
Pak Kentut (Ihsan Hadi) saat menjajakan mie ayam di warungnya di Jalan Pepabri Raya, Kunciran Pinang, Tangerang, Sabtu (21/4)
Apalah arti sebuah nama. Ungkapan itu memang terdengar klise. Namun, ketika sebuah nama yang kurang baik disematkan terhadap seorang anak, bisa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti cemoh oleh banyak orang. Anak itu juga bisa menanggung malu seumur hidupnya, gara-gara nama yang diberikan oleh orang tuanya.
Oleh : Intan Piliang
Sabtu (21/4) pagi, langit di ‘Kota Benteng’ terlihat cerah. Kecerahan cuaca ini pun tak disia-siakan oleh seorang pria yang berprofesi sebagai pedagang mie ayam yang berlokasi di Jl. Pepabri Raya, Kunciran, Pinang, Tangerang, untuk mengais rezeki.
Rona ceria tampak terlihat di wajahnya saat JawaPos.com menyambangi depot (warung) mie ayam nya. Meskipun tengah sibuk melayani pembeli, dia tetap ramah ketika diajak berbincang.
Memang sekilas tak ada yang aneh pada sosok pria kelahiran Karanganyar, Jateng 30 tahun silam tersebut. Pria ini masih tampak bugar, normal dan sehat. Namun, ada yang unik dan terdengar aneh perihal nama aslinya, yakni ‘Kentut’.
Namanya belakangan ramai diperbincangkan di jagad maya dan seluruh masyarakat yang tinggal di lingkungan tempat tinggalnya. Ini karena dianggap sedikit aneh mengingat arti dari 'kentut' itu sendiri.
Atas berbagai cemohan yang diterima, dia pun terpaksa mencoba mengganti namanya menjadi Ihsan Hadi dengan mengajukan permohonan ke PN Tangerang.
Rencananya jika tak ada aral merintang, Senin (23/4) pekan depan, hakim akan memutuskan apakah pengajuan pergantian namanya akan dikabulkan, atau justru ditolak. Sidang awal sendiri sudah terlaksana pada Senin (16/4) kemarin.
Dalam mengurus penggantian namanya, dia mengaku dirinya harus rela meluangkan waktu sekitar satu bulan. Namun hal itu tak menyurutkan semangatnya untuk dapat memperoleh nama yang layak bagi dirinya.
"Pertama minta surat ke RT/RW langsung konsultasi ke pengadilan persyaratannya apa aja, bagian administrasi diperlengkap apa saja?. Kemudian pendaftaran, pengadilan terus memanggil, pas Senin (16/4) kemarin sidang," tuturnya saat berbincang dengan JawaPos.com.
Kentut menuturkan, alasannya, berniat ingin menganti namanya, karena dirinya merasa malu karena kerap diejek sejak kecil. Selain itu, dia juga tak ingin jika nanti anaknya dewasa, takut timbul masalah yang tidak diinginkannya.
Terkait nama yang disematkan orang tuanya dari kecil itu, Kentut menuturkan jika hal ini sebenarnya tak terlalu dirisaukannya. Hal ini karena sejumlah murid yang mengaji dengannya sudah mengenal namanya dengan nama Ihsan Hadi, yang artinya petunjuk yang bagus. Namun, karena anaknya malu karena kerap diejek oleh teman-temannya perihal namanya yang aneh, dia pun tak tega membiarkan anaknya terus bermuram durja.
"Anak di sini sekolah di sini, yang 8 tahun kelas 2 Muhammad Firdamullah Al Firdaus, dan 7 tahun kelas 1 Brian Koes Al Asraf, dan yang perempuan 1,5 tahun Linta Zuhyin Khasanah," jelas pria yang juga berprofesi sebagai guru mengaji tersebut.
Perihal kekecewaan anaknya tersebut, awalnya anak sulungnya, Firdamullah tanpa sengaja melihat KTP nya yang tertulis nama Kentut. Sontak sang anak pun terkejut dan langsung bertanya kepada sang ayah mengapa namanya demikian.
"Waktu itu anak yang kelas 2 SD (Firdamullah), lagi bersih-bersih rumah menemukan KTP saya. Dia lihat, ini nama bapak ini? Kok namanya gitu," paparnya memelas.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
