Usaha Bangkit, Bisa Nabung, bahkan Sedekah

23 Desember 2020, 12:37:50 WIB

Kegigihan Melahirkan Inovasi di Tengah Pandemi (2-Habis)

Zulrifan Noor mengolaborasikan program koperasinya dengan konsep zakat, infak, sedekah, dan wakaf produktif. Membantu ratusan ibu keluar dari jerat rentenir.

SAHRUL YUNIZAR, Jawa Pos, Jakarta

NISPIHANA seperti berada di terowongan gelap. Usahanya nyaris kolaps dihantam pandemi Covid-19. Padahal, kebutuhan keluarga tak bisa ditunda.

Beruntung, di tengah gulita dia menemukan secercah cahaya di ujung terowongan. Namanya, Baitulmaal Wakaf Indonesia (BWI).

Perlahan usahanya bangkit. Dia juga mulai bisa menabung.

’’Dari BWI dapat pinjaman kebajikan (bantuan modal, Red). Karena tanpa bunga, jadi berkah,’’ katanya kepada Jawa Pos.

Ada 200-an ibu lain di Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan (Kalsel), seperti Nispihana yang merasa sangat terbantu kiprah BWI. Usaha mulai jalan lagi, lepas dari jeratan rentenir.

Bahkan, mereka disiapkan menjadi donatur untuk pembangunan pesantren tahfiz preneur di Kalsel.

Padahal, baru setahun usia koperasi yang didirikan Zulrifan Noor itu. Dan, Zul pula yang lantas merancang program untuk membantu masyarakat kecil. Griya Peduli namanya. Program tersebut dikolaborasi dengan konsep zakat, infak, sedekah, dan wakaf produktif.

Warga Tabalong, sebagaimana juga warga di berbagai sudut tanah air, sangat terpukul dampak pandemi. Usaha terpaksa gulung tikar. Pinjam uang dari rentenir malah membawa mereka bertemu jalan buntu.

Zul tergerak. Dia lalu mengembangkan program BWI. Dari Griya Peduli menjadi Griya Peduli Lawan Korona.

’’Memang setelah Griya Peduli Lawan Korona itu meluncur, jumlah anggota yang semula 30 menjadi 200 orang,’’ kata dia saat berbagi cerita kepada Jawa Pos.

Target program itu spesifik. Menyelamatkan para ibu dari jurang derita akibat Covid-19. Dibantu Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Tabalong, dari pintu ke pintu Zul menjelaskan program Griya Peduli Lawan Korona.

Sejak Maret lalu, dia membantu ibu-ibu lewat pinjaman modal dan pendampingan. Sekitar 70 persen di antaranya, kata Zul, punya urusan dengan rentenir.

Baca juga: Kisah Kardjono, Penyandang Tunanetra yang Berjuang Mendirikan Koperasi

Belum sampai setahun, hasilnya mulai terlihat. Ibu-ibu yang punya utang di bawah Rp 5 juta kepada rentenir tidak lagi risau. Sebab, tanggungan mereka sudah lunas. Sedangkan yang utangnya di atas Rp 5 juta tengah dalam perjalanan menuntaskan beban mereka.

Para anggota BWI ibarat pemilik saham koperasi tersebut. Konsep zakat, infak, sedekah, dan wakaf produktif yang diterapkan Zul adalah jalan bagi BWI mencapai asa. Sejauh ini, BWI sudah mengelola Rp 454 juta dana zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Sebelum sampai ke tangan ratusan ibu yang kini menjadi anggota BWI, uang tersebut diinvestasikan ke tiga unit usaha yang dikelola BWI. Yakni, gerai penjualan sembilan bahan pokok (sembako), griya bayar, serta ekspedisi. Untuk ekspedisi, BWI sengaja memiliki unit bisnis tersebut supaya bisa membantu anggota mereka yang harus mengirim produk ke luar Tabalong.

Mayoritas anggota BWI saat ini memang mengandalkan produk makanan sebagai sumber pendapatan. Ada yang menjual camilan seperti Zul. Ada pula yang punya usaha rumahan.

Semua masuk kategori usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Karena itu, output investasi zakat, infak, sedekah, dan wakaf dari tiga unit usaha milik BWI dibagikan dalam bentuk bantuan modal. Tentu dengan tetap mematuhi ketentuan-ketentuan berkaitan dengan pembagian zakat, infak, sedekah, dan wakaf.

