Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 23 Januari 2019 | 21.36 WIB

Ke Kumandang, Pasar tanpa Rupiah dan Wajib Berbahasa Jawa

PASAR DI HUTAN: Asngari dengan latar belakang beberapa lapak di Pasar Kumandang (13/1). - Image

PASAR DI HUTAN: Asngari dengan latar belakang beberapa lapak di Pasar Kumandang (13/1).


''Kami di sini tidak hanya menjual barang. Tapi juga mengedukasi cinta terhadap alam,'' tutur Asngari.


Karena itu pula, pasar seluas setengah hektare tersebut, sebagaimana juga tertulis di plang pintu masuk, nirplastik. Lapak berukuran sekitar 1 x 2 meter terbuat dari bambu, sedangkan kursi dan meja dari kayu.


Besek menjadi pengganti piring. Untuk melapisi besek, para pedagang menggunakan daun pisang. Untuk menyajikan minuman, para pedagang memakai gelas kaca.


Jadi, ya jangan harap bisa membungkus es teh, misalnya. Kecuali kalau pembeli membawa wadah sendiri.


Pasar yang terletak 17 kilometer dari pusat kota Wonosobo itu mulai buka pada Mei tahun lalu. Dilandasi semangat untuk memberikan penghasilan tambahan bagi warga setempat yang mayoritas bekerja sebagai petani atau pekebun.


Tidak langsung seramai sekarang, tentu saja. Penjual dan pembeli hanya datang dari desa sekitar.


Geliat Pasar Kumandang baru mulai terasa setelah dibuka resmi oleh Wakil Bupati Wonosobo Agus Subagyo, tiga bulan setelah pasar berjalan. Eksposur dari pembukaan itu mengundang ketertarikan pada pasar dengan berbagai aturan langka tersebut.


Pembeli berdatangan dari berbagai penjuru, termasuk dari luar Wonosobo. Jumlah pedagang yang semua berasal dari Dusun Bongkotan bertambah. Hingga akhirnya mencapai 70 orang.


Muaranya adalah pasar yang menyajikan keanekaragaman makanan dan minuman. Maknyus dan murah-murah pula.


Jawa Pos sempat menjajal mi ongklok. Cuma tiga keping alias Rp 4 ribu. Padahal, saat andok mi yang sama di Kota Wonosobo, dua hari kemudian, harganya hampir tiga kali lipat: Rp 10 ribu.


Lebih mahal, tapi tak lebih enak. Di Kumandang, tekstur minya lebih kenyal. Bumbunya sangat nendang. Terutama aroma bawang putihnya. Cuma kalah dari segi banyaknya suwiran ayam.


Untuk melonggarkan tenggorokan, jamu temulawak yang manis dan segar bisa dinikmati hanya dengan satu keping. Sebelum kemudian menjajal sego megono yang dicampur sama tempe kemul.


Tempe kemul ini persis tempe mendoan. Hanya penganan khas Wonosobo itulah yang boleh dijual di semua lapak di Kumandang. Kombinasi sego megono plus tempe kemul itu bisa dinikmati dengan hanya membayar tiga keping. Coba, nikmat apa lagi yang kau dustakan?


Dari Kota Wonosobo, untuk menjangkau Pasar Kumandang, jika tak membawa kendaraan pribadi, harus dua kali berganti kendaraan umum. Pertama dengan minibus yang disebut ''angkot atas'' oleh warga setempat. Dilanjutkan ojek selama sekitar 7 menit.


Pasar Kumandang buka mulai pukul 07.00 sampai pukul 13.00. Sepanjang durasi itu, Umi, seorang penjual klepon, mengaku rata-rata bisa menjual 30 porsi. Dengan harga seporsi satu keping saja.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore