
Puspita Eka Putri saat berada di Posko Antemortem RS Polri Kramat Jati, Jakarta, Selasa (30/10). Rumah Sakit Polri Kramat Jati sudah memeriksa 151 anggota keluarga untuk mendukung pemeriksaan antemortem atau ciri fisik korban insiden Lion Air.
Siapa yang dapat menerka umur? Belum lama pamit, belum lama update status WhatsApp, tapi sesaat kemudian pergi selamanya. Kepergian mendadak orang-orang tercinta membuat keluarga korban kecelakaan pesawat Lion Air begitu terpukul.
FERLYNDA PUTRI - JUNEKA S. MUFID, Jakarta
---
MENDUNG kelabu menggelayuti langit di atas Gedung Sentral Visum dan Medikolegal Rumah Sakit Bhayangkara Tk I Raden Said Sukanto.
Mata sembap dan isak tangis keluarga korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 menambah kelabu suasana rumah sakit (RS) yang dikenal dengan nama RS Polri Kramat Jati itu.
Salah seorang keluarga korban adalah Toni Priyonoadhi. Putri ketiganya, Puspita Eka Putri, turut menjadi korban. "Tanggal 26 lalu anak saya ulang tahun yang ke-24," ungkap Toni lirih kemarin (30/10).
Foto-foto yang dijepret saat Putri ulang tahun masih tertempel di kamar rumahnya yang berada di Bali View Jatiwaringin, Bekasi. Sesuai pesan perempuan berhijab itu pada malam sebelum berangkat, foto-foto di kamar tersebut tidak boleh dicopot. "Dia juga tidak mau diantar ke bandara," kenang Toni.
Anak ketiganya itu kukuh ingin berangkat sendiri. Padahal, sebelumnya, entah mama atau saudaranya pasti selalu mengantar. Toni merasa kecolongan karena menuruti apa yang diucapkan putrinya.
"Saya dapat kabar dari saudara bahwa pesawat Putri kecelakaan. Itu saya sedang nyetir. Mobil saya pinggirkan. Saya menangis," bebernya. Hatinya berkecamuk. Putri yang paling dekat dengannya telah menghadap Sang Pencipta.
Kesedihan mendalam juga menggelayut di hati Firman Linus. Sahabatnya, Paul Ferdinan Ayorbaba, ada di dalam Boeing 737 Max 8 yang jatuh itu. Sebelum berangkat, Firman sempat mengantar sang rekan, bahkan merekam video Ferdinan ketika masuk ke bandara. "Di kantor Pak Ferdi (sapaan Ferdinan, Red) itu satu meja dengan saya," kenang pegawai PT Marindo tersebut.
Mereka sering bertukar cerita. Sering makan siang bersama. Yang membuat Firman makin sedih adalah kukuhnya Ferdi untuk berangkat ke Pangkalpinang. Padahal, Firman-lah yang sebenarnya ditugaskan untuk berangkat ke sana mengantar dokumen.
Tapi, Ferdi bersikeras berangkat karena merasa itu adalah tugasnya. "Pak Ferdi memang tugasnya di bagian dokumen. Seharusnya saya yang di pesawat itu, saya yang jadi korban," katanya dengan suara bergetar.
Firman pun bertekad setiap hari akan menunggui proses identifikasi di RS Polri. Walaupun tim DVI Polri menargetkan identifikasi baru bisa selesai empat hingga delapan hari ke depan. Sebab, hingga kemarin belum ada keluarga Ferdi yang bisa datang ke RS.
Sementara itu, suasana duka juga membayangi crisis center korban Lion JT 610 di halaman Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Keluarga korban yang baru mendarat di bandara tersebut langsung menuju lokasi crisis center yang terletak di halaman bandara.
Misalnya Mariana yang datang tergopoh-gopoh sambil menangis menuju tempat informasi dan pendataan sore (sekitar pukul 15.30) kemarin. Dia langsung menanyakan kabar putranya, Muhammad Nasir. Perempuan dari Aceh Selatan itu tak henti-henti menangis. Dia seolah masih belum percaya kabar duka yang menyelimuti keluarganya. "Anak saya, Pak. Anak saya. Bawa pulang anak saya, Pak," pinta Mariana berurai air mata.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