Setelah mendapat bantuan modal, para anggota BWI tidak dilepas begitu saja.

Baca juga: Mantan Ketua Masjid di Singapura Korupsi Uang Infak Rp 3,9 Miliar

Zul mengedukasi mereka lewat pengajian rutin yang dilaksanakan seminggu sekali. Di samping materi bermuatan pengetahuan agama, dalam pengajian itu disisipkan materi-materi lain. Mulai ekonomi syariah, kewirausahaan, sampai manajerial keuangan. Mereka juga didampingi saat sudah memiliki keputusan mantap untuk memulai bisnis.

Zul menuturkan, semua ibu yang ikut dalam program Griya Peduli Lawan Korona diberi pelatihan membuat masker, alat pelindung diri (APD), hand sanitizer, dan cairan disinfektan.

Baca juga: Berbagi Sedekah untuk Warga Lintas Keyakinan

BWI sengaja melakukan itu agar mereka bisa ikut bergerak dalam perjuangan melawan korona. ’’Karena saat itu kebutuhannya sangat tinggi,’’ katanya.

Dari tangan para ibu tersebut, sudah tersalurkan 1.377 masker, 500 botol hand sanitizer, serta ratusan APD. Produk buatan ibu-ibu itu dibeli donatur yang ingin menyumbang masker dan lainnya kepada masyarakat dan tenaga medis.

Dengan begitu, para ibu di BWI mendapat dua poin sekaligus. Membantu memenuhi kebutuhan masker, APD, hand sanitizer, dan cairan disinfektan sekaligus mendapat penghasilan karena produk yang mereka hasilkan dibeli donatur.

Menurut Zul, ide yang dirinya jalankan bukan gagasan baru. Berdasar sumber yang dia percaya, Rasul dan para sahabat menerapkan konsep wakaf produktif sejak dulu.

Salah satunya, mewakafkan pasar untuk muslimin. Di pasar itu mereka menjalankan roda ekonomi untuk menunjang kebutuhan penyebaran Islam.

Selain itu, Zul mengaku terinspirasi dari tokoh asal Bangladesh yang juga seorang peraih Nobel, Muhammad Yunus. Grameen Bank yang didirikan Yunus, kata Zul, menjadi sampel BWI.

Zul menggabungkan ide Yunus dengan praktik wakaf produktif yang sudah diajarkan Rasul dan para sahabat. Kemudian, ditambahkan zakat, infak, dan sedekah yang juga dibuat produktif.

Sebanyak 200 anggota yang sudah bergabung dengan BWI tidak cuma meraup untung dari bantuan modal yang mereka terima. Namun, mereka juga turut menyisihkan penghasilan untuk sedekah.

Sejauh ini, kata dia, sudah terkumpul Rp 38 juta uang sedekah dari seluruh anggota BWI. Uang itu pun diinvestasikan serupa uang yang diberikan donatur. Dengan begitu, angkanya berlipat. Hasil investasi dari uang tersebut disalurkan lagi kepada masyarakat yang membutuhkan. ’’Dibagikan ke masyarakat lain yang ingin gabung ke BWI,’’ imbuhnya.

Dia menargetkan, dalam tiga tahun BWI memiliki lima ribu anggota. Bila sudah tercapai, cita-cita mendirikan pesantren bisa mereka wujudkan.

BWI yang dimotori para ibu, lanjut dia, bisa memulai pembangunan pesantren tahfiz preneur. Yang mencetak penghafal Alquran sekaligus pengusaha muda.

Asa BWI tidak sampai di situ, mereka juga ingin manfaat koperasi serupa dirasakan masyarakat di luar Tabalong. Saat ini mereka melakukan penjajakan di Banjarmasin dan Hulu Sungai Utara. ’’Pada 2021 mudah-mudahan sudah bisa launching di sana. Lalu, 2025 semoga BWI bisa berdiri di luar Kalimantan Selatan,” tuturnya.

Kemudian sepuluh tahun mendatang, BWI sudah menggantungkan tujuan mereka di level ASEAN. ’’AD/ART kami tidak hanya bisa buka di Indonesia, tapi juga di luar negeri,’’ imbuhnya.

Nispihana pun berharap BWI bisa semakin banyak membantu masyarakat kecil seperti dirinya. Keluar dari terowongan gelap. Keluar dari kesulitan hidup. ’’Sehingga sama-sama dapat mewujudkan mimpi,” katanya.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c7/ttg

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads