
TERGENANG: Jalanan pantura Cirebon tepatnya di Klayan Kecamatan Gunungjati Kabupaten Cirebon terendam banjir Minggu (11/3).
Rob menenggelamkan ribuan hektare lahan dan puluhan ribu warga di berbagai kota turut terkena dampak. Tanah di pantai utara sensitif. Seperti tumpukan pasir, digali di pinggir, akan longsor ke lubang galian tersebut.
TAUFIQURRAHMAN, Semarang - M. AINUL ATHO, Pekalongan
---
HENRI Setiawan dengan cemas menyaksikan ketinggian air di dalam rumahnya. Makin tinggi...makin tinggi Lalu, seiring kian dekatnya waktu berbuka puasa, satu per satu mulai tenggelam: seperangkat komputer, televisi, kulkas, lalu...
Sebelum semuanya terlambat, warga Kelurahan Panjang Baru, Kota Pekalongan, Jawa Tengah, itu memilih bergegas meninggalkan rumah. Dengan hanya membawa baju yang melekat di tubuh. Dan, satu unit laptop.
Dia tak sendirian. Puluhan warga lain juga mulai meninggalkan kediaman masing-masing. Menuju tempat pengungsian di ujung kampung di tepian pantai utara Jawa tersebut.
Tapi, itu pun tak mudah. Jalanan kampung sudah terkepung air setinggi kira-kira lutut orang dewasa.
"Air rob masuk rumah dengan cepatnya hingga ketinggian 1 meter. Saat rumah saya tinggal, motor saya, jenis motor sport, hanya terlihat tutup bensinnya," tutur Henri kepada Radar Pekalongan (Jawa Pos Group).
Hari itu, Rabu (23/5), rob atau banjir air laut di Kota Pekalongan mencapai puncak. Setelah sejak awal Mei hampir setiap sore air rob datang merendam wilayah-wilayah langganan terdampak. Banjir disebut paling parah sepanjang sejarah.
Hampir seluruh wilayah di Pekalongan Utara dan sebagian wilayah di Pekalongan Barat terendam rob. Di wilayah-wilayah langganan, ketinggian air bisa mencapai satu hingga satu setengah meter.
Catatan posko induk penanganan rob Kota Pekalongan, pada 23 Mei sekitar 5.000 warga mengungsi. Sebanyak 3.500 jiwa dari Pekalongan Utara dan 1.500 jiwa lainnya dari Pekalongan Barat.
Sebagian warga lainnya memilih bertahan di rumah masing-masing. Total ada 20.760 KK yang terdampak banjir rob.
Tapi, itu bukan fenomena sehari dua hari. Rob sewaktu-waktu bisa menyerang dalam kurun sekitar delapan bulan dalam setahun. Umumnya dari April sampai Desember. Tanpa harus dibarengi hujan.
Dan, itu telah terjadi puluhan tahun. Tak cuma di Pekalongan. Rob juga menjadi bagian keseharian warga di tepian pantai utara Jawa. Di Jawa Tengah, yang dialami warga Pekalongan juga dirasakan mereka yang tinggal di kawasan serupa di Tegal, Semarang, Demak, dan Jepara.
Baidi, kepala desa (Kades) Tanggul Tlare, Jepara, mengingat, pada 1970-an desanya masih sekitar 1 kilometer dari bibir pantai. Tapi, satu setengah dekade kemudian, warga akhirnya harus mengungsi.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
