Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 25 Oktober 2022 | 00.11 WIB

Candi Muara Jambi dan Investasi Ilmu Pengetahuan Masa Depan

RATUSAN TAHUN: Candi di kompleks Candi Muara Jambi. Dibutuhkan waktu untuk memugar gundukan atau manopo di kompleks candi tersebut. (FEDRIK TARIGAN/JAWA POS) - Image

RATUSAN TAHUN: Candi di kompleks Candi Muara Jambi. Dibutuhkan waktu untuk memugar gundukan atau manopo di kompleks candi tersebut. (FEDRIK TARIGAN/JAWA POS)

Perawatan Sangat Ekstra, Setiap Titik Punya Juru Pelihara

Bayangkan. Para biksu dari berbagai belahan dunia duduk bersila. Menghadap sang mahaguru. Belajar banyak hal. Di sana, di atas susunan batu bata yang kini berumur ribuan tahun, mereka mengais ilmu. Itulah yang terjadi sekitar seribu tahun lalu di kompleks Candi Muara Jambi.

SAHRUL YUNIZAR, Muaro Jambi

---

SUNGAI Batanghari membentang sangat panjang. Sekitar 800 kilometer. Menjadi yang terpanjang di Sumatera. Bermula di tanah Minang, Sumatera Barat. Bermuara di Jambi. Tidak hanya menjadi sumber kehidupan, Batanghari juga merupakan saksi jejak peninggalan leluhur yang menetap di sana berabad-abad silam.

Kompleks Candi Muara Jambi adalah salah satunya. Luasnya mencapai 3.980 hektare. Mengisi delapan desa di Kabupaten Muaro Jambi. Mulai Desa Muara Jambi, Desa Danau Lamo, Desa Dusun Baru, Desa Kemingking Luar, Desa Kemingking Dalam, Desa Dusun Mudo, Desa Teluk Jambu, sampai Desa Tebat Patah.

”Nama Candi Muara Jambi diambil dari nama salah satu desa di sana,” ungkap pakar arkeologi Universitas Indonesia (UI) Cecep Eka Permana.

Kompleks Candi Muara Jambi menjadi yang terbesar di Asia Tenggara. Serupa Borobudur, Candi Muara Jambi bercorak Buddha. Bedanya, Borobudur identik dengan tempat pemujaan atau ibadah. Candi Muara Jambi lebih kental dengan nuansa pendidikan. ”Makanya, Pak Jokowi menyebutnya kawasan pendidikan masa lalu yang sangat besar,” kata profesor yang biasa dipanggil Cecep tersebut.

Pada 7 April 2022, Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo menapakkan kaki di Candi Muara Jambi. Dalam kesempatan itu, mantan gubernur DKI tersebut menyampaikan, pada masa jayanya, Candi Muara Jambi merupakan pusat pendidikan. Terutama yang terkait dengan ajaran Buddha. Itulah yang menjelaskan bentuk dan karakter Candi Muara Jambi berbeda dengan Borobudur.

Ketika Jawa Pos menyambangi kompleks candi yang letaknya sekitar 22 kilometer dari pusat kota Jambi tersebut, yang tampak lebih banyak justru pepohonan. Bangunan candi di sana memang berada di antara kebun-kebun milik warga. Yang terbanyak kebun duku dan durian. Posisi candi pun terpisah-pisah. Tidak berada di satu tempat. Cecep mengibaratkan itu seperti kompleks pesantren. Yang posisi bangunan utama terpisah dari asrama santri. Juga tidak bersatu dengan tempat ibadah, tempat belajar, dan kediaman para guru.

Saat ini total ada delapan candi yang sudah dipugar dan dibuka di kompleks Candi Muara Jambi. Terdiri atas Candi Gumpung, Candi Tinggi, Candi Tinggi II, Candi Astano, Candi Kembar Batu, Candi Gedong I, Candi Kedaton, dan Candi Kotomahligai. Di Candi Gumpung, misalnya, pelataran candi kini sering dipakai wisatawan sebagai tempat berfoto. Padahal, dulu pelataran adalah tempat para biksu duduk bersila. ”Lalu, menerima ajaran dari gurunya. Muridnya di situ menghadap para guru,” jelas Cecep.

Selain delapan candi tersebut, ada dua candi lain yang masih dipugar. Yaitu, Candi Parit Duku dan Candi Teluk. Candi Parit Duku berada satu daratan dengan delapan candi lain yang sudah dibuka. Candi Teluk berada di seberang Sungai Batanghari. Posisinya di antara tempat pengolahan batu bara dan kelapa sawit. Di tempat yang sama, ada sekitar lima candi yang gundukannya sudah tampak.

Di luar itu, masih ada puluhan gundukan atau lebih sering disebut manopo oleh masyarakat setempat. Total, ada 80 manopo. Rata-rata, pemugaran satu manopo di Candi Muara Jambi butuh waktu lima sampai tujuh tahun. Jika seluruh manopo itu dipugar, dibutuhkan waktu ratusan tahun untuk menyelesaikan pemugaran. Bila 80 manopo dikalikan tujuh tahun, setidaknya pemugaran seluruh manopo butuh waktu 560 tahun.

Di Candi Parit Duku, Cecep kini terlibat langsung. Dalam sebulan, minimal tujuh sampai sepuluh hari dia turun langsung ke sana. Sekitar dua bulan lamanya sejak pemugaran Candi Parit Duku berlangsung, Cecep dan timnya menemukan tujuh bangunan candi dalam satu manopo. ”Disebut Parit Duku karena manopo tadi. Gundukan tadi itu ditumbuhi banyak sekali pohon duku. Uniknya lagi, di sekitar gundukannya itu ada parit,” jelas Cecep.

