
Laksamana Pertama TNI dr Ahmad Samsulhadi MARS. (Septian Nur Hadi/Jawa Pos)
Di balik profesinya sebagai perwira TNI-AL dan dokter penanganan pasien Covid-19, Laksamana Pertama TNI dr Ahmad Samsulhadi MARS menekuni hobi tarik suara. Sebuah album campursari berhasil diciptakan.
SEPTIAN NUR HADI, Surabaya
ALBUM itu berisi sepuluh lagu. Yakni, berjudul Kuntho Gulo Aren, Yo Wis Ben, Selendang Iki, Wedang Kopi Gulo Aren, Kembang Plataran, Tak Gantung Kangenku, Prasetyaku, Bocah Khas, Ilir-Ilir, dan Sholat. Seluruh lirik menggunakan bahasa Jawa. Semuanya sudah direkam dan empat lagu di antaranya telah memiliki klip video.
Semua karya Samsul diunggah ke media sosial (medsos) melalui kanal YouTube. Grup yang mengiringi bernama Kadang Kidung Menoreh.
Dalam dunia tarik suara, Laksamana Pertama TNI dr Ahmad Samsulhadi MARS memiliki nama panggung Didik Ashadi. Didik merupakan nama panggilan masa kecil. Ashadi adalah akronim nama aslinya. Yaitu, Ahmad Samsulhadi.
Tak disangka, lagu campursari karyanya lumayan disukai masyarakat. Itu dibuktikan dari jumlah penonton klip video dan subcsriber pada kanal YouTube-nya.
”Di kolom komentar, kebanyakan penonton memberikan respons positif. Dan baru-baru ini, karyanya mendapatkan pujian dari Bapak KSAL. Itu yang membuat saya tambah semangat untuk berkarya,’’ kata Didik di Rumah Sakit Lapangan Indrapura (RSLI) Kogabwilhan II, Senin (29/11).
Penanggung jawab RSLI Kogabwilhan II itu mengaku menggeluti tarik suara sejak duduk di bangku SD. Juara menyanyi sering didapat. Namun, Didik mulai menyeriusi hobinya pada Maret 2020. Saat awal-awal pandemi Covid-19 masuk ke Indonesia.
Cinta, sosial, dan masyarakat menjadi tema saat pembuatan lagu. Salah satunya terinspirasi kisah orang tua. Terutama sang kakek. Samsulhadi mengaku lahir dari keluarga sederhana.
Masa kecilnya dijalani full bersama sang kakek Muh. Idris yang dikenal sebagai kiai.
Oleh sang kakek, warga diajari cara salat dan ilmu agama. Bukan hanya warga setempat, kakeknya juga memutuskan keliling ke pelosok kampung untuk berkhotbah menyiarkan ajaran Islam. Di antaranya, Madiun, Tulungagung, Malang, Ponorogo, dan beberapa daerah pelosok lainnya. Terutama daerah yang masyarakatnya dinilai belum begitu paham ilmu agama. Didik selalu menemani sang kakek dalam mensyiarkan ilmu agama.
”Ikut (kakek) keinginan sendiri. Setiap merantau memakan waktu dua tahun. Karena itu, SD-ku sering pindah-pindah,’’ ujar pria kelahiran Kulon Progo (Lembah Bukit Menoreh), 8 Juli 1965, itu.
Dalam lagu Tak Gantung Kangenku misalnya. Lirik lagu itu berisi tentang rasa kangen kakek kepada sang nenek saat merantau.

Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
Prediksi Skor PSMS Medan vs Port FC Piala Presiden 2026: Debut Bruno Moreira Usai Tinggalkan Persebaya Surabaya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Prediksi Susunan Pemain PSMS Medan vs Port FC di Piala Presiden 2026: Port Lions Masih Terlalu Digdaya!
Profil Fajar Listyantara, Legenda PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta yang Meninggal Dunia Akibat Gagal Ginjal
5 Bintang Sepak Bola yang Alami Kenaikan Nilai Pasar setelah Piala Dunia FIFA 2026
Prediksi PSMS Medan vs Port FC di Piala Presiden 2026: Ujian Berat Ayam Kinantan Hadapi Sang Juara Bertahan
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Momentum Green Force Unjuk Gigi
