Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 23 Mei 2021 | 19.10 WIB

Di Balik Karya Berlatar Reformasi 1998, Tidak Sekadar Merekonstruksi

KARYA SINEAS: Chelsea Islan dan Boy William dalam salah satu adegan Di Balik 1998. (MNC PICTURES) - Image

KARYA SINEAS: Chelsea Islan dan Boy William dalam salah satu adegan Di Balik 1998. (MNC PICTURES)

Mei 1998 yang bersejarah dalam perjalanan bangsa Indonesia memantik sejumlah ide kreatif. Mengirim pesan lewat film, teater, puisi, lagu, hingga karya seni rupa.

---

DI Balik 1998. Dari judul itu bisa diterka bahwa film tersebut bercerita tentang reformasi 1998. Peristiwa berakhirnya pemerintahan Orde Baru yang diwarnai dengan chaos.

Selain Di Balik 1998, ada sejumlah karya film yang mengangkat kisah dengan latar belakang peristiwa tragedi Mei 1998. Sebut saja May; 9809, Antologi 10 Tahun Reformasi; dan Student Movement in Indonesia. Masing-masing menyuguhkan sudut pandang berbeda dari peristiwa bersejarah tersebut.

Di Balik 1998, misalnya, mengangkat sisi kemanusiaan dari segala aspek latar belakang reformasi 1998. Dirilis pada Januari 2015, film itu mengisahkan perjuangan sebuah keluarga saat melewati peristiwa tersebut dengan sudut pandang yang berbeda satu sama lain.

Setiap karakter memiliki peran, opini, serta keterkaitan yang berbeda terhadap peristiwa Mei 1998. ’’Cuma mau ngasih tahu kalau peristiwa itu (reformasi 1998, Red) berdampak pada semua manusia yang ada di Indonesia,’’ papar Lukman Sardi, sutradara Di Balik 1998, Jumat (21/5). Dia menegaskan, film besutannya itu bukan film yang fokus membahas dunia politik atau sejarah Indonesia.

Meski ceritanya fiksi, film dengan pemeran utama Diana (Chelsea Islan) dan Daniel (Boy William) itu betul-betul digarap dengan riset mendalam bersama tim penulis. Mengenai sejarah, dia mengaku mengadopsi setiap detail adegannya dari berita yang selama ini beredar. Misalnya, adegan Soeharto lengser. ’’Kami benar-benar merekonstruksi mulai dari foto-foto sampai susunan orang yang ada saat kejadian itu,’’ papar Lukman.

Hal itu dilakukan untuk menghindari asumsi-asumi baru masyarakat yang nanti muncul setelah menonton film itu. ’’Lebih baik mengulik sesuatu yang masyarakat sendiri tahu. Nggak mau mengambil yang masih tanda tanya,’’ jelas peraih penghargaan Indonesian Box Office Movie Awards kategori sutradara terbaik film Di Balik 98 itu. Di sisi lain, sudut pandang dari sebuah keluarga lebih general dan mudah diterima khalayak.

Lukman menuturkan, ada makna dari adegan-adegan dalam film tersebut. Misalnya, di scene akhir, ada seorang anak pemulung yang tidak bisa bertemu kembali dengan keluarganya. Bagi aktor kelahiran Jakarta 49 tahun lalu itu, adegan tersebut memiliki makna tersendiri. Menggambarkan bangkitnya semangat baru masyarakat Indonesia. Meski, kehilangan anggota keluarganya akibat peristiwa Mei 1998.

Ada juga Salma (Ririn Ekawati) yang kehilangan bayi yang dikandungnya. ’’Message-nya, tragedi itu menyebabkan semua orang dari segala lapisan merasakan kehilangan,’’ tuturnya.

Lalu, ada pesan tetap mencintai Indonesia seperti digambarkan Daniel yang tinggal di Amerika. Meski, keluarganya tercerai-berai akibat peristiwa 1998. Lukman berharap masyarakat bisa mengambil pesan positif dari filmnya itu. Yakni, tidak bersikap rasis dan menghargai setiap cara berpikir orang yang berbeda-beda. ’’Di UUD pun jelas bahwa orang Indonesia berhak mendapatkan yang seharusnya. Indonesia itu bertumbuh dan dikenal karena keberagamannya yang luar biasa,’’ tegasnya.

Puisi Wiji Thukul

Sejarah Mei 1998 dengan beragam peristiwa yang mengiringinya memang tak boleh dilupakan. Sebaliknya, bisa menjadi sumber inspirasi. Salah satunya Wiji Widodo atau Wiji Thukul, sastrawan dan aktivis yang sejak 1998 hingga sekarang tidak diketahui keberadaannya.

Puisi-puisi karyanya kerap dibawakan sebagai pemberi semangat. Film tentang sosok Wiji Thukul yang kritis juga dibuat.

Wahyu Susilo, adik Wiji Thukul, berharap anak muda akan terus melestarikan kekritisan kakaknya. Jika tidak ada keadilan, harus diutarakan. ”Semangat perlawanan dan kekritisan terhadap keadilan menjadi inspirasi,” ujarnya.

Anak bungsu Wiji Thukul, Fajar Merah, kerap memusikalisasi puisi karya aktivis hak asasi manusia tersebut. Dia beberapa kali pentas membawakan syair bapaknya. Di channel YouTube Fadjar Merah Official juga terdapat musikalisasi puisi Wiji Thukul. Beberapa dibawakan dengan menggandeng musisi lain.

Anak sulung Wiji Thukul, Fitri Nganthi Wani, juga bergelut di bidang seni. Dia menelurkan karya sastra. Beberapa kali dia juga pentas membawakan puisi ayahnya.

Dunia seni yang dilakoni Fajar dan Fitri memang tidak lepas dari sang ayah. Wahyu menceritakan bakat kesenian Wiji Thukul yang muncul sejak anak-anak. Dia aktif dalam kegiatan gereja. Yang digandrungi adalah teater. Dia masuk dalam tempat latihan teater Cempe Lawu yang pelatihnya merupakan anak buah W.S. Rendra di Bengkel Teater. ”Dari latihan teater inilah kepekaan sosialnya terlatih,” ucap Wahyu.

Ketika bekerja, dia mengajak teman-teman buruhnya untuk ikut berteater. Mereka pentas di beberapa daerah. Teater juga yang menjadi jalan Thukul untuk menyadarkan teman-teman buruhnya akan keadilan yang harus diperjuangkan.

Wahyu ingin semangat kakaknya terus dijaga. Reformasi dan keadilan yang dicita-citakan terus diperjuangkan. Syair dan cerita tentang Wiji Thukul diharapkan bisa menjadi inspirasi.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore