Jenderal, Rocker, dan Bintang-Bintang Dunia di Liga Indonesia (2)
Kalau Nakata lahir dari sebuah gol di laga tarkam, M. Rahmat tercipta khusus buat Liga 1. Di Piala AFC dia Rahmat Samsudin Leo.
FARID S. MAULANA, Jakarta,
Jawa Pos
---
DI Aceh, ribuan kilometer dari kampung halaman, siapa yang tak senang bertemu kompatriot? Maka, Reo Nakamura langsung menghampiri rekan setim yang di punggungnya tertulis nama Nakata itu dan segera nyerocos dalam bahasa Jepang.
Tapi, si Nakata malah bingung.
”Saya jawab arigato (terima kasih), arigato saja, iya-iya saja, sok-sokan ngerti saja,” kenang pesepak bola 32 tahun tersebut, lantas tertawa.
Maklum, Nakata yang satu ini nggak ada Jepang-Jepang-nya sedikit pun. Terlahir di Desa Lambaro, Aceh Besar, dengan nama Muchlis, berkulit cokelat, berambut hitam, serta mata yang tak punya karakteristik khas warga Asia Timur sama sekali.
Satu-satunya alasan kenapa gelandang Persiraja Banda Aceh itu jadi Nakata adalah karena sebuah tendangan jarak jauh di suatu laga tarkam di Aceh. Tembakan itu sukses menjebol gawang lawan. ”Orang langsung menyebut gol itu mirip gol (Hidetoshi) Nakata di Parma,” kata Muchlis, eh Nakata, kepada
Jawa Pos.
Hidetoshi Nakata dianggap sebagai salah satu pesepak bola terhebat Jepang sepanjang masa. Dua kali terpilih sebagai pemain terbaik Asia dan tercatat membela lima klub Italia, salah satunya AS Roma yang turut diantarkannya menjuarai Serie A. Sebelum akhirnya menutup karir di klub Inggris Bolton Wanderers.
Meski sama-sama berposisi sebagai gelandang, karir Muchlis jelas hanya setitik debu yang menempel di tembok besar jika dibandingkan dengan Nakata. Tapi, sejak laga tarkam tadi, di usia 15 tahun, untuk 17 tahun berikutnya Nakata menempel di punggung dan kesehariannya.
Awalnya, pria kelahiran Aceh Besar itu sempat risi dengan panggilan tersebut. Sebab, dia ingin nama Muchlis pemberian orang tuanya yang dikenal publik.
”Sempat ada teman ke rumah manggil Nakata-Nakata, orang tua saya tentu saja bingung. Tapi, lama-lama mereka ngerti kalau Nakata itu panggilan saya, ” terangnya.
Karena orang tak henti memanggilnya Nakata, Muchlis pun akhirnya tak kuasa menampik. Apalagi, dengan nama itu, perlahan karirnya terus menanjak.
Diawali dengan masuk skuad Aceh di PON 2008 di Kalimantan Timur, setelah itu dia dilirik Persiraja. ”Hampir 12 tahun saya di Persiraja, tidak mau pindah klub lagi,” tegasnya.
Anak kedua dari tiga bersaudara itu menuturkan, nama Nakata sejak saat itu selalu menempel di jersey Persiraja. Entah hanya Nakata atau ada tambahan M yang berarti Muchlis di depannya.
Tapi, tentu bukan tanpa konsekuensi. Tak satu-dua orang yang mengernyitkan dahi saat membaca nama Nakata di jersey. ”Nakata dari Hongkong.” Mungkin demikian pikir mereka.
Rekan-rekan setimnya, terutama pemain asing, termasuk yang paling sering penasaran. ”Saya selalu ditanya, ’apakah kamu orang Jepang atau ada keturunan,’ saya jawab iya sajalah. Teman-teman yang mengerti pasti ketawa setelah saya jawab seperti itu,” bebernya.
Lain M. Nakata, lain pula M. Rahmat. Kalau yang pertama mendapat panggilan dari sebuah tembakan jarak jauh, yang kedua namanya dapat tambahan ”M” yang sama sekali tak ada artinya.
”Nama asli saya cuman Rahmat,” jelas pemain 32 tahun itu.
Lantas, dari mana muncul huruf ”M” di depan kata Rahmat? Dia bercerita huruf itu muncul karena ketika membela PSM Makassar pada 2010 lalu, ada rekan setim yang bernama Rahmat pula. Di jersey, pemain tersebut juga sudah memakai nama Rahmat.
Otomatis dia sempat bingung menggunakan nama apa di jersey. Sebab, dia tetap ingin nama pemberian orang tuanya melekat di jersey PSM. ”Akhirnya saya tambahi M saja, jadilah M. Rahmat,” ungkapnya.
Ternyata, nama M. Rahmat membawa berkah. Berhasil menembus skuad utama PSM. Dan, kini pemain berposisi winger itu berkostum juara bertahan Liga 1 Bali United.
Tapi, nama M. Rahmat itu hanya bisa dipakai di Liga 1. Di Piala AFC, karena nama aslinya di KTP hanya satu kata, dia harus menambah minimal satu kata lagi. Untuk pengurusan paspor.
Di Piala AFC, Rahmat harus punya paspor. Sebab, Serdadu Tridatu harus menghadapi beberapa tim Asia Tenggara. Harus melawat.
Rahmat pun berpikir keras. Puncaknya, dia memilih nama sang ayah, Samsudin Leo, untuk dipakai di paspor. ”Jadi, di paspor nama saya Rahmat Samsudin Leo,” tuturnya.
Baca juga: Teman Setim Menyarankan, Namamu ‘Wiranto Saja’
Nama itu juga yang kemudian masuk ke daftar susunan pemain Bali United di Piala AFC. Sempat mengagetkan banyak pihak, terutama para fans, karena Serdadu Tridatu dianggap mendatangkan pemain baru. Padahal, Rahmat Samsudin Leo itu ya yang sehari-hari dikenal sebagai si M. Rahmat, yang di KTP-nya tertulis Rahmat.
Mungkin sama ”tertipunya” dengan Reo Nakamura tadi. Menyangka bertemu kompatriot, padahal yang disapanya ternyata, mengutip istilah Nakata, ”Jepang yang sering kena matahari”.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=MP9tv2dhc_M