Candi Muara Jambi menyimpan banyak potensi. Bahkan, Cecep berani menyatakan bahwa Candi Muara Jambi merupakan investasi ilmu pengetahuan sampai ratusan tahun ke depan. Bukan melulu soal destinasi wisata yang penting bagi Pemkab Muaro Jambi dan Provinsi Jambi, kompleks candi itu juga menyimpan banyak kekayaan lainnya. ”Investasi pendidikan ratusan tahun ke depan,” ujarnya.

Pendidikan arkeologi, sejarah, dan arsitektur bangunan kuno adalah sedikit dari banyak hal yang bisa digali dari peninggalan tersebut. Belum lagi yang ada di luar struktur bangunan seperti artefak, tanah liat, keramik, logam, hingga ukir-ukiran yang ditemukan di sana. ”Lalu, bidang bahasa. Di situ juga ditemukan naskah-naskah. Itu merupakan potensi yang tidak akan habis,” tegas Cecep.

Dari Candi Muara Jambi, para peneliti juga bisa belajar teknologi. Pada peradaban ribuan tahun silam, ada teknologi yang luar biasa hebat. Tanpa sedikit pun semen, batu bata yang disusun para pembuat bisa berdiri kukuh. Bahkan, kualitasnya jauh lebih baik bila dibandingkan dengan batu bata yang dibuat untuk kebutuhan pemugaran. ”Ada beberapa candi, ketika waktu pemugaran masa lalu itu, yang menggunakan bahan bata yang baru dan ternyata bata barunya itu tidak lebih bagus daripada bata-bata yang aslinya,” kata Cecep.

Dua di antara delapan candi yang sudah dibuka boleh digunakan untuk aktivitas ibadah umat Buddha. Yakni, Candi Gumpung dan Candi Tinggi. Di Sumatera, Candi Muara Jambi merupakan lokasi pusat perayaan Waisak. Namun, akibat pandemi Covid-19, baru tahun ini perayaan Waisak kembali dihelat di Candi Muara Jambi. Itu pun bukan di Candi Gumpung dan Candi Tinggi, melainkan di Candi Kedaton.

Selain tempat yang beda dengan biasanya, perayaan Waisak juga dilakukan beberapa hari setelah hari H. Cecep menjelaskan, seluruh candi yang sudah dibuka memiliki juru rawat masing-masing. Perawatan dilakukan agar candi yang terbuat dari batu bata itu tidak habis dilumuti. Juga tidak kotor oleh dedaunan dan debu. ”Bahkan, yang belum dipugar sudah dijaga juru pelihara,” jelas dia.

Photo

RATUSAN TAHUN: Candi di kompleks Candi Muara Jambi. Dibutuhkan waktu untuk memugar gundukan atau manopo di kompleks candi tersebut. (FEDRIK TARIGAN/JAWA POS)

Khusus candi yang belum dipugar, juru pelihara ditugaskan untuk memastikan tidak ada aktivitas terlarang. Misalnya, penggalian manopo. Untungnya, masyarakat setempat sangat paham dan mengerti bahwa kompleks candi tersebut merupakan warisan nenek moyang mereka. ”Terlepas dari siapa pun dia (masyarakat, Red). Itu adalah bagian yang tidak terlepaskan dari masa lalu mereka. Makanya, sangat terawat dengan baik,” tutur Cecep.

Saat datang ke Candi Muara Jambi pada Kamis (28/7), Jawa Pos didampingi seorang pemuda bernama Faizul Anshori. Untuk mengelilingi kompleks Candi Muara Jambi, ada beberapa opsi. Di antaranya, menyewa sepeda dan becak motor (bentor). Oleh Faizul, kami diantar berkeliling dengan menaiki bentor.

Lantaran ingin mengunjungi sebanyak-banyaknya candi yang bisa dijangkau bentor, kami diminta jasa sewa bentor Rp 100 ribu. Masyarakat bisa saja membayar sewa lebih murah. Dengan menyewa sepeda atau naik bentor, tetapi tidak mengunjungi semua candi.

Secara kasatmata, candi-candi yang sudah dipugar dan dibuka untuk kunjungan wisatawan terawat sangat baik. Faizul mengakui, masyarakat setempat ikut menjaga. ”Walau banyak kebun di sini, candi kami rawat sepenuh hati,” ujarnya.

Mereka sangat paham candi tersebut kerap dikunjungi wisatawan. Yang dilakukan adalah menjalin kerja sama. Mereka diizinkan menyewakan sepeda dan bentor. Kemudian, diizinkan pula menjual aneka oleh-oleh dan pelbagai makanan. Bahkan tidak jarang dilibatkan dalam berbagai event. Termasuk agenda-agenda yang dibuat pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).

Kompleks Candi Muara Jambi sudah masuk dalam daftar kawasan cagar budaya nasional (KCBN). Juga telah didaftarkan sebagai warisan dunia ke UNESCO pada 2009. Berdasar data dari berbagai sumber, Candi Muara Jambi merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Melayu.

Data itu diketahui dari berbagai temuan, khususnya temuan di Tiongkok yang kerap kali menyebut keberadaan candi tersebut. Kiblat Candi Muara Jambi adalah Nalanda atau India. Bahkan, ketika Nalanda rusak akibat invasi orang asing, pusat pendidikan di sana berpindah ke Candi Muara Jambi.

Ada pula catatan yang menyatakan, sebelum belajar ke Nalanda, para murid diminta belajar di Candi Muara Jambi. Dengan sejarah panjang tersebut, penelitian di Candi Muara Jambi akan sangat berguna bagi ilmu pengetahuan dan pendidikan di Indonesia.

Photo

MAGNET WISATA: Wisatawan bisa menyewa sepeda (FEDRIK TARIGAN/JAWA POS)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore