa misalnya ratusan pengunjung semuanya ke ruang digital. Karena keterbatasan ruang dan alat,” katanya.

Empat tahun sudah berjalan, ungkap Sadari, belum ada pihak lain yang datang khusus untuk belajar tentang inovasi tersebut. ”Yang studi banding banyak, namun untuk pengelolaan museum secara umum. Belum fokus ke digitalnya,” ujar dia. (*/c9/ttg)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore