
BERBAGI: Anggota komunitas Secangkir Kopi.
Satu per satu di antara mereka mengutarakan lima fakta yang tidak diketahui orang lain. ’’Kalau aku sering menggumam nggak jelas sih di sepeda motor,’’ ucap Vito, lantas tertawa.
Setiap pertemuan memang punya tema. Jadi, setiap bertemu para peserta punya bahan pembicaraan. Untuk pertemuan pertama tersebut, topik pembicaraan adalah kegagalan hidup. Kali ini Nimas mempersilakan peserta untuk bercerita.
Orang pertama yang menawarkan diri adalah Reza Esfandiari. Alumnus jurusan tata boga Unesa itu pernah bekerja di sebuah restoran di kawasan Sidoarjo sebelum lulus. Posisinya cukup penting.
Meski begitu, yang muncul bukan kebanggaan. Reza justru terbebani oleh pekerjaan itu. Apalagi, skripsinya sampai tertunda. ’’Waktu itu aku harus bolak-balik Surabaya–Sidoarjo demi kerjaan,’’ katanya.
Jam kerja Reza juga tidak beraturan. Setiap hari dia harus masuk pukul 08.00 hingga tutup toko. Yakni, sekitar pukul 21.00. Jadi, setiap hari Reza bekerja lebih dari 12 jam. Setiap minggu dia diberi jatah sehari untuk libur. Namun, saat hari libur pun dia harus mau disibukkan pekerjaan. ’’Kalau saya nggak ada, pasti ada aja masalahnya,’’ paparnya. Akibatnya, dia harus siap di kantor meski libur. ’’Pernah waktu itu kedatangan bupati dan tidak ada yang siap. Jadi, tetap kudu ngantor deh,’’ ungkapnya.
Bagi Reza, hal itu merupakan sebuah kegagalan. Sebab, karena pekerjaannya, dia tidak memiliki hidup. Setiap waktunya digunakan untuk pekerjaan. Pendidikannya pun tertunda. Maka, Reza pun quit. Berhenti dari pekerjaannya. Lebih memilih pendidikan. ’’Tapi, tidak bisa dimungkiri, aku sayang sekali sama timku waktu itu. Berat rasanya meninggalkan mereka,’’ paparnya ketika itu.
Peserta lain yang berbagi cerita adalah Anindya K. Wardani, mahasiswi sastra Inggris Unesa. Saat ini dia masih menunggu kelulusan. Kecemasannya sudah menyergap. ’’Aku takut kalau sudah lulus nanti mau kerja apa,’’ ungkapnya. Dia takut jadi penganggur.
Bayangan kegagalan terus menghantuinya. Terlebih, Anindya sudah sekolah sampai tinggi. ’’Itu cuma pikiranmu saja, kok,’’ ucap Rasti Sindu Swestilangen, salah seorang peserta diskusi, saat menepis kegalauan Anindya.
Rasti merupakan mahasiswa angkatan di atas Anindya. Saat ini dia bekerja sebagai human resource development (HRD) di sebuah perusahaan. Dulu, dia juga dihantui masalah serupa. Tepat sebelum lulus, Rasti takut tidak memiliki pekerjaan. Padahal, dia adalah seorang sarjana. Namun, dia membuktikan bahwa kecemasannya itu tidak berdasar.
Perempuan lulusan jurusan psikologi Unesa tersebut lancar saat melamar pekerjaan di sebuah perusahaan. Pengalamannya berorganisasi membuatnya dipercaya untuk menjadi karyawan HRD. Kini Rasti memiliki andil besar di perusahaan tempatnya bekerja.
Ya, itulah suasana pertemuan Secangkir Kopi yang direncanakan berlangsung tiap bulan. Menurut Nimas, komunitas semacam itu mulai terbentuk di Solo, Jakarta, dan Malang. Nimas sebagai founder menganggap bahwa mereka yang ada di kota besar memiliki potensi depresi yang tinggi. Karena itu, keberadaan komunitas seperti ini memang perlu. ’’Apalagi, banyak orang yang enggan bercerita ke teman terdekatnya,’’ ungkapnya.
Nah, di situlah fungsi komunitas tersebut. Mereka sebagai orang asing dan tidak bersentuhan langsung dengan lingkungan para peserta. Kemungkinan cerita tersebut akan tersebar kecil. Dengan begitu, si pemilik cerita pun tidak perlu takut untuk meluapkan kemarahannya. Mereka bisa dengan leluasa berbagi cerita kepada setiap peserta. Namun, tentu dengan kode yang tetap harus dipegang mereka sendiri. Yakni, cerita tersebut hanya berakhir di komunitas. ’’Pada dasarnya, setiap orang ingin didengar,’’ kata Nimas, anak kedua dari tiga bersaudara itu.
Vito menambahkan, komunitas tersebut tidak akan berbentuk konseling. Apalagi penyedia solusi akan setiap masalah. Mereka hanya menawarkan pundak untuk bersandar. ’’Sebab, belum tentu saran yang diberikan cocok dengan si penerima,’’ ungkap mahasiswa Universitas Surabaya (Ubaya) tersebut.
Secangkir Kopi dibuka untuk berbagai kalangan. Namun, kini yang bergabung adalah mereka yang berada di usia rentan, yakni 17–25 tahun. ’’Kita akan lihat bagaimana ke depannya saja,’’ kata Vito.
Yang jelas, Vito dan Nimas berharap komunitas itu akan lebih stabil sehingga bisa terus memberikan pundak untuk bersandar kepada setiap pemuda di Surabaya. Bukan hanya itu, mereka juga berharap antusiasme serupa datang dari kota lain. Dengan begitu, setiap pemuda yang ada di Indonesia memiliki tempat untuk curhat, tanpa batasan. ’’Apalagi kalau bisa membentuk karakter dan moral generasi ke depan,’’ jawab Nimas kala itu.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
