Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 13 Juni 2018 | 00.21 WIB

Mengeksplorasi Istanbul sembari Berpuasa 17 Jam

Suasana buka puasa di kawasan depan Masjid Biru, Istanbul (29/6). - Image

Suasana buka puasa di kawasan depan Masjid Biru, Istanbul (29/6).


"Ada beberapa iftar (buka puasa) yang gratis dibiayai pemerintah. Tapi, yang di sini bayar sendiri." Begitu kata seorang petugas polisi yang ditemui Jawa Pos.


Setelah menikmati suasana festival di sekitar halaman Masjid Biru, Jawa Pos memesan makanan. Satu paket seharga TRY 30 atau Rp 90 ribu. Isinya dua potong besar daging ayam panggang plus kentang goreng. Satu mangkuk sup, 2 roti tawar, 1 gelas air mineral, dan 1 gelas besar yoghurt.


"Tiga menit lagi, Brother," ujar Beth, seorang pria yang duduk di samping saya.


Orang-orang Turki memang ramah-ramah. Sering di dalam perjalanan mereka menyapa dan mengajak ngobrol apa saja.


Begitu azan terdengar, ratusan orang yang berada di sana terdengar mengucap hamdalah dan membaca doa bersama. Syahdu rasanya. Haru sekali bisa berbuka bersama secara masal dengan ratusan orang meski tak saling kenal. Lebih haru lagi karena berhasil melewati tantangan berpuasa 17 jam.


Setelah berbuka, Jawa Pos langsung menuju Masjid Biru untuk salat Magrib. Sejak awal memang ingin merasakan salat Tarawih juga di sana. Ternyata, jeda antara Magrib dan Isya cukup lama.


Azan salat Isya dikumandangkan sekitar pukul 23.00. Sebelumnya, jeda antara Magrib dan Isya diisi dengan ceramah panjang dan pembacaan ayat-ayat suci Alquran. Tarawih berlangsung 23 rakaat termasuk witir. Baru selesai sekitar pukul 24.00. Jadi, bagi warga Istanbul, hanya ada waktu 3,5 jam untuk istirahat dan mempersiapkan sahur.


Keesokan harinya Jawa Pos melanjutkan eksplorasi. Kembali menaiki trem menuju Pelabuhan Eminonu. Tujuannya adalah menyeberang ke sisi Asia Istanbul dengan menyeberangi Selat Bosphorus.


Dari Pelabuhan Eminonu ke Pelabuhan Uskudar hanya ditempuh kurang dari setengah jam. Dengan pemandangan menakjubkan sepanjang perjalanan.


Sesampai di Uskudar, waktu menunjuk pukul 13.00. Sesaat kemudian, terdengar suara azan. Suara itu datang dari dua masjid jamik yang jaraknya terpisah sekitar 100 meter. Yakni, Masjid Valide-i Cedid yang dibangun pada 1708-1711 dan Masjid Mihrimah Sultan yang umurnya lebih tua karena berdiri sejak 1548.


Seperti di Indonesia, di Istanbul banyak masjid yang lokasinya sangat berdekatan. Tapi, ada yang menarik ketika azan terdengar. Kalau di Indonesia bilal di setiap masjid mengumandangkan azan secara bersamaan, di Uskudar tidak begitu.


Mereka melakukannya dengan bergantian. Misalnya, setelah mengumandangkan Allahu Akbar..Allahu Akbar.., bilal di Masjid Mihrimah akan berhenti sejenak untuk memberikan kesempatan bagi bilal di Masjid Valide-i Cedid untuk menyerukan seruan yang sama.


Setelah selesai, bilal kedua tadi berhenti sejenak, memberikan waktu kepada bilal pertama untuk mengumandangkan Asyhadu Alla Ilaha Illallah. Begitu seterusnya sampai selesai.


Jawa Pos memutuskan menghentikan langkah dan duduk sejenak di depan pelabuhan, demi menikmati harmoni lantunan azan yang sahut-menyahut dengan merdu tersebut. Indah sekali. Meski wilayah pelabuhan tersebut sibuk sekali, ketika waktu salat datang, masjid selalu dipenuhi jamaah. 

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore