
KREATIF: Jumali atau yang akrab di sapa Lik Jum (tengah) memainkan alat musik yang terbuat dari gerabah.
Malam itu musik adalah lemah urip (tanah yang hidup). Iringan tersebut juga menjadi rancak hingga bisa menggiring siapa pun yang ingin berekspresi berjalan mendekati panggung, lalu berjoget ringan. ’’Tedja. Tedja Suminar. Amanah, nur, warisan,’’ seru Lik Ju dengan suara meliuk tinggi mengagungkan sang maestro. Malam itu memang menjadi refleksi bagi para seniman Kota Pahlawan untuk kembali mengenang spirit Tedja Suminar, sang pelukis sketsa yang meninggal pada 24 Juni 2016.
Lik Ju mengenal mendiang Tedja sebagai sosok yang amanah. Seorang dengan dedikasi tinggi dalam berkesenian. Juga, seorang yang menelurkan karya melalui dialog yang panjang. ’’Untuk menggambar sketsa dokar saja, beliau membangun dialog yang panjang dengan si pemilik dokar. Sehingga bisa mendapatkan napas cerita yang mendalam. Dialog itu yang jadi keutamaan,’’ ungkapnya.
Lik Ju memang lahir dan besar di Malang. Meski demikian, ikatan persahabatan di lingkungan seniman membawanya melanglang buana dari kota ke kota. Termasuk hingga mengenal Swandajani, seniman tari sekaligus putri pertama almarhum Tedja Suminar asal Surabaya.
Sebelumnya, alumnus Institut Seni Indonesia Yogyakarta yang lulus pada 1998 tersebut dikenal sebagai pembuat wayang wolak-walik. Wayang dibuat dengan menggunakan limbah botol plastik yang dipipihkan, kemudian diberi warna.
Wayang dimainkan dua dalang yang duduk di dua sisi layar. Kedua dalang memainkan wayang secara bergantian dan melontarkan dialog secara bersahutan. Bolak-balik. Wayang wolak-walik lebih dulu tenar saat dimainkan di beberapa kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Setelah wayang, Lik Ju melahirkan alat musik gerabah dua tahun lalu. Kini dia sudah melakukan lima kali produksi alat musik gerabah. Sekali produksi bisa 10–15 buah. Semua telah dikirim ke berbagai kota di berbagai daerah. Misalnya, Jakarta, Jogjakarta, atau Bali.
Biasanya, Lik Ju menjual gerabah setelah dipentaskan. Termasuk saat pentas di Studio Tedja. Satu gerabah dijual Rp 200 ribu. Semua laku. Laris manis. Pemikiran untuk membuat alat musik gerabah berawal dari idenya untuk melestarikan kendi. Sebab, dengan kian berkembangnya zaman, kendi mulai dilupakan. Digantikan galon plastik. Padahal, menurut dia, air minum yang disimpan dalam kendi terasa lebih dingin dan enak.
Lik Ju sendiri mengatakan tidak begitu mahir bermusik. ’’Saya hanya berani bikin inovasi. Belum tentu musisi yang asli mau bikin inovasi,’’ katanya, lalu terkekeh.
Selama ini tempat latihan musiknya pun bebas. Bisa di rumah, di rumah tetangga, atau di pinggir kali. Lik Ju dan timnya pernah memperdengarkan musik gerabah di berbagai kampus, pesantren, kelompok pengajian, maupun acara kesenian. Sesuai dengan kodrat tanah yang dekat dengan manusia, musik gerabah bisa menyesuaikan sekitarnya.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
