Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 15 Februari 2018 | 21.05 WIB

Kisah Prof Ranuh, Dokter, Bidani Kurikulum Pendidikan Dokter Anak

PENGABDIAN PANJANG: Prof dr I.G.N. Gde Ranuh SpA (K) bermain biola saat Tribute Lecture XVI di Aula Fakultas Kedokteran Unair, Surabaya, kemarin (14/2). - Image

PENGABDIAN PANJANG: Prof dr I.G.N. Gde Ranuh SpA (K) bermain biola saat Tribute Lecture XVI di Aula Fakultas Kedokteran Unair, Surabaya, kemarin (14/2).


Prof dr IGN Gde Ranuh SpA(K) termasuk penyusun Kurikulum Pendidikan Dokter Anak Indonesia yang terus digunakan sampai kini. Pejuang semasa muda. Masih rutin bermain biola dan berenang sampai di usia 88 tahun sekarang ini.


DWI WAHYUNINGSIH, Surabaya


---


HADIRIN di aula Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga, Surabaya, bagaikan terhipnotis. Mereka menyimak dengan penuh perhatian perpaduan permainan biola dan piano kemarin siang (14/2) itu.


Setelah dua lagu lewat, aplaus panjang dari tamu undangan Tribute Lecture XVI itu pun terdengar Ditujukan kepada siapa lagi kalau bukan kepada Prof dr IGN Gde Ranuh SpA(K) yang memegang biola. Juga, Prof Dr dr Jusak SpPK (K) yang menemaninya melalui piano.


"Dari kecil sudah kenal dengan musik. Soalnya, ayah saya hobi bermain suling dan biola," tutur Ranuh.


Tribute Lecture XVI itu diselenggarakan untuk menghormati jasa Prof Ranuh di Program Pendidikan Dokter Spesialis Anak FK Unair. Pria 88 tahun tersebut menjadi salah satu orang yang membidani terbitnya Kurikulum Pendidikan Dokter Anak Indonesia.


Kurikulum itu pertama disusun dan diresmikan pada 1976. Kemudian disempurnakan pada 1978 dan 1990.


Sampai kini, kurikulum tersebut menjadi pedoman di dunia pendidikan dokter anak. Keterlibatannya itu pula yang membuat pria kelahiran Jember, Jawa Timur, tersebut mendapat penghargaan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia pada 1978.


Penghargaan itu pun menjadi awal berbagai penghargaan lain yang akhirnya didapat Ranuh atas dedikasinya terhadap pendidikan dokter anak. Termasuk dari anggota Board APSSEAR (Association of Pediatrics, S.E.Asian Region) di Tokyo, Jepang, 1988.


Sampai sekarang, ayah empat anak dan kakek 13 cucu itu masih aktif menjadi guru besar emeritus di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Di almamaternya tersebut, suami RA Rabiatul Abdijah itu juga menjadi salah satu perintis lembaga yang kini dikenal sebagai Institute of Tropical Disease Unair.


Jiwa Ranuh sebagai pengajar, tampaknya, menitis dari sang ayah, I Gusti Ketut Ranuh. Tapi, sebelum akhirnya bisa menjadi dokter dan dosen dengan segudang prestasi, perjalanan berliku harus dilewatinya.


Saat kecil, Ranuh harus sering berpindah tempat. Mengikuti penugasan sang ayah sebagai guru.


Saat SD, dokter kelahiran 23 November 1929 itu sempat pindah sekolah empat kali. Dimulai dari Jogjakarta pada 1934 hingga akhirnya menyelesaikan sekolah di Solo pada 1943.


Tapi, jalan pendidikan buyut tiga cicit itu sempat berhenti di bangku kelas II SMA. Gara-garanya, terjadi agresi militer Belanda yang membuat dia harus mendekam di balik jeruji besi Belanda. Sebab, dia merupakan satu di antara 10 siswa SMA yang dididik untuk membuat bom molotov.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore