Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 18 Agustus 2020 | 19.19 WIB

Kartosoewirjo Bikin Naskah Proklamasi Sendiri

DIRGAHAYU INDONESIA: Warga membentangkan bendera berukuran 8x12 meter di bawah Jembatan Kreteg Abang di daerah Bibis Kulon, Kelurahan Gilingan, Kota Solo, kemarin. (ARIEF BUDIMAN/JAWA POS RADAR SOLO) - Image

DIRGAHAYU INDONESIA: Warga membentangkan bendera berukuran 8x12 meter di bawah Jembatan Kreteg Abang di daerah Bibis Kulon, Kelurahan Gilingan, Kota Solo, kemarin. (ARIEF BUDIMAN/JAWA POS RADAR SOLO)

Hari kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 merupakan puncak sekaligus awal dari sejarah negeri ini. Di balik peristiwa itu, terdapat berbagai kisah yang saling berkaitan. Salah satunya adalah rencana proklamasi oleh Kartosoewirjo yang dijadwalkan pada 14 Agustus.

---

SETELAH bom atom menghancurkan dua kota di Jepang, yakni Hiroshima pada 6 Agustus dan Nagasaki pada 9 Agustus, Kartosoewirjo memantau sebuah radio berbahasa Melayu.

Dalam radio itu dikabarkan bahwa Jepang menyerah setelah bom atom meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki.

Dalam buku Darul Islam: Kartosoewirjos Kampf Um Einen Islamischen Staat Indonesien karya Holk Harald Dengel disebutkan bahwa desas-desus tentang penyerahan Jepang itu didengar Kartosoewirjo sehari setelah bom di Nagasaki. ”Itu yang menjadi pegangan Kartosoewirjo yang memandang kemerdekaan Indonesia sudah saatnya,” ujar peneliti DI/TII Al Chaidar.

Apalagi, dalam siaran radio itu disebutkan bahwa Jepang belum membuat daftar daerah yang akan diserahkan ke sekutu. Momentum itulah yang kemudian ingin dimanfaatkannya. ”Belum ditulis pemerintah Jepang, daerah mana yang akan diserahkan,” ujarnya.

Setelah itu, Kartosoewirjo menyusun naskah proklamasi versinya sendiri. Naskah itu disebarkan ke setiap orang yang dia kenal. Dia juga berencana memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jakarta pada 14 Agustus. Lalu, pada 11 Agustus, Kartosoewirjo berangkat dari rumah mertuanya di Malangbong dengan menggunakan kereta api menuju Bandung. Setelah itu, dari Bandung dia ke Jakarta. ”Tanggal 14 Agustus di Jakarta, Kartosoewirjo mencoba mengumpulkan semua orang untuk proklamasi,” paparnya.

Baca juga: Mengenang Drama Jelang Proklamasi Kemerdekaan RI (1)

Namun, rencana itu tinggal rencana. Banyak tokoh, terutama kaum muda, yang tidak yakin dengan ketokohan Kartosoewirjo. Yang pada akhirnya membuat proklamasi versi Kartosoewirjo gagal diselenggarakan. ”Bahkan terjadi penolakan,” ujarnya.

Al Chaidar mengaku sedang mencari naskah proklamasi versi Kartosoewirjo yang sempat disebar tersebut. Mungkin ada di perpustakaan Universitas Leiden, Belanda. ”Tapi belum ketemu,” terang dia kepada Jawa Pos kemarin.

Meski begitu, Al Chaidar menduga bahwa upaya Kartosoewirjo untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia itu membuat para pemuda seperti Sutan Sjahrir, Wikana, dan tokoh lainnya gusar. Kejadian itulah, salah satunya, yang membuat para pemuda mendesak Soekarno-Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan. ”Tidak ingin kalah cepat dari Kartosoewirjo,” jelasnya. Namun, desakan para tokoh pemuda tersebut tak kunjung direalisasikan. Karena itu, mereka memutuskan menculik dua proklamator tersebut. Dia menuturkan, tanpa langkah Kartosoewirjo itu, bisa jadi proklamasi kemerdekaan Indonesia lebih lambat dari 17 Agustus 1945. ”Ya, itulah yang mempercepat proklamasi oleh Soekarno-Hatta,” tuturnya.



Dalam Perundingan Renville, pemerintah Indonesia setuju untuk meninggalkan Jawa Barat. Hal itu membuat Kartosoewirjo kecewa. Lalu, pemerintah Indonesia yang meninggalkan Jawa Barat itu dijadikan dasar Kartosoewirjo mendirikan Negara Islam Indonesia (NII) pada 7 Agustus 1949 di Desa Cisampah, Ciawalingar, Tasikmalaya, Jawa Barat. ”Pengikutnya sepakat dengan itu,” jelasnya.

Peristiwa tersebut menjadi awal babak pemberontakan yang panjang. Kartosoewirjo baru tertangkap setelah 13 tahun. Pemberontakan itu selesai pada 1962, tepatnya saat Kartosoewrijo dieksekusi mati pada 5 September di tahun tersebut. ”Pemberontakan yang kemudian dicampuri juga oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Belanda,” paparnya.

Al Chaidar menuturkan, selama pemberontakan tersebut, terjadi banyak kejanggalan. Mulai pemerkosaan, pembakaran rumah, dan pembunuhan warga sipil. Yang ternyata, banyak di antaranya yang dilakukan PKI dan Belanda. ”Ini yang sedang saya teliti hingga saya di Belanda saat ini,” urainya. (*/habis)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore