
PRIVAT: Hilda Septriani (kanan) mengajar kelas Bahasa Indonesia di Institut Negeri-Negeri Asia dan Afrika, Lomonosov Moscow State University. Kelas itu diikuti para mahasiswa Rusia.
Bahasa Indonesia cukup dikenal di Rusia. Beberapa kampus di sana memiliki kelas khusus bahasa Indonesia. Seperti apa suasana pembelajarannya? Berikut laporan wartawan Jawa Pos Bayu Putra yang baru pulang dari Rusia.
---
STREBKOVA Anastasia Sergeevna tampak antusias mengikuti kuliah di Institut Negeri-Negeri Asia dan Afrika Lomonosov Moscow State University Senin (10/12) lalu. Hari itu sang dosen Hilda Septriani mengenalkan Jakarta lebih dalam kepada dia dan sembilan rekannya. Mulai kondisi kotanya hingga apa saja yang menarik dari Jakarta.
Hari itu Rusia begitu dingin. Suhu tercatat minus 1 derajat Celsius. Salju menumpuk di halaman gedung fakultas yang dicat warna dominan kuning gading. Meskipun demikian, kelas bahasa Indonesia yang diikuti Nastya -sapaannya- dan kawan-kawan tetap hangat dengan bantuan pemanas ruangan.
Kelas yang cukup lapang itu berisi sepuluh orang. Tiga bendera terpajang di tembok kelas: Indonesia, Malaysia, dan Filipina.
Di bagian belakang terdapat lemari yang berisi buku-buku berbahasa asing. Baik Indonesia, Filipina, maupun bahasa lainnya. Ada pula alat musik angklung yang dipajang di atas lemari buku tersebut.
Sebagai mahasiswa jurusan bahasa Indonesia, Nastya juga memiliki nama Indonesia. Oleh pengajar sebelum Hilda, Nastya diberi nama Asti. Kawan-kawannya juga demikian. Ada yang bernama Elis, Wening, Satria, hingga Galang. Nama itu hanya dipakai saat mereka berada di kelas bahasa Indonesia.
Kelas bahasa di kampus tersebut benar-benar dibatasi dalam hal jumlah peserta. Total ada 20 mahasiswa, baik di level S-1, S-2, hingga S-3, yang mempelajari Indonesia. Tidak hanya belajar bahasa, mereka juga mempelajari kondisi sosial dan politik Indonesia sebagai bagian dari perkuliahan. Tidak sekadar belajar kata-kata sederhana.
Asti sudah setahun belajar bahasa Indonesia. Meskipun gaya bicaranya masih kaku, tampak jelas penguasaan kosakatanya semakin baik. Gadis 19 tahun itu juga tampak berupaya membalas obrolan dengan bahasa Indonesia.
Mahasiswa tingkat pertama tersebut sudah pernah datang ke Indonesia pada Agustus lalu. Saat itu dia dan sejumlah temannya berlibur ke sejumlah kota di Jawa dan Bali. "Ke Jakarta, Bandung, Jogjakarta, dan saya juga pernah ke Bali. Di Bali saya tinggal di Ubud," jelasnya. Penguasaan terhadap kosakata Indonesia sehari-hari cukup membantu selama dia berlibur.
Mahasiswi asal Tambov, Rusia, itu menerangkan, di jurusan bahasa Indonesia itu dirinya mengambil studi ilmu politik. Hanya, dia merasa masih kesulitan untuk memahami istilah-istilah politik. "Tapi, saya senang karena bahasa Indonesia itu unik," lanjut gadis berambut cokelat tersebut.
Di Rusia, ungkap Asti, tidak banyak perempuan yang berkarir di bidang politik. Karena itu, dia mengaku sempat bingung akan bekerja di mana bila lulus kuliah nanti. Yang membuat Asti tertarik dengan ilmu politik adalah dirinya bisa mempelajari hubungan antara Rusia dan Indonesia. "Sejarah Indonesia juga menarik dipelajari," ucapnya.
Asti masuk jurusan bahasa Indonesia karena dorongan sang ayah. Awalnya dia justru lebih tertarik belajar bahasa Mandarin. "Tapi, ayah saya mau saya belajar bahasa Indonesia," tambahnya. Sang ayah sangat menyukai Indonesia meskipun tidak bisa berbahasa Indonesia dan belum pernah datang ke Indonesia. Setelah beberapa kali mengikuti kelas, Asti akhirnya makin menyukai pengalaman barunya itu.
Untuk meningkatkan kualitas pengajaran bahasa Indonesia, KBRI Moskow sudah mendapat bantuan pengajar bahasa Indonesia bagi penutur asing (BIPA) dari Kemendikbud. Pada semester kali ini, yang datang untuk mengajar di Institut Negeri-Negeri Asia dan Afrika adalah Hilda Septriani. Sehari-hari Hilda adalah dosen Universitas Padjadjaran Bandung.
Menurut Hilda, tugasnya adalah membantu dosen-dosen Rusia yang ada di kelas bahasa Indonesia tersebut. "Tidak hanya soal bahasa, tapi juga budaya, sistem politik, sejarah, ekonomi, dan sebagainya," terangnya. Semua harus diajarkan secara inklusif kepada para mahasiswa. Karena itu, bahan ajarnya pun beragam.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
