Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 21 September 2018 | 22.15 WIB

Mengantarkan Hasni Pulang setelah 15 Tahun Tinggal di Gua

PULANG KE RUMAH: Hasni (kedua dari kiri) akhirnya bisa berkumpul bersama ayah dan keluargany di Dusun Penyapu, setelah difasilitasi Tim P2TP2A Tolitoli. - Image

PULANG KE RUMAH: Hasni (kedua dari kiri) akhirnya bisa berkumpul bersama ayah dan keluargany di Dusun Penyapu, setelah difasilitasi Tim P2TP2A Tolitoli.


Itu semua diperlukan karena sangat tak mudah membenahi persoalan kejiwaan seseorang yang selama 15 tahun tinggal di gua. Dan, mengalami pelecehan seksual.


Berdasar hasil pemeriksaan polisi sebelum menetapkan Tete Jago sebagai tersangka kasus persetubuhan anak di bawah umur, diketahui bahwa pelecehan itu dilakukan tiap pukul 19.00. Di sebuah ruang khusus rumah yang ditempati si kakek 83 tahun dan istri.


Istrinya, Ratni, mengaku sebenarnya mengetahui perbuatan itu. Tapi, takut. Dia menganggap itu bagian ritual untuk menambah kesaktian Tete Jago sebagai dukun. "Tidak, tidak setiap hari, Pak," kilah Tete Jago di tengah apitan petugas pengawal dalam salah satu pemeriksaan.


Hasni sejatinya masih punya hubungan keluarga dengan Tete Jago. Hasni adalah adik Devi, istri Udin, putra Tete Jago. Karena itu, ketika kasus tersebut meletus, rumah Udin di desa yang sama dengan sang ayah juga dijaga ketat polisi karena dikhawatirkan jadi pelampiasan kemarahan warga.


Mobil yang kami tumpangi terus melaju. Di tengah kondisi badan yang agak bergoyang karena jalanan kurang mulus, Diah menceritakan, selama masa pendampingan Hasni, pengamatan perilaku dilakukan secara mendetail. "Kami juga mengenalkan dia dengan suasana kota, udara segar pantai, dan keramaian. Tapi, kita tidak lepas begitu saja, tetap dikawal," kata Diah.


Sepotong jalan rusak baru saja kami lewati. Dusun Penyapu sudah tak jauh lagi. Hasni tetap terlihat ceria. Seperti yang juga telah dia tunjukkan selama dalam masa pendampingan.


Dari yang dulunya lunglai, linglung, pendiam, dan sering mengigau. Berubah menjadi tegar, ceria, serta berhasrat ingin belajar mengaji dan salat.


Tak terasa jarum jam hampir menunjuk angka tiga. Di halaman sebuah rumah kecil, mobil kami berhenti. Itulah rumah Mamun, ayahanda Hasni.


Dan, pecahlah keharuan itu begitu pintu mobil dibuka. Mamun, Andis (kakak Hasni), dan anggota keluarga lain langsung menghambur. Memeluk erat si anak hilang. Bersama-sama menangis.


Andis pernah menuturkan kepada Radar Sulteng bagaimana sang ibu pernah begitu terpukul atas hilangnya Hasni, si anak bungsu. Upaya pencarian sudah dilakukan hingga ke Jawa dan Kalimantan, tapi tanpa hasil.


Keluarga akhirnya menyerah. Menganggap Hasni hilang. Atau telah tiada, entah di mana. "Setiap hari beliau sedih memikirkan adik kami. Frustrasi hingga sakit-sakitan dan meninggal," tuturnya.


Tapi, si bungsu itu akhirnya kembali. Ke rumah yang hanya berukuran 4 x 3 meter, tapi kini terasa nyaman sekali itu. "Terima kasih tim P2TP2A dan semua yang sudah banyak membantu, baik kepolisian maupun dinas terkait lainnya. Semua orang lah," tutur Mamun sambil menyeka air matanya.


Kepada keluarga, Diah berpesan benar agar tidak pernah menyinggung mengenai Tete Jago. Supaya mental Hasni yang semakin membaik tak goyah lagi.


Diah juga berjanji tetap memantau kondisi Hasni. P2TP2A akan berkoordinasi pula dengan balai latihan kerja. Rencananya, Hasni diikutsertakan kegiatan pelatihan atau kursus. Misalnya, memasak dan merias.


"Hasni ini pandai menata rias wajah lho. Mudah-mudahan saja, bakatnya tersalur sehingga bisa benar-benar melupakan sejarah kelamnya," kata Diah.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore