
PERCAYA DIRI: Anak-anak jalanan melakoni pentas dance hiphop.
Prestasi banyak. Kemampuan tari tak perlu diragukan. Dan, Last Minute Street Crew (LMSC) menyempurnakannya dengan berbagi ilmu. Mereka mengajar dance anak-anak jalanan. Sekaligus memburu bakat-bakat cilik yang anyar.
BRIANIKA IRAWATI, Surabaya
PERASAAN 13 anak Sekolah Gratis Pelita Permai girang betul. Mereka dinilai sukses tampil nge-dance di hadapan ribuan penonton di Ciputra Hall, awal September. Memori itu sungguh tak terlupakan. Bayangkan. Baru kali pertama belajar dance, mereka sudah bisa pentas di panggung nan megah. Bak mimpi jadi kenyataan.
Pentas itu disaksikan para dancer profesional dari berbagai negara. Misalnya, Dominique Kita (Jepang), Kayte Willis (Singapura), Jackson Boogie (Malaysia), Locking A Wei (Taiwan), dan Semmy Blank (Indonesia). Penampilan anak jalanan tersebut mendapatkan sambutan positif dari para penonton. Hadirin bertepuk tangan riuh. Tak sedikit pula yang menangis haru. Terbawa suasana.
Memang, sebelum anak-anak itu tampil, ada video tentang kisah para anak jalanan tersebut. Video berdurasi sekitar 10 menit itu membuat penonton trenyuh. Sebab, tampak para penari cilik itu berasal dari keluarga kurang mampu. Sebagian besar juga buta huruf. Setiap hari mereka mencari uang di jalanan. Jadi pengamen. Atau pengemis.
Nasib mereka sedikit demi sedikit berubah baik setelah bergabung di sekolah Pelita Permai yang berlokasi di Surabaya Barat tersebut. Dan lagi, mereka bisa belajar tari modern. ”Senang sekali. Kami tampil sama-sama,” ungkap Andro, salah seorang murid. Ucapan itu disahuti murid lainnya, Naldo. ”Sempat tegang juga,” ucapnya, lantas tertawa.
Anak 10 tahun itu mengaku senang bisa belajar dance. Awalnya memang merasa takut. Tepatnya, harap-harap cemas. Sebab, Naldo belum pernah mencoba. Saat pertama latihan, dia mengaku langsung ketagihan. Dia menganggap gerakan dance sangat mengasyikkan. ”Gerak tangan, kaki, terus lompat,” ujarnya. Sejak itu, mereka ingin terus belajar.
Andro dan Naldo adalah dua di antara 13 dancer anak jalanan yang dilatih kelompok hiphop dance Surabaya, Last Minute Street Crew (LMSC). Sejak Mei, kelompok yang bermarkas di Lenmarc Mall itu mengajarkan tarian kepada anak-anak jalanan. Terutama mereka yang tertampung di sekolah gratis Pelita Permai. ”Kami kerja sama dengan mereka untuk mendapatkan murid-murid,” ujar founder LMSC Tiky Puspa Dewi di markasnya, Rabu (20/9).
Dia bersama kru LMSC menganggap bahwa setiap anak punya kesempatan yang sama. Kelas ekonomi keluarga tidak seharusnya menjadi penghalang untuk meraih mimpi masing-masing. Sebenarnya, keinginan berbagi ilmu kepada anak jalanan terpendam sejak lama. ”Baru ketemu orang yang tepat. Ya, di sekolah gratis Pelita Permai itu,” kata perempuan 41 tahun tersebut.
Sebagian besar anggota LMSC memang sudah menjadi pelatih. Misalnya, di sekolah dance G-Center School. Tapi, itu belum cukup. Batin Tiky dkk terus bergejolak. Apalagi saat dia melihat anak-anak kurang mampu di Pelita Permai yang memiliki semangat besar saat menyerap ilmu.
Dari situlah, dia bersama anggota LMSC lainnya mengajari anak-anak jalanan menari. Itu semua dilakukan secara cuma-cuma. Tanpa ada biaya yang dipungut sepeser pun. ”Biar ilmunya dapat disalurkan secara maksimal,” kata Tiky.
Sama halnya dengan perasaan murid-murid Pelita Permai saat pertama menjalani latihan, Tiky dkk sebagai pelatih juga merasa cemas. Mereka sudah terbiasa mengajari anak-anak yang terlatih. Nah, itu adalah babak baru. Mereka memiliki murid yang belum pernah nge-dance. Bahkan, beberapa di antara mereka baru pertama mengenal kata dance. Terlebih, dance memang bukan bahasa Indonesia.
Namun, LMSC tidak mau mundur. Itu menjadi impian mereka sejak lama. Keinginan tersebut diperkuat saat melihat semangat anak-anak jalanan yang begitu besar. Mereka memang baru pertama belajar. Namun, semangat belajar mereka langsung menggelora. Rasa ingin tahu mereka juga tinggi. ”Kalau nggak bisa gerakan A, langsung coba terus sampai bisa,” ujarnya. ”Kalau sudah bisa, langsung minta ajari gerakan baru lagi,” tambah Tiky.
Sebagai guru, dia mengaku senang. Sekaligus dapat belajar lebih sabar. Mereka memang harus menyiapkan materi belajar yang berbeda dengan yang diajarkan kepada murid-murid sebelumnya. Materi dikemas sangat menarik. Ringan dan lebih mudah dipahami. ”Materi disampaikan dengan komunikasi yang menyenangkan,” terang Tiky.
Suasana latihan juga selalu nyaman. Jadi, anak-anak kian betah berlama-lama di base camp LMSC. Latihan dilakukan saban Sabtu pukul 18.00. LMSC melatih para murid itu selama 1,5–2 jam. Pada sesi awal, LMSC tidak langsung melatih gerakan. Mereka mengadakan sesi ngