Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 3 April 2018 | 16.00 WIB

Dari Pekerja Serabutan hingga Menjadi Pematung yang Karyanya Mendunia

Jhoni Tunggul, seniman patung dari Desa Tuk, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon sedang menyelesaikan proses pembuatan patung, Senin (2/4). - Image

Jhoni Tunggul, seniman patung dari Desa Tuk, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon sedang menyelesaikan proses pembuatan patung, Senin (2/4).

JawaPos.com - Berawal dari keterpurukannnya menjalani hidup, membuat Jhoni Tunggul berpikir keras agar bisa menghidupi anak dan isterinya.


Ide briliannya muncul seketika, saat ia melihat tunggul-tunggul (sisa pohon yang ditebang) yang tergeletak di pelataran rumahnya di suatu pagi.


Benaknya pun melayang dan bak mendapatkan ilham. Jhoni, 55, warga Desa Tuk, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon itu akhirnya merubah tunggul-tunggul tersebut menjadi sebuah sejumlah karya seni bernilai tinggi.


Pantas saja, namanya dikenal dengan nama Jhoni Tunggul, lantaran kepiawaiannya membuat patung dari pangkal pohon (tunggul).


Sejak 1997, Jhoni memilih menjadi seniman patung yang dibuat dari pangkal pohon. Sebelumnya, ia hanya sebagai pekerja serabutan. Seperti, tukang las, tukang bangunan, hingga penarik becak.


Karya seni rupa buah tangan Jhoni Tunggul itu sudah tembus ke mancanegara. Dari mulai Kanada, Jepang, Australia, dan Malaysia.


"Daripada waktu itu saya nganggur. Saya berpikir bagaimana caranya, mengubah benda yang nggak bermanfaat jadi bisa terpakai. Kebetulan adanya akar tunggul ini, saya buat awalnya untuk kursi dan meja, tapi saya buat juga patung," ungkapnya di sela-sela kesibukannya membuat patung di rumahnya, Senin (2/4).


Akar atau pangkal pohon dipilih menjadi bahan baku utama pembuatan patung, karena harganya lebih murah dan lebih memiliki nilai seni.


Tunggul yang didapatkannya, biasanya membeli kepada kenalannya. Bahkan, sudah banyak orang yang menawarkan menjual tunggul kepada Jhoni. Pangkal pohon yang digunakan, biasanya kayu jati, mahoni, mangga, dan kayu pilihan lainnya.


Proses pembuatan patung unik itu memakan waktu dua minggu hingga satu bulan. Tergantung pada bentuk dan kesulitan ukirannya.


Harga satu patung, Jhoni memasang harga dari Rp 6-15 juta. Motif ukirannya, beragam. Akan tetapi, ia lebih tertarik dengan motif visualisasi alam liar, yaitu raja-raja hewan yang tinggal di alam liar. Seperti, singa si raja hutan, monyet penguasa pohon, naga penguasa air, elang penguasa udara dan sebagainya.


"Secara filosofis, visualisasi alam itu menyiratkan makna, bahwa hewan hidup tidak memakan sesama temannya. Kalau jadi orang yah jangan makan temen sendiri," kata Jhoni.


Pengerjaan proses pembuatan patung, Jhoni Tunggul dibantu adiknya, Misja Tomo, 47. Mereka berdua saling membantu menjalankan usaha seni patung. Sehingga dalam proses pembuatan hingga pemasaran, mereka sangat kewalahan untuk mengenalkan seni patung buatannya.


Tomo mengatakan, beberapa kali patung-patungnya dipamerkan di tingkat nasional dan internasional. Namun demikian, kendala yang dialami adalah sulitnya memasarkan dan mengenalkan bahwa karyanya itu memang bernilai.


Ia pun berharap, suatu saat nanti bisa memiliki galeri atau gerai agar bisa memamerkan patung-patung buatannya. Selama ini, ia hanya mengandalkan pelataran rumah untuk dipakai tempat pembuatan patung.

Editor: Sari Hardiyanto
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore