
TETAP FEMINIM: Titin Edi Susanto, 27, di gendong suaminya Edi Susanto, 31, saat jalanann becek di lapangan desa Mulyodadi Wonoayu, Sidoarjo, Sabtu Malam (9/12)
Titin meninggalkan tiga anaknya di kampung. Anak-anaknya diasuh orang tuanya, Ji’in dan Siswanti. Anaknya yang paling besar, M. Arga Setiawan, termasuk mbok-mboken, sangat dekat dengan Titin. Sebab, sejak kecil, dia tidak pernah jauh dari ibunya.
Saking dekatnya, setiap kali Titin pulang, bocah sebelas tahun itu selalu terlihat bahagia. Hal tersebut sangat kontras saat Arga ditinggal ibunya. Bocah yang masih duduk di kelas V sekolah dasar itu langsung jatuh sakit berhari-hari. ’’Jadi mending tidak pulang. Kalau saya ndak pulang, ndak ada kabar sakit atau apa,” katanya.
Karena kedekatan itu pula, dia sering bermimpi tentang anaknya. Tak jarang, dia menangis ketika bermimpi tentang buah hatinya tersebut.
’’Ingat anak tidur sendirian,’’ tuturnya sambil memandang langit-langit. Salah satu cara untuk membayar lunas kerinduannya, menelepon anaknya. Sehari sekali dia selalu menyempatkan mengontak anaknya itu.
Lain lagi suami Titin, Edi. Dia jarang pulang ke rumah karena memang tidak diizinkan oleh bosnya. Sebab, dia termasuk mempunyai keahlian komplet. Mantan sopir truk tersebut juga bertugas sebagai teknisi mesin. Setiap kali ada kerusakan, dialah yang menyelesaikannya. ’’Kalau ditinggal, tiba-tiba ada masalah, tidak ada yang bisa memperbaiki,’’ jelasnya.
Hanya Londo yang pernah pulang dalam waktu lama. Itu pun terjadi lantaran dia merajuk. Pria asal Pare, Kediri, tersebut dua bulan pulang kampung pada Maret lalu. Dia sempat ingin berhenti dan beralih menjadi petani di desa.
Namun, dia mengaku bahwa kehidupannya jadi ’’garing’’. Maklum, pekerjaannya menjaga loket wahana keranjang asmara (bianglala) membuatnya sering bertemu orang-orang baru. ’’Sing njaga ganteng, sing numpak ayu-ayu (penjaganya ganteng, penumpangnya cantik-cantik, Red),’’ selorohnya.
Wajahnya yang cukup rupawan tak jarang membuat penumpang perempuan kesengsem. Setelah menikmati wahana, tak sedikit pengunjung meminta nomor teleponnya. Hubungan pun sempat intens meski sementara. Itu sebatas saat pertunjukan. ’’Di lapangan cinta bersemi, tapi pasar malam harus segera pergi,’’ tuturnya.
Meski begitu, dia mengaku senang hidup berpindah-pindah. ’’Semakin banyak daerah, makin banyak saudara dan teman,’’ ungkapnya.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
