
LATIH YANG MUDA: Samuel Teguh Santoso, pembina Dojo Kartika Niaga Kebraon, Surabaya, saat melatih karateka muda Gabriel, Kamis (27/10). (Frizal/Jawa Pos)
Meski jago bela diri, Samuel Teguh Santoso pantang menempuh cara kekerasan dalam menyelesaikan masalah. Bagi dia, mengalah lebih baik daripada mencederai fisik orang lain. Ditantang pun, dia memilih ngalah.
UMAR WIRAHADI, Surabaya
ISTILAH dalam bahasa Jepang itu berkali-kali diteriakkan sang pelatih. Para murid yang memakai seragam serbaputih dengan ikat pinggang merah dan biru mengikuti semua instruksi. Mereka mengarahkan pukulan dengan sasaran berbeda-beda.
Tsudan tsuki adalah pukulan yang mengarah ke bagian ulu hati. Lalu, jodan tsuki berarti pukulan ke dagu atau kepala. Instruksi tersebut berkali-kali diulangi dengan diikuti pukulan secara konstan oleh para murid. ”Jumlahnya 150 kali untuk setiap pukulan,” kata Samuel Teguh Santoso, sang pelatih, kemarin (27/10).
Sejak sore hingga malam, Samuel melatih di perguruan karate yang dipimpinnya. Perguruan itu beralamat di Kompleks Ruko Kartika Niaga, Jalan Kebraon, Karang Pilang. Nama perguruannya Pembinaan Mental Karate Kyokushinkai Karate-Do Indonesia.
Pada 1995, Samuel memulai kiprah profesionalnya dengan mendirikan perguruan tersebut. Istilah pembinaan mental sengaja disematkan sebagai pengingat bahwa bela diri bukan untuk gagah-gagahan. Tujuannya tidak menjadi jagoan yang mengumbar kekerasan.
”Niat awalnya untuk mengembangkan prestasi, melatih disiplin, dan mengasah mental,” jelas suami Marhilda Leiwakabessy tersebut.
Para anggota perguruan pun berasal dari beragam usia. Mulai anak-anak sampai orang dewasa. Bahkan, ada beberapa muridnya yang tergolong lansia karena sudah pensiun. Tanpa canggung, mereka berbaur untuk berlatih bersama. Motivasi mereka tidak sama.
Anak-anak usia SD hingga SMA biasanya memiliki tujuan untuk meningkatkan prestasi. Misalnya, mengikuti kejurda atau kejurnas. ”Tapi, kalau bapak-bapak, apalagi sudah pensiun, tujuannya buat olahraga cari keringat. Daripada di rumah bengong saja, bisa pikun,” ungkap ayah dua anak tersebut.
Ketertarikan Samuel pada bela diri mengalir begitu saja. Berawal di kampungnya, Blora, Jawa Tengah, Samuel mengikuti pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) pada 1980. Lambat laun orang tua mengarahkan Samuel untuk ikut karate. Sejak 1981 sampai 1985, dia kerap ikut kejurda untuk mewakili Kabupaten Blora.
Kiprahnya sebagai atlet karate berlanjut saat kuliah di Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya. Bahkan, dia menjadi pelatih pada 1987–1994. Nah, gaji sebagai pelatih dipakai untuk membiayai kuliah secara mandiri.
”Karena kiriman dari orang tua kurang,” katanya, lalu tersenyum. Kala itu Samuel juga ikut mendirikan unit kegiatan mahasiswa (UKM) karate di Universitas Wijaya Kusuma (UWK) Surabaya.
Samuel bilang, jalur kekerasan harus dihindari. Dia mengajarkan empat prinsip kepada anak didiknya. Pertama, jika mau dipukul orang, sebaiknya menghindar. Kedua, kalau diserang, menangkis. Lalu, jika diserang lagi, dapat menangkis dan memukul. Terakhir, dalam keadaan yang membahayakan diri sendiri, sebisa-bisanya mendahului serangan. Tujuannya adalah menyelamatkan diri. ”Tapi, sebatas dilumpuhkan saja. Tidak sampai membunuh,” tutur penyandang gelar magister hukum tersebut.
Pria 55 tahun itu juga memilih ngalah saat ditantang berkelahi orang. Sebab, bagi Samuel, mengalah termasuk bagian dari bela diri dengan tingkatan yang paling tinggi. ”Mengalah itu juga bentuk bela diri dengan tingkatan paling tinggi. Makanya, kalau ditantang gitu, saya bilang, ’Ya wis, kamu saja yang menang’,” ujar ayah Gabriella Hosana dan David Imanuel tersebut, lalu terkekeh.
Selain melatih karate, kesibukan Samuel kini bertambah. Dia dipercaya untuk memimpin sebuah partai politik (parpol). Dia menjabat ketua DPC Perindo Kota Surabaya sejak 2015 sampai sekarang. Namun, dia tetap membagi waktu untuk berlatih. Tidak heran, pada usia lebih dari setengah abad, dia masih terlihat bugar.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jafar dan Adnan Diduga Terlibat Match Fixing, PBSI Langsung Ubah Komposisi Ganda Campuran
Prediksi Skor Persib vs Persebaya di Final Piala Presiden 2026: Duel Tim Kelelahan!
Prediksi Skor Persija Jakarta vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Macan Kemayoran Diunggulkan!
Profil Jafar Hidayatullah dan Adnan Maulana: Diduga Match Fixing, Dicoret PBSI dari Kejuaraan Dunia
Prediksi Skor Persib vs Persebaya di Final Piala Presiden 2026: Maung Bandung Favorit Juara
Aji Santoso Resmi Latih de Red FC, Klub Baru Jawa Timur Pilih Stadion Gelora 10 November Surabaya
Bertahun-Tahun Mogok Kerja, Tim 10 Pekerja Freeport Serahkan Tuntutan ke Said Iqbal
Jafar/Felisha dan Adnan/Indah Dicoret dari Kejuaraan Dunia, PBSI Buka Suara Soal Dugaan Match Fixing
Prediksi Skor Singapura vs Timnas Indonesia di Piala AFF 2026: Pembuktian Sihir John Herdman!
Profil Malik Bawazier, Suami Cut Keke yang Dilaporkan Kasus Perzinaan dan Kohabitasi
