Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 12 Desember 2017 | 02.33 WIB

Anak Kuli Batu Bisa Terbangkan Pesawat

PEKERJA KERAS: Rizal Awalludin Adiansyah dari kuli batu kini menjadi pilot. - Image

PEKERJA KERAS: Rizal Awalludin Adiansyah dari kuli batu kini menjadi pilot.


Sejak sang ayah di-PHK, Rizal mulai mandiri dan tidak ingin merepotkan orang tua. Ketika masuk SMAN 19 Surabaya, salah satu sekolah favorit di Surabaya, dia berusaha menyisihkan waktu untuk bekerja.


Rizal bekerja sebagai pelayan di Hotel Sheraton dan di sebuah katering. ”Setiap Sabtu dan Minggu saya bekerja. Senin-Jumat sekolah,” ujar dia. Penghasilannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pendidikannya.


Rizal mengatakan, sejak kecil, dirinya sangat suka belajar. Dia juga mengikuti kegiatan les di luar sekolah. Biayanya dipenuhi dari hasil bekerjanya setiap akhir pekan. ”Alhamdulillah bisa. Pokoknya, enggak merepotkan bapak dan ibu,” kata dia.


Kegigihan itu membuahkan hasil. Pada saat kelas XI SMA, dia melihat pengumuman yang ditempel di papan sekolah. Awalnya, Rizal kurang tertarik. Sebab, dia ingin menjadi TNI/Polri. Namun, gagal. Lantaran ada temannya yang mengajak, dia mendaftar beasiswa pilot yang ada di pengumuman itu. ”Saya menemani teman saya melengkapi administrasi,” ujarnya.


Awalnya, Rizal kurang percaya diri untuk mendaftar pilot. Sebab, untuk menjadi pilot, dibutuhkan biaya yang cukup besar. Sementara itu, ekonomi keluarga tidak mampu. Setelah mendaftar, tidak ada kabar dari pemkot. ”Saya menduga tidak diterima,” katanya.


Sambil menunggu pengumuman yang tidak kunjung datang, dia tetap mendaftar ke perguruan tinggi negeri (PTN). Melalui seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNM PTN), Rizal diterima di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Jurusan Ilmu Keolahragaan dan Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) Jurusan Multimedia Broadcasting. ”Saya akhirnya memilih Unesa,” ujar dia.


Sudah masuk satu semester, tiba-tiba ada pengumuman dari pemkot bahwa dia diterima beasiswa pendidikan pilot. Antara senang dan bingung. Sebab, dia sudah diterima di Unesa. Bahkan, sudah mengikuti perkuliahan. ”Akhirnya, saya memutuskan untuk mengambil beasiswa pilot karena lebih menjanjikan untuk masa depan,” katanya.


Keputusan Rizal sempat ditolak ibu dan neneknya. Sebab, pekerjaan pilot sangat berisiko. Setelah berdiskusi panjang sekeluarga, akhirnya orang tuanya menerima keputusannya mengambil beasiswa pilot. ”Saya langsung ikuti serangkaian tes,” ujarnya.


Tes tersebut meliputi tes tulis, wawancara, bakat terbang, samapta, dan kesehatan. Saat diterima, dia juga dipanggil Wali Kota Tri Rismaharini. Seangkatannya, ada empat pemuda Surabaya lain yang mendapatkan beasiswa pilot. ”Ibu Wali memberikan amanat yang cukup berat. Kami diwanti-wanti untuk serius belajar karena beasiswa ini uang rakyat,” kata dia.


Selama dua tahun dikarantina di BP3B, Rizal serius belajar. Dia tidak ingin mengecewakan wali kota yang sudah memberikan kesempatan yang sangat besar untuknya. Begitu juga orang tuanya yang selalu mendoakannya. ”Saya selalu ingat bahwa saya bukan anak orang kaya. Jadi, tidak boleh main-main saat pendidikan,” ujarnya.


Kini mungkin Rizal tidak bisa meraih impiannya menjadi TNI/Polri. Namun, dia mengaku bersyukur bisa menjadi calon pilot. Bahkan, tidak pernah terbayang sebelumnya akan menerbangkan pesawat komersial dengan membawa banyak penumpang. ”Sebelumnya, saya belum pernah naik pesawat. Tidak ada uang untuk beli tiket pesawat,” katanya.


Selama di karantina, Rizal ternyata sangat menyukai dunia penerbangan. Apalagi ketika praktik menerbangkan pesawat latih Cessna 172 SP. Rasanya menyenangkan. Total, dia sudah memiliki pengalaman 179 jam terbang. ”Kalau sudah jadi pilot komersial, saya bercita-cita ingin membawa orang tua saya naik haji,” ungkapnya.


Rizal pun tak mau melupakan masa lalunya. Dia tetap ingin membantu anak-anak di sekitar rumahnya sampai sukses. Tentu dalam hal pendidikan. Selain itu, dia ingin membantu anak-anak berkebutuhan khusus yang berada di bawah asuhan dinas sosial (dinsos). ”Setelah mengangkat derajat keluarga, saya harus membantu orang lain. Bagaimanapun, saya dulu juga dari orang yang kurang mampu,” katanya.


Mendengar cita-cita mulia tersebut, orang tua Rizal langsung mengamini. Syahdan dan Tutik justru semakin bangga kepada anaknya itu. Kedua adiknya pun demikian. Di ruang tamu yang mungil tersebut, keluarga kecil itu melanjutkan diskusi ringan. Tentang masa depan Rizal dan kedua adiknya.

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore