Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 30 Desember 2017 | 02.37 WIB

Gaya Hidup Berpindah ala Pemain Hiburan Keliling

TETAP FEMINIM: Titin Edi Susanto, 27,  di gendong suaminya Edi Susanto, 31, saat jalanann becek  di lapangan desa Mulyodadi Wonoayu, Sidoarjo, Sabtu Malam (9/12) - Image

TETAP FEMINIM: Titin Edi Susanto, 27, di gendong suaminya Edi Susanto, 31, saat jalanann becek di lapangan desa Mulyodadi Wonoayu, Sidoarjo, Sabtu Malam (9/12)


Titin meninggalkan tiga anaknya di kampung. Anak-anaknya diasuh orang tuanya, Ji’in dan Siswanti. Anaknya yang paling besar, M. Arga Setiawan, termasuk mbok-mboken, sangat dekat dengan Titin. Sebab, sejak kecil, dia tidak pernah jauh dari ibunya.


Saking dekatnya, setiap kali Titin pulang, bocah sebelas tahun itu selalu terlihat bahagia. Hal tersebut sangat kontras saat Arga ditinggal ibunya. Bocah yang masih duduk di kelas V sekolah dasar itu langsung jatuh sakit berhari-hari. ’’Jadi mending tidak pulang. Kalau saya ndak pulang, ndak ada kabar sakit atau apa,” katanya.


Karena kedekatan itu pula, dia sering bermimpi tentang anaknya. Tak jarang, dia menangis ketika bermimpi tentang buah hatinya tersebut.


’’Ingat anak tidur sendirian,’’ tuturnya sambil memandang langit-langit. Salah satu cara untuk membayar lunas kerinduannya, menelepon anaknya. Sehari sekali dia selalu menyempatkan mengontak anaknya itu.


Lain lagi suami Titin, Edi. Dia jarang pulang ke rumah karena memang tidak diizinkan oleh bosnya. Sebab, dia termasuk mempunyai keahlian komplet. Mantan sopir truk tersebut juga bertugas sebagai teknisi mesin. Setiap kali ada kerusakan, dialah yang menyelesaikannya. ’’Kalau ditinggal, tiba-tiba ada masalah, tidak ada yang bisa memperbaiki,’’ jelasnya.


Hanya Londo yang pernah pulang dalam waktu lama. Itu pun terjadi lantaran dia merajuk. Pria asal Pare, Kediri, tersebut dua bulan pulang kampung pada Maret lalu. Dia sempat ingin berhenti dan beralih menjadi petani di desa.


Namun, dia mengaku bahwa kehidupannya jadi ’’garing’’. Maklum, pekerjaannya menjaga loket wahana keranjang asmara (bianglala) membuatnya sering bertemu orang-orang baru. ’’Sing njaga ganteng, sing numpak ayu-ayu (penjaganya ganteng, penumpangnya cantik-cantik, Red),’’ selorohnya.


Wajahnya yang cukup rupawan tak jarang membuat penumpang perempuan kesengsem. Setelah menikmati wahana, tak sedikit pengunjung meminta nomor teleponnya. Hubungan pun sempat intens meski sementara. Itu sebatas saat pertunjukan. ’’Di lapangan cinta bersemi, tapi pasar malam harus segera pergi,’’ tuturnya.


Meski begitu, dia mengaku senang hidup berpindah-pindah. ’’Semakin banyak daerah, makin banyak saudara dan teman,’’ ungkapnya.

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore