
Miftah Maulana Habiburrahman atau Gus Miftah
Meski terus mendapatkan cibiran, namun tidak membuat Gus Miftah berhenti berdakwah di tengah-tengah kaum yang terpinggirkan. Klub malam, tempat prostitusi hingga salon plus-plus telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Bagaimana ceritanya.
Ridho Hidayat, Jogjakarta
JawaPos.com - Bertahun-tahun berdakwah di klub malam, dan bercengkrama dengan banyak orang membuat Miftah Maulana Habiburrahman (Gus Miftah) semakin meyakini tujuan hidupnya.
Dengan merogoh kocek pribadi, pria berusia 37 tahun tersebut rela blusukan untuk mengajak para pemandu karaoke (Lady Companion) hingga Pekerja Seks Komersial (PSK) kembali ke jalan yang benar.
Jalan dakwahnya telah digariskan. Kini, dakwahnya di klub malam, tempat prostitusi hingga salon plus-plus mulai menampakkan hasilnya. Respons para pekerja malam pun mulai terlihat. Bahkan, menurut pria yang akrab disapa Gus Miftah itu mengaku banyak yang mencarinya ketika dirinya jarang menyapa jamaahnya.
"Ternyata anak-anak (klub malam) banyak yang berharap juga. Kalau di Bali saya lama enggak kelihatan, saya di-japri (kirim pesan). Menanyakan, kapan ke sini lagi," katanya kepada JawaPos.com, Rabu (12/9).
Agar materi yang disampaikannya lebih cepat ditangkap oleh jamaah, ia pun menggunakan metode seperti stand up comedy. Memakai bahan yang dihiasi dengan candaan-candaan. Namun pada akhir-akhir materi, selalu disisipkan dengan hal-hal yang lebih mendalam. Sehingga tak jarang membuat mereka menangis.
Jamaahnya setelah mengikuti pengajian pun merasakan kebutuhannya untuk mendapatkan siraman rohani. Terlebih, Pekerja Seks Komersial (PSK) jarang mendapatkan ajaran seperti itu. Ketika kaum-kaum seperti itu berniat ingin ikut pengajian di tempat umum pun merasa risih. Karena pastinya anggapan dari jamaah lain yang cenderung negatif.
Masalah mereka bertobat atau apakah mendapatkan hidayah atau tidak, itu sudah bukan jangkauannya. Meski diakuinya banyak jamaah yang memberitahukan kalau tak lagi bekerja di klub malam sebagai PSK. "Hidayah itu harus dijemput. Kalau hidayah itu datang, itu bukan karena saya. Tapi karena Allah sudah menghendaki mendapat hidayah," katanya.
Pengasuh dari pondok pesantren Ora Aji di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) itu pun akan terus melakukannya. Berdakwah di tempat-tempat kaum marjinal. Terlebih beberapa ulama, salah seorang Abah Habib Luthfi dari Pekalongan, Jawa Tengah (Jateng) mengizinkannya. "Lanjutkan, jarang yang bisa seperti kamu," kata Gus Miftah, menirukan perkataan ulama Habib Luthfi.
Kini, jalan panjang Gus Miftah masih menanti. Ia pun berharap dengan metodenya tersebut membuat orang kembali ke jalan yang benar. Dan meninggalkan perbuatan sesat yang selama ini dilakoninya. Tidak mudah memang, tetapi namanya berdakwah bisa dimana saja. “Sekali lagi, urusan hidayah itu hanya milik Allah,” pungkasnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Bali United FC vs Sabah FC di Dewata Challenge Series 2026: Serdadu Tridatu Berpesta!
Pegawai Diskominfo Kukar Bakar Kantor Usai Wajah Dijadikan Stiker WA
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Eks Dewas KPK Albertina Ho Tak Lolos Seleksi CHA di KY, TII Bandingkan dengan Politikus Golkar Ini
Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
3 Fakta Gonzalo Ritacco, Pemain Incaran Persebaya Surabaya yang Pernah Lawan Son Heung-min
HUT ke-81 RI, Naik Suroboyo Bus dan Wira Wiri Cuma Rp81, Berlaku Sepekan
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor Everton vs Newcastle di Stadion Scottish Gas Murrayfield
Doktif Sebut Richard Lee Transfer Uang ke Mucikari, Klaim Gunakan Anak di Bawah Umur
