
Kopda Budi Santoso dipapah ketika sampai garis finis setelah berenang 39 kilometer melintasi Selat Sunda. Budi menerima hadiah Mitsubishi Xpander.
Di antara sekian banyak perenang andal Korps Marinir, Kopda Budi Santoso termasuk yang terbaik. Lomba Renang dan Dayung Lintas Selat Sunda 2018 adalah pembuktiannya. Dia tercatat paling cepat berenang menyeberangi selat pemisah Jawa dan Sumatera itu.
SAHRUL YUNIZAR, Jakarta
---
MATAHARI hampir menampakkan diri ketika Kopda Budi Santoso nyaris kehabisan tenaga di antara gelombang Selat Sunda. Dalam benaknya, berkali-kali mucul pertanyaan. Di mana finisnya? Berkali-kali, sampai Budi tidak bisa mengingat. Namun, dia tidak kunjung menemukan jawaban. Budi terus menggerakkan kaki untuk sampai di tujuan. Yakni Pantai Tanjung Sekong, Banten, titik akhir Lomba Renang dan Dayung Lintas Selat Sunda 2018.
Budi merupakan satu di antara 289 perenang yang turut ambil bagian dalam event yang berlangsung pada 2-3 Maret itu. Bersama dengan ratusan perenang lain, dia bertolak dari Pelabuhan Bandar Bakau Jaya, Lampung, sekitar pukul 21.00.
Melintasi selat pemisah Jawa dan Sumatera dengan jarak tidak kurang dari 39 kilometer. Berenang menjelang tengah malam sampai pagi hari bukan perkara mudah. Meski sudah punya jam renang tinggi, tetap saja berenang malam dengan jarak puluhan kilometer tidak bisa dianggap enteng. Banyak tantangan yang harus ditaklukkan.
Lomba Renang Selat Madura yang diselenggarakan Koarmatim akhir tahun lalu menjadi salah satu menu latihan prajurit kelahiran Wonosobo, Jawa Tengah, itu. Meski tidak menang, bekalnya bertambah ketika berhasil menaklukkan Selat Madura. "Untuk pemanasan ke event ini," ungkapnya ketika berbincang dengan Jawa Pos pekan lalu.
Jauh hari sebelum agenda yang dilaksanakan dalam rangka HUT Ke-72 Korps Marinir tersebut, Budi melakukan banyak persiapan. Enam hari dalam sepekan dia berlatih tanpa putus. "Minimal berenang empat jam sehari di kolam Cilandak (markas Korps Marinir, Red)," imbuhnya. Untuk menguji kemampuan, tidak jarang Budi berlatih renang lebih dari lima jam dalam sehari. Selain itu, kebugaran fisik dan stamina terus dipacu. Lari saban hari menjadi menu wajib. Juga latihan fisik lain yang dijalani tanpa henti.
Semakin dekat dengan hari H event, latihan yang dilakoni kian keras. Bersama dengan ratusan peserta lain, dia mendapatkan izin untuk berlatih di medan lomba. Ya, berlatih di Selat Sunda. "Dua hari berenang siang, satu hari malam, satu hari dini hari," papar Budi. Dia sudah tidak asing dengan Selat Sunda. Saat event serupa diselenggarakan sebelas tahun lalu, dia menjadi warga Marinir yang mendapat tugas melakukan test event.
Karena itu pula, sama sekali tidak ada keraguan dalam benak Budi untuk ikut dalam lomba tersebut. "Cuma start dan finis yang beda," kenang pria kelahiran 1984 tersebut. Dia tidak pernah membayangkan menjadi yang tercepat. Sejak pra sampai lomba terlaksana, dia hanya berkonsentrasi memberikan yang terbaik untuk diri sendiri, keluarga, tim, pelatih, dan pimpinan.
Karena itu, seperti kebanyakan peserta, Budi memulai lomba dengan doa. Minta restu kepada orang tua dengan menelepon langsung ibunda tercinta di kampung halaman. Juga menghaturkan doa untuk almarhum ayahnya. Kemudian, dia melakukan peregangan beberapa menit untuk pemanasan. Sambil berjalan dari tenda ke garis start, dia putar beberapa lagu dari telepon genggamnya.
Sesaat sebelum menceburkan diri ke Selat Sunda, Budi memeriksa seluruh peralatan yang menempel di tubuhnya. Mulai snorkel sampai pelampung. Tidak lupa, dia juga mengikatkan tiga bungkus air bercampur madu. Kata Budi, madu itu khusus dipesannya dari kampung halaman. Madu asli yang diambil dari hutan. "Untuk tambah stamina," ujarnya. Agar mudah ketika ingin meminumnya, Budi menggantungkan tiga bungkus air campuran madu tersebut pada pelampung yang dikenakan.
Begitu KSAL Laksamana TNI Ade Supandi melepas seluruh peserta, Budi dengan sigap meluncur ke arena lomba. Dia beradu cepat dengan ratusan peserta lain. Entah berapa lama ratusan peserta itu berenang berdekatan. Yang pasti, tidak banyak peserta lain yang bisa dia lihat ketika sudah agak jauh dari lokasi start. Apalagi, begitu jarak yang ditempuh sudah lebih dari 10 km, yang kentara di mata Budi hanya kapal pandu dan tim SAR.
Begitu masuk tengah malam, tantangan yang harus ditaklukkan bertambah. Bukan lagi sebatas rasa khawatir, arus, dan gelombang. Kantuk juga menjadi kendala. Saking beratnya, dia berkali-kali nyaris tertidur. Untung, gelombang yang datang silih berganti membuatnya kembali sadar. Sehingga tidurnya hanya sesaat. "Supaya nggak ngantuk, saya zikir terus. Semakin ngantuk, semakin keras (suara) zikir saya," ucapnya. Itu pula yang membantu Budi setiap pertanyaan di mana finisnya muncul.
Seingat Budi, zikir dilantunkannya sejak garis start, tapi lebih banyak dalam hati. Hanya, ketika kantuk menyerang, dia keraskan suara zikirnya. Setidaknya supaya dia tahu bahwa dirinya masih sadar. Selain zikir, madu yang dia bawa amat membantu. Jadi penambah tenaga ketika dia merasa staminanya berkurang. Madu itu bisa membuat dia bertahan lebih lama sehingga dapat terus berenang sampai garis finis. Kian dekat dengan garis finis, kian berat pula kaki Budi untuk digerakkan.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
