
Jhoni Tunggul, seniman patung dari Desa Tuk, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon sedang menyelesaikan proses pembuatan patung, Senin (2/4).
JawaPos.com - Berawal dari keterpurukannnya menjalani hidup, membuat Jhoni Tunggul berpikir keras agar bisa menghidupi anak dan isterinya.
Ide briliannya muncul seketika, saat ia melihat tunggul-tunggul (sisa pohon yang ditebang) yang tergeletak di pelataran rumahnya di suatu pagi.
Benaknya pun melayang dan bak mendapatkan ilham. Jhoni, 55, warga Desa Tuk, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon itu akhirnya merubah tunggul-tunggul tersebut menjadi sebuah sejumlah karya seni bernilai tinggi.
Pantas saja, namanya dikenal dengan nama Jhoni Tunggul, lantaran kepiawaiannya membuat patung dari pangkal pohon (tunggul).
Sejak 1997, Jhoni memilih menjadi seniman patung yang dibuat dari pangkal pohon. Sebelumnya, ia hanya sebagai pekerja serabutan. Seperti, tukang las, tukang bangunan, hingga penarik becak.
Karya seni rupa buah tangan Jhoni Tunggul itu sudah tembus ke mancanegara. Dari mulai Kanada, Jepang, Australia, dan Malaysia.
"Daripada waktu itu saya nganggur. Saya berpikir bagaimana caranya, mengubah benda yang nggak bermanfaat jadi bisa terpakai. Kebetulan adanya akar tunggul ini, saya buat awalnya untuk kursi dan meja, tapi saya buat juga patung," ungkapnya di sela-sela kesibukannya membuat patung di rumahnya, Senin (2/4).
Akar atau pangkal pohon dipilih menjadi bahan baku utama pembuatan patung, karena harganya lebih murah dan lebih memiliki nilai seni.
Tunggul yang didapatkannya, biasanya membeli kepada kenalannya. Bahkan, sudah banyak orang yang menawarkan menjual tunggul kepada Jhoni. Pangkal pohon yang digunakan, biasanya kayu jati, mahoni, mangga, dan kayu pilihan lainnya.
Proses pembuatan patung unik itu memakan waktu dua minggu hingga satu bulan. Tergantung pada bentuk dan kesulitan ukirannya.
Harga satu patung, Jhoni memasang harga dari Rp 6-15 juta. Motif ukirannya, beragam. Akan tetapi, ia lebih tertarik dengan motif visualisasi alam liar, yaitu raja-raja hewan yang tinggal di alam liar. Seperti, singa si raja hutan, monyet penguasa pohon, naga penguasa air, elang penguasa udara dan sebagainya.
"Secara filosofis, visualisasi alam itu menyiratkan makna, bahwa hewan hidup tidak memakan sesama temannya. Kalau jadi orang yah jangan makan temen sendiri," kata Jhoni.
Pengerjaan proses pembuatan patung, Jhoni Tunggul dibantu adiknya, Misja Tomo, 47. Mereka berdua saling membantu menjalankan usaha seni patung. Sehingga dalam proses pembuatan hingga pemasaran, mereka sangat kewalahan untuk mengenalkan seni patung buatannya.
Tomo mengatakan, beberapa kali patung-patungnya dipamerkan di tingkat nasional dan internasional. Namun demikian, kendala yang dialami adalah sulitnya memasarkan dan mengenalkan bahwa karyanya itu memang bernilai.
Ia pun berharap, suatu saat nanti bisa memiliki galeri atau gerai agar bisa memamerkan patung-patung buatannya. Selama ini, ia hanya mengandalkan pelataran rumah untuk dipakai tempat pembuatan patung.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
