
PANTANG MENYERAH: Winda di antara karya-karya lukisannya. (THE ABLE ART FOR JAWA POS)
Photo
PANTANG MENYERAH: Tommy Budianto (kanan) bersama Sadikin. (THE ABLE ART FOR JAWA POS)
Dari produk-produk itu, Winda mendapat tambahan penghasilan. Tambahan itu dipakai untuk membeli alat-alat lukis. Juga membantu sesama seniman penyandang disabilitas. Winda memang dikenal senang berbagi. Sesulit apa pun keadaannya, dia tidak pernah sayang untuk memberi. Sampai kini, sebagian penghasilannya disisihkan untuk proyek amal dan misi filantropi. Minimal 17 persen dari penghasilan yang dia peroleh disumbangkan.
”Untuk membantu penyandang disabilitas yang kurang mampu,” kata dia. Sikap itu pula yang membuat Tommy kagum kepada Winda.
Ketika berbincang dengan Jawa Pos, Tommy mengaku belajar banyak dari Winda. Padahal, niat awal mendirikan The Able Art adalah membantu seniman penyandang disabilitas. Kini justru dia yang merasa terbantu. Dari Winda, Tommy menyadari bahwa memberi bisa dilakukan kapan saja. Bahkan di waktu dan situasi yang tidak mudah sekalipun. Serupa dengan kata-kata Andy F. Noya yang dipajang di laman milik The Able Art. Tidak perlu menunggu untuk bisa menjadi cahaya bagi orang-orang di sekelilingmu. Lakukan kebaikan, sekecil apa pun, sekarang juga. Begitulah The Able Art saat ini. Menjadi lilin kecil untuk para seniman penyandang disabilitas.
Sejak awal, Tommy menyadari bahwa dirinya bukan seniman. Tidak mengerti cara menjual karya seni. Apalagi lukisan yang pasarnya khusus. Peminatnya pun orang-orang tertentu. Namun, keinginan membantu seniman penyandang disabilitas membuat dia menemukan jalan sendiri. Kemampuan di bidang teknologi informasi dimaksimalkan betul oleh Tommy. Dia membuat laman khusus The Able Art: theableart.com. Dia juga membuat akun media sosial untuk gerakan itu. Juga membikin akun marketplace untuk memasarkan produk-produk yang dibuat dari lukisan para seniman penyandang disabilitas.
Tommy tidak bergerak sendiri. Dia dibantu sang istri, Siane. Keduanya berbagi peran untuk membesarkan The Able Art. Tommy mengurus penjualan dan pemasaran produk, Siane memproduksi barang-barang yang dijual The Able Art. Semua barang itu diproduksi berdasar lukisan dari seniman penyandang disabilitas yang bekerja sama dengan mereka.
Di The Able Art, setiap seniman dijamin memiliki hak cipta. Karena itu, dijadikan apa pun lukisan mereka, para seniman itu pasti mendapat bagian dari hasil penjualan. Rumusnya, 55 persen untuk seniman, 40 persen untuk operasional The Able Art, dan 5 persen untuk kegiatan amal. ”Untuk men-support teman-teman difabel lain yang baru mau belajar,” kata Tommy. Mereka tidak diberi uang. Namun, mereka mendapat alat lukis untuk mulai belajar, kemudian dipakai membuat karya yang dapat menambah penghasilan.
Dengan cara itu, The Able Art berusaha membantu lebih banyak penyandang disabilitas yang memiliki keinginan untuk berkarya sebagai pelukis. Lewat jalan itu pula, Tommy yang sama sekali tidak paham lukisan membantu mereka.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
