Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 6 Februari 2018 | 21.36 WIB

Sosok Kreatif, Selalu Membuat Sesuatu yang Berbeda

Yockie Prayogo - Image

Yockie Prayogo


Dunia musik tanah air kembali berduka. Yockie Suryo Prayogo kemarin pagi mengembuskan napas terakhir di usia 63 tahun. Konser Menjilat Matahari yang digelar pada 11 Oktober 2017 seakan menjadi salam perpisahan sang maestro.


JUNEKA S.M.-NORA S., Jakarta


---


MENYEBUT nama Yockie Suryo Prayogo sama halnya dengan menyebut sederet karya besar dalam sejarah musik Indonesia. Album Badai Pasti Berlalu (1977) yang dia kerjakan bersama Eros Djarot dan Chrisye merupakan album terbaik Indonesia sepanjang zaman versi Rolling Stone Indonesia (dan juga versi jutaan penikmat musik).


Eros ingat betul, ketika itu, setelah menciptakan lagu-lagu untuk film Badai Pasti Berlalu, dirinya mencari sosok yang cocok untuk mengerjakan aransemen musiknya. Walau ketika itu Yockie dikenal sebagai rocker, Eros melihat ada sentuhan kreativitas di balik itu yang belum dieksplorasi. "Saya datang ke rumahnya, kami diskusi. Kita coba eksplor, mengekstrak not-not di wilayah klasik," tutur Eros, yang ketika dihubungi tadi malam baru mendarat dari Medan.


Yockie, yang kelahiran 14 September 1954, mulanya berangkat dari musik klasik. Namun, jelajah kreativitasnya meluas dengan berbagai genre lain, menjadikan aransemennya kaya akan eksplorasi. Rock, progresif, juga pop. Kerja sama me­reka terus berlanjut. "Saya bikin lirik, dia mengisi piano. Notasi, saling mengisi. Sudah seperti senyawa," ucapnya.


Bagi Eros, Yockie merupakan arranger yang luar biasa. "Badai Pasti Berlalu kalau bukan dia yang aransemen mungkin tidak akan sebagus itu," ungkap Eros Di mata Eros, Yockie merupakan sosok yang selalu gelisah. Selalu mencoba membuat sesuatu yang berbeda. Keras kepala. Tapi, itulah ciri seorang seniman. Yockie mungkin tidak mudah dipahami beberapa musisi lain. "Kalau buat saya, dia sudah seperti adik. Saya sangat kehilangan," tutur Eros, yang tidak bisa menghadiri pemakaman Yockie karena menjadi pembicara sebuah acara di Medan.


Yockie mengembuskan napas terakhir kemarin (5/2) pukul 07.35 WIB di RS Pondok Indah, Bintaro Jaya, Tangerang Selatan. Mantan personel band legendaris God Bless itu pergi untuk selamanya di usia 63 tahun. Tapi, kenangan Yockie tetap hidup dalam hati dan benak teman-temannya.


Gitaris God Bless Ian Antono yang datang ke pemakaman mengenang Yockie sebagai orang yang sangat idealis dalam bermusik. Tidak ada kompromi untuk aransemen yang jelek. Kalau sudah begitu, cekcok tak jarang terjadi.


"Dulu pernah, saat rekaman God Bless, drumnya Teddy Sujaya. Kalau ndak enak, dia (Yockie, Red) ndak pakai kom­promi, diganti aja sama mesin. Cuman, saya ngerti maksudnya dia bagus," kata Ian.


Dia menduga, Yockie merasa bahwa rekaman suara yang pertama diambil tersebut tidak bagus sehingga diganti dengan suara keyboard. Meskipun Teddy marah-marah, akhirnya semua bisa menerima keputusan Yockie. Menurut Ian, aliran musik Yockie berakar pada musik klasik. Di album God Bless yang pertama pada 1975, Huma di Atas Bukit, aransemennya banyak dikerjakan Yockie. Begitu pula album Semut Hitam (1988) yang paling laris.


Orang yang paham musik pun akan langsung tahu warna musik Yockie dalam sebuah aransemen. Lebih dari seorang rekan satu grup, bagi Ian, Yockie sudah dianggap sebagai keluarga sendiri. Ian bercerita, Yockie-lah yang memboyongnya dari Malang ke Jakarta untuk bergabung dengan God Bless. Tidur pun, kadang dia bermalam di rumah Yockie. Begitu pula sebaliknya.


Yockie juga merupakan musisi lintas generasi. Terbukti, ketika diadakan konser untuk penggalangan dana bagi Yockie, yang tampil juga musisi lintas zaman. Salah satunya Rian Ekky Pradipta. Vokalis band D'Masiv itu memiliki kesan mendalam tentang sosok Yockie. Rian menyebut Yockie sebagai maestro dan inspirasinya dalam bermusik. "Dari kecil, saya sudah mendengarkan karya-karya Om Yockie," ujar vokalis 31 tahun itu. Antara lain album Badai Pasti Berlalu dan album Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) yang dirilis pada 1978.


Rian terus mengikuti perjalanan bermusik Yockie ketika bersama God Bless. Kemudian membentuk Kantata Takwa bersama Iwan Fals dan Sawung Jabo. Yockie juga memberikan pengaruh besar dalam rock progresif di Indonesia. "Menurut saya, pengalaman bermusik Om Yockie itu belum tentu ada yang menyamai," papar Rian.


Yang paling berkesan buat Rian, Yockie bersedia mengisi elemen musik untuk lagu Mengetuk Pintu di album kelima D'Masiv. "Yang saya tahu, Om Yockie sangat idealis dan pemilih untuk berkolaborasi," ujarnya.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore