Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 25 Desember 2018 | 20.31 WIB

Kisah Para Nelayan Pandeglang yang Selamat dari Tsunami (1)

Topi Ka (kedua kiri) dan Sunara (kedua kanan), sang penakluk Tsunami bersama Pengurus Kelompok Nelayan Tanjung Lesung, Casman (kiri) dan Rasyim (kanan), saat berada di Dermaga Nelayan Sidamukti Tanjung Lesung Banten. - Image

Topi Ka (kedua kiri) dan Sunara (kedua kanan), sang penakluk Tsunami bersama Pengurus Kelompok Nelayan Tanjung Lesung, Casman (kiri) dan Rasyim (kanan), saat berada di Dermaga Nelayan Sidamukti Tanjung Lesung Banten.


Seluruh awak kapalnya siaga. Cemas, juga berdoa. Semua barang sudah diikat dengan kuat agar bila kena guncangan keras tidak mudah terempas.


Rasyim ingat betul tinggi gelombang itu sekitar 30 meter. Kapal Baru Jaya dengan panjang 15 meter dan lebar 2,5 meter itu seolah mendaki untuk bisa melewati ombak tersebut. Tinggi gelombang tsunami itu dua kali lipat dari panjang kapal tersebut. "Kapalnya sampai berdiri tegak gini," kata Rasyim sambil memperagakan tangan kanannya membuat sudut siku-siku. Seluruh anak buahnya pegangan erat pada apa pun. Dia tak terlalu ingat berapa lama "pendakian" gelombang itu terjadi.


Selain pakai teknik pengendalian kapal, menurut Rasyim, ada keberuntungan yang menyertainya. Kapal itu bisa melewati ombak tinggi dan turun dengan cukup mulus. "Kalau saya turun melewati bukit ombak dengan mengentak, hampir bisa dipastikan kapal itu akan pecah," ujar dia.


Lepas dari ombak pertama, datang ombak kedua. Tingginya sekitar 15 meter. Kali ini cukup mudah bagi Rasyim dan kru untuk bisa melewati ombak tersebut. Datang lagi ombak ketiga dengan tinggi 10 meter.


Setelah tiga ombak besar tersebut, laut kembali tenang seperti semula. Setelah melewati masa-masa kritis itu, Rasyim pun menghubungi keluarganya di rumah. Dia disarankan untuk tidak pulang dulu. Sebab, kondisi di kampung Sidamukti juga porak-poranda oleh terjangan tsunami.


Pantauan Jawa Pos, Senin kemarin masih banyak kapal yang rusak. Ada juga kapal yang seperti habis terdorong ombak besar dengan posisi melintang.


Casman, 52, salah seorang pengurus kelompok nelayan Sidamukti, menuturkan bahwa kapalnya yang berukuran 21 gross tonnage juga jadi korban. Setengah buritan kapal itu tenggelam. Kapal tersebut tepat di depan kantor polisi perairan. "Kalau bagian belakang itu masih bisa nanti diperbaiki," kata Casman.


Di perkampungan Sidamukti juga masih berserakan sampah atau puing-puing kayu. Beberapa warga terlihat membersihkan puing-puing itu dari depan rumah mereka.


Rasyim yang mendapatkan kabar kondisi kampungnya rusak diterjang tsunami langsung memilih bertahan di laut. Dia berlindung di Pulau Liwungan bersama anak buahnya sembari berharap tidak ada tsunami lagi. Minggu sekitar pukul 01.30 dia pun memutuskan untuk kembali ke kampung dengan perkiran bisa sampai saat hari sudah terang.


Dari para tetangga dan rekan sesama nelayan, Rasyim tahu bahwa masih banyak yang tak seberuntung dirinya. Terutama nakhoda dan anak buah lima kapal yang hendak dia temui. Mereka juga berjuang melewati malam-malam yang mengerikan itu.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore