
Putri Permata Sari didepan mesin jahit di Kediamannya di Cikini Jakarta Pusat, (21/9)
Keikutsertaan di Jakarta Modest Fashion Week sangat mengangkat kepercayaan diri Ninik dan Puput. Kini mereka ingin bisa memasukkan karya ke department store dan, lebih jauh lagi, pasar internasional.
ANISATUL UMAH, Jakarta
---
KILAT blitz puluhan fotografer, juga sorot warna-warni lampu laser, masih terekam jelas dalam ingatan Sri Indriani Noersetyaningsih. Begitu pula aplaus meriah di atrium Gandaria City, Jakarta. Yang tak bisa dia dengar, tapi bisa dia tangkap lewat ekspresi ratusan orang di sana. Yang memaksa matanya berkaca-kaca.
"Saya terharu, bangga juga," kata perempuan yang akrab disapa Ninik tersebut dengan terbata-bata.
Hari itu, 28 Juli 2018, Ninik, seorang desainer tuli (lebih senang disebut demikian ketimbang tunarungu), melihat karya busananya diperagakan dengan apik. Oleh rekan-rekannya sesama penyandang disabilitas. Dalam sesi Dream and Design for Disabilities yang merupakan bagian dari Jakarta Modest Fashion Week itu.
Sebagian duduk di kursi roda. Ada juga yang memakai kruk untuk menopang kaki. Ada yang memiliki satu lengan. Dua di antaranya adalah atlet renang peraih emas ASEAN Para Games 2017 di Kuala Lumpur, yakni Laura Aurelia Dinda dan Nor Aimah.
Modest Fashion Week yang menampilkan banyak busana muslim itu sebelumnya diselenggarakan di tiga metropolitan dunia. Masing-masing Istanbul Modest Fashion Week pada Mei 2016, London Modest Fashion Week pada April 2017, dan Dubai Modest Fashion Week pada Desember 2017. Ajang tersebut dimotori Franka Soeria, pengusaha mode dari Indonesia yang bermukim di Istanbul, Turki.
Kebanggaan serupa dirasakan oleh desainer tuli lainnya, Putri Permata Sari. Meski, di antara lima desain yang dia ajukan, hanya satu yang bisa tampil dalam ajang yang sama.
"Senang sekali rasanya," katanya.
Meraih kebanggaan dalam ajang internasional tersebut merupakan buah kegigihan panjang keduanya. Melawan kekurangan diri sendiri. Menepis keraguan banyak orang.
Saat berkomunikasi, Ninik selalu fokus membaca gerak bibir lawan bicara. Lalu, menjawab pertanyaan dengan kalimat yang terbata-bata. Sesekali kakinya menyenggol-nyenggol kucing berbulu cokelat yang dia pelihara.
Dia pun lantas mengingat-ingat awal perkenalannya dengan dunia desain. Itu dimulai saat dia masuk Jurusan Desain Akademi Seni Rupa dan Desain Institut Sarjana Wanita Indonesia (Asride ISWI) Jakarta pada 1989. Setelah lulus pada 1992, perempuan kelahiran Klaten, Jawa Tengah, 50 tahun silam tersebut sempat bekerja sebagai desainer di PT Arbo Nasional.
Sebenarnya, perempuan yang tuli sejak lahir tersebut ingin membuka butik sendiri. Namun, karena terkendala biaya, dia memulai usaha dengan membuka jasa jahit di rumahnya.
"Saya sejak kecil memang suka bikin kerajinan," ujar Ninik yang sejak kecil sering berpindah mengikuti penugasan ayahnya yang merupakan polisi.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
