
CINTA SEJARAH KOTA: Emile Leushuis, penulis buku Gids Historische Stadswandeling en Indonesie asal Belanda, ditemani komunitas Begandring Soerabai mengunjungi kompleks makam Sunan Boto Putih. (Alex Qomarullah/Jawa Pos)
Surabaya punya banyak cerita terpendam. Emile Leushuis lantas menggalinya dan menjadi buku panduan bagi warga asing yang ingin datang ke Surabaya.
AZAMI RAMADHAN, Surabaya
---
INGATAN pria kelahiran Deventer, Provinsi Overijssel, Belanda, itu masih tergambar hingga kini. Terutama saat berkunjung kali pertama ke Surabaya pada 1990-an. Hawanya panas, ramai, dan semrawut. Kondisi tersebut membuat turis asing yang kali pertama datang bingung.
Selain itu, tak banyak petunjuk tertulis tentang kawasan-kawasan Surabaya yang layak untuk dikunjungi.
Dia mengaku bagi sebagian turis asal Belanda, Indonesia –khususnya Kota Surabaya– itu romantis. Meski hanya mendengar dari percakapan dan membaca di buku panduan, banyak orang peranakan Indonesia-Belanda maupun asli Belanda yang ingin datang dan merasakan udara Surabaya. ”Tapi kontradiktif dengan narasi romantisnya. Tapi, itu dulu ya. Sekarang sudah berubah total, sangat menarik,” ujar pria berusia 54 tahun itu, lantas terbahak.
Dia mengaku sudah 15–18 kali berkunjung Surabaya. Dari kedatangannya itu, dia mampu membuat buku yang terbit kali pertama dalam bahasa Belanda pada 2011.
Judul buku itu adalah Gids Historische Stadswandeling en Indonesie. Atau dalam bahasa Indonesia-nya, Panduan Jelajah Kota-Kota Pusaka di Indonesia, khusus Medan, Jakarta, Cirebon, Bandung, Semarang, Jogjakarta, Surakarta, Surabaya, dan Malang.
”Buku itu menjadi alasan saya datang lagi ke Surabaya. Setidaknya jalan-jalan saya membuahkan hasil untuk mereka yang mau ke Indonesia. Khusus kota-kota itu,” lanjutnya.
Ahli geografi dan pemandu wisata itu mengaku ketertarikannya pada sejarah muncul setelah berkunjung ke beberapa kampung lawas dan kota tua Belanda di Surabaya. Namun, yang membuatnya berkesan adalah kampung. Khususnya, Kampung Peneleh, Bubutan, Genteng, dan Ampel.
”Sebelum tahun baru, saya diajak Nanang (Nanang Purwono dari Komunitas Begandring) main ke Ampel lagi. Ke Boto Putih dan Peneleh lagi. Mampir juga ke Arca Joko Dolog,” tuturnya.
Bagi dia, kawasan itu masih menyimpan banyak cerita menarik. Tak hanya untuk ilmu pengetahuan, tapi juga untuk masyarakat. Sebab, kata dia, masa lalu itu memiliki banyak pesan yang dapat dipelajari untuk pembangunan dan kepentingan masa depan. Khususnya, kawasan Ampel dan Boto Putih.
Saat ke Ampel pada Sabtu 8 Desember 2021, kondisi yang dia lihat jauh berbeda dari 10 tahun lalu. Saat ini peziarah cukup berani melintasi pemakaman lain saat hendak menuju makam Sunan Ampel. Dia khawatir hal itu akan merusak dan menjadi penyebab hilangnya benda-benda penting di kompleks pemakaman Sunan Ampel.
Saat di Ampel, dia sempat melihat adanya gentong batu andesit dan terakota, lumpang andesit, umpak, dan batu candi. Sebelumnya, benda-benda tersebut tersebar di berbagai tempat di sekitar proyek pembangunan bangunan baru.
Lain lagi saat berkunjung ke Boto Putih. Emile mengaku kompleks makam lawas itu menyimpan banyak kisah. Terlebih soal bupati Surabaya yang diangkat oleh pemerintah Hindia Belanda.
Ada satu lagi cerita yang perlu diperkuat. Surabaya sebagai kota pelabuhan mandiri dengan Pelabuhan Tanjung Perak.
Soal Surabaya dan pelabuhan mandiri tersebut, Emile mengaku punya cerita unik. Saat itu, dia bertemu dengan bule asal Amerika Serikat di Bali. Bule tersebut cukup antusias bertanya soal Surabaya. Bahkan dengan penegasan ingin berkunjung ke Surabaya.
’’Kenapa kok Surabaya?’’ tanya Emile kepada bule asal Negeri Paman Sam kala itu. Akhirnya, bule tersebut mengaku saat kecil, dirinya sering melihat kemasan gula pasir di meja makan. Nah, ada satu tulisan yang membuatnya bertanya-tanya. Tulisan itu adalah Soerabaja.
Usut punya usut, Emil belakangan mengetahui jawaban tersebut. Kata dia, saat tahun 1930-an, Surabaya di bawah Hindia Belanda berhasil mengekspor gula ke seluruh negara di dunia. Waktu itu, di Jawa Timur ada 17 pabrik gula di bawah naungan Handelsvereeniging Amsterdam atau Asosiasi Pedagang Amsterdam yang mampu menghasilkan 8 juta ton gula per tahun.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
