Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 5 Desember 2017 | 23.46 WIB

Semangat Hidup Nila, Korban Perdagangan Manusia yang Terkena HIV

KORBAN: Nila, salah satu korban perdagangan manusia. - Image

KORBAN: Nila, salah satu korban perdagangan manusia.


Kasih sayang dan perhatian yang diberikan akhirnya membuahkan hasil. Perempuan asli Madura itu mulai bisa mengenali keluarganya. ’’Nek ditanya kapan, aku nggak ingat. Pokoke, pada 2011 aku nikah,’’ ucap Nila.


Dia bertemu dengan seorang pria yang mencintainya dan membangun keluarga bahagia. Namun, ada satu hal yang masih dia sembunyikan. Sang suami tidak tahu bahwa Nila merupakan pengidap HIV. Nila memang tidak berani mengungkapkan kenyataan tersebut. Dia takut jika suami yang dicintainya itu akan marah dan meninggalkannya.


Tetapi, seiring dengan berjalannya waktu, kebohongan yang disimpan justru membuat kehidupannya tidak tenang. Ada rasa gelisah dan bersalah setiap Nila menatap suaminya. Apalagi, di perutnya tengah tumbuh buah cinta yang telah berusia 6 bulan. Setelah berpikir berkali-kali, akhirnya Nila jujur menceritakan kondisinya. ’’Awalnya, suami marah. Dia ngamuk dan menyesalkan tindakan saya yang berbohong,’’ katanya sendu.


Namun, kemarahan itu tidak berlangsung lama. Amarah suami Nila cepat reda. Dia justru langsung mengajak Nila periksa ke rumah sakit. Hasilnya, sang suami yang lebih tua 4 tahun tersebut dinyatakan negatif. Perasaan lega mengalir di dalam hati Nila. Tetapi, kelegaan Nila hanya sampai di sana. Setelah Nila mengandung selama 9 bulan, anak pertama yang dinantikannya akhirnya dilahirkan dengan selamat. Sayangnya, kondisi si jabang bayi tidak begitu sehat. Daya tahan tubuh anak itu rendah mungkin lantaran Nila ogah mengonsumsi antiretroviral (ARV) selama hamil.


Perempuan malang itu ingin membawa si buah hati ke rumah sakit untuk berobat. Namun, keuangan keluarganya tidak memungkinkan. Jangankan berobat. Untuk makan sehari-hari pun tidak cukup. Nila berusaha mencari pinjaman ke sana kemari. Tetapi, tidak ada yang mau memberikan pinjaman meski semua orang menyatakan bahwa anaknya harus dibawa ke rumah sakit. ’’Karena nggak ada tetangga yang mau minjami, akhirnya saya ke Bu Vera minta bantuan. Dikasih Rp 500 ribu. Sayang, itu nggak lagi berguna,’’ ujarnya dengan berlinang air mata.


Tuhan ternyata punya rencana lain. Tepat saat uang tersebut sudah berada di tangan, sang suami menelepon Vera. Dia menuturkan bahwa anak mereka sudah meninggal dan meminta tolong agar Nila cepat pulang. Mendengar kabar itu, dunia Nila hancur. Anak yang begitu dia cintai pergi tanpa sempat mendapatkan pengobatan. Ada rasa marah di dalam dirinya kepada orang-orang yang dengan sombong tidak mau meminjaminya uang. Dia bukan meminjam Rp 10 juta atau Rp 20 juta. Hanya ingin meminjam setidaknya Rp 100 ribu untuk ongkos ke RSUD dr Soetomo dan pendaftaran. Namun, tidak ada yang mau meminjaminya.


Selama bertahun-tahun, dunia Nila lebih gelap. Dia tidak mau lagi meminum ARV. Bagi dia, tidak ada gunanya meminum ARV. Toh, buah hati yang diharapkannya sudah tidak ada. Keluarga dan suamilah yang membuatnya tidak nekat mengambil tindakan bodoh. Suaminya begitu perhatian dan terus memberinya semangat. Hingga akhirnya, Nila kembali hamil pada 2015. ’’Pas hamil kedua, aku wis bertekad. Jangan sampai kejadian dulu terulang,’’ tegas Nila sembari mengusap air matanya yang mulai mengering.


Dia minum ARV dengan rajin. Semua efek samping yang didapat tidak dipedulikan. Anak keduanya harus bisa lahir dan hidup. Itulah yang saat itu ada di benaknya. Bukan hanya ARV, dia dan sang suami juga bekerja lebih keras. Semua dilakukan demi bisa memberikan perawatan yang lebih layak bagi sang calon buah hati. Hingga usia kandungan 9 bulan, Nila tetap membantu suaminya berjualan mainan keliling. Dia harus memiliki cukup uang agar kejadian buruk tiga tahun sebelumnya tidak terulang lagi.


Doa dan usahanya pun membuahkan hasil. Anak keduanya lahir dengan selamat. Si anak juga dinyatakan negatif HIV. Tentu saja, itulah kabar yang sangat menggembirakan. Namun, karena ketakutan dengan kepergian buah hati pertamanya masih menggelayut dalam batin, sang anak dititipkan kepada kakek dan neneknya di desa. Nila dan suaminya memilih merantau ke kota besar untuk mencari nafkah.


’’Setelah melahirkan anak kedua, saya disterilkan Mbak,’’ kenangnya muram. Tetapi, dia mencoba menerimanya. Setidaknya dia sudah memiliki buah hati yang bisa mengobati lelahnya saat bekerja.


Kehidupan Nila kini berjalan normal. Dia bahagia dengan sang suami yang tetap bisa menerimanya. Mereka berdua bekerja keras untuk menghidupi anaknya yang kini berusia 2 tahun. Meski tidak sampai melimpah, setidaknya hasil kerja keras mereka cukup untuk membelikan susu saat pulang menjenguk ke desa.


’’Saya cuma mau pesan ke teman-teman yang juga mengidap HIV seperti saya, jangan putus asa dan merugikan orang lain. Percaya bahwa masih ada orang yang bisa menerima dan peduli dengan kita,’’ tuturnya.

Editor: Administrator
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore