
Rosiana Alim, penggagas Komunitas Menuju Dua Garis. (ROSIANA ALIM UNTUK JAWA POS)
JawaPos.com - Rosiana Alim tahu susahnya menjadi IVF warrior alias pejuang bayi tabung. Selama satu dekade, perempuan yang akrab disapa Mizz Rosie itu menjalani rangkaian konsultasi dan pemeriksaan medis demi bisa menimang buah hati. Dua IVF gagal. Tapi, penggagas Komunitas Menuju Dua Garis (MDG) itu tidak menyerah.
Sejak April tahun lalu, kesibukan Rosie bertambah. Sebagai pendiri sekaligus pengelola MDG, dia adalah pilar penting yang menghubungkan semua anggota. Sampai saat ini, anggota komunitas yang bergabung di Instagram mencapai 18 ribu. Sementara itu, anggota di Telegram tercatat 500 laki-laki dan 700 perempuan. Masing-masing punya kasus medis yang berbeda dan kisah-kisah inspiratif yang beragam.
’’Lewat komunitas, banyak yang terbantu dan memperoleh manfaat. Mereka menyampaikan kepada saya, ’Terima kasih ya, Mizz Rosie. Sekarang saya sudah berani melangkah, tidak merasa sendiri’,” paparnya kepada Jawa Pos saat berbincang pada akhir Juli.
Rosie sengaja mengaktivasi semua platform media sosial agar komunitasnya mudah ditemukan. Dengan demikian, program-program komunitas bisa diakses juga oleh lebih banyak orang. Di antaranya, konsultasi gratis bersama dokter, rekomendasi suplemen, rekomendasi rumah sakit, sharing session, dan kopi darat dengan sesama anggota MDG.
Rosie selalu menegaskan bahwa tidak ada yang salah dengan infertilitas. Dia memotivasi anggota komunitasnya agar menerima kondisi diri sendiri. Menerima bahwa mereka terpilih untuk menjalani tantangan hidup yang ’’judul”-nya susah hamil ini. ’’Nyatanya tantangan hidup ini membawa kebaikan bagi saya dan orang sekitar,” tegasnya.
Dia menambahkan, sebagai manusia, dirinya tidak akan berhenti berusaha. Dia juga tidak bisa memastikan apakah nanti dikaruniai momongan atau tidak. ’’Anak itu kedaulatan Tuhan. Namun, saya mau menjalani semua proses dan perjalanan ini dengan hati yang gembira,” papar Rosie.
Kartika yang tergabung dalam MDG mengaku mendapatkan banyak manfaat dari komunitas bentukan Rosie itu. ’’Menjadi wadah kami untuk bercerita dan bertanya. Banyak tips yang saya dapatkan tentang makanan yang cocok untuk promil, vitamin, pola hidup, dan masih banyak lagi,” ujarnya.
Hal yang sama dirasakan Carol. Dengan mengenal sesama pengidap low AMH dalam komunitas, dia merasa lebih percaya diri. Mereka bisa saling terbuka dan curhat tentang kondisi fisik. ’’Anggotanya di grup WhatsApp sudah ratusan. Mayoritas berasal dari Jakarta dan Surabaya. Kalau ada yang cerita, bakal direspons 24 jam. Jadi merasa punya teman dan nggak sendiri. Aku pribadi merasa komunitasku itu segalanya,” terang Carol.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
