Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 25 Januari 2019 | 14.20 WIB

Perjalanan Panjang Kopi Taji, Awal Ditolak, Kini Permintaan Membeludak

KUALITAS EKSPOR: Heri menunjukkan Kopi Taji berkualitas ekspor yang ditanam di Lereng Gunung Bromo. - Image

KUALITAS EKSPOR: Heri menunjukkan Kopi Taji berkualitas ekspor yang ditanam di Lereng Gunung Bromo.

Kopi Taji di Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang boleh dikata sebagai salah satu primadona di Jawa Timur. Sebelum berjaya dan mensuplai sejumlah perusahaan untuk diekspor, perjalanan kopi yang diproduksi di Lereng Gunung Bromo ini pun cukup terjal.


Dian Ayu Antika Hapsari, Malang


JawaPos.com – Saat ini Desa Taji di Malang menjadi salah satu sentra produksi kopi. Hal itu tidak lain berkat usaha bersama dan juga peran Babinsa Taji Sertu Heri Purnomo. Pasalnya, Heri berhasil menggerakkan masyarakat dengan kembali menanam kopi.


Awalnya dibentuk tiga kelompok tani. Kegiatannya pun bermacam-macam. Mulai dari penyuluhan baik dari penyuluh pertanian, ahli kopi atau akademisi dan praktisi. Juga ada studi banding ke sentra produksi kopi di tempat lain. Muaranya, meningkatkan kualitas dan kuantitas kopi.


"Awalnya ya ditolak, dianggap remeh dan sebelah mata. Tapi kan masyarakat butuh bukti. Setelah saya bisa buktikan, mereka bergabung. Alhamdulillah bisa ikut meningkatkan kesejahteraan kopi," katanya, Kamis (24/1).


Perjalanan biji kopi berkualitas ini cukup panjang. Setelah proses pembibitan dan muncul tunas, dipindahkan ke polybag. Setelah dirasa akarnya kuat baru dipindahkan ke kebun. Waktu mulai dari pembibitan hingga panen setidaknya butuh waktu dua tahun.


Kemudian, setelah berbuah merah, siap untuk dipanen. Usai dipetik segar alias petik merah, baru disortasi atau dipilah. Jika ada yang hijau atau busuk, segera dibuang.


Selanjutnya, direndam dengan air yang melimpah ruah. Tujuannya, agar bisa mengetahui biji merah yang tenggelam atau mengambang. Jika mengambang, segeralah buang. "Biji yang mengambang itu kualitasnya buruk," kata anggota Kodim/0818 itu.


Biji pilihan itu kemudian dicuci bersih dan ditiriskan dalam waktu 15 menit. Baru kemudian dimasukkan ke mesin yang namanya pulper. Tujuannya, memisahkan kulit merah dengan bijinya.


Usai dipisahkan, dijemur di green house yang berbentuk kubah. Di sini, suhunya diatur maksimal 40 derajat celsius. Proses jemur memakan waktu 21 hari. Jika musim hujan seperti sekarang, butuh setidaknya satu bulan.


Saat dijemur, biji primadona ini juga harus diawasi dan diperlakukan seperti ratu. Dijaga agar tak sampai ada jamur. Jika ada jamur, segera buang agar tak sampai merambah ke lainnya.


Penjemuran ini dilakukan agar kadar air hanya menjadi 13-20 persen. Setelah kering, baru di-huller atau memisahkan antara biji dengan kulit cangkang. Nantinya akan mendapatkan bentuk green bean.


"Jika tidak langsung di-roasting, disimpan di tempat kering dan tertutup. Biji kopi ini sudah dinantikan oleh pengusaha kafe. Kami punya pasar sendiri. Biasanya memasok kuintalan biji," kata laki-laki yang pernah menjadi sopir truk itu.


Dalam proses kopi untuk menghasilkan cita rasa nikmat dan berbeda-beda, mereka menggunakan tiga metode proses. Yakni natural, honey dan wash. "Semua proses itu hasilnya berbeda-beda rasanya," imbuhnya sembari menyodorkan segelas kopi arabica kepada JawaPos.com.


Kopi arabica yang diracik sendiri oleh Heri ini memang memiliki cita rasa jempolan. Tidak begitu kuat namun aromanya tetap 'memabukkan'.

Editor: Sari Hardiyanto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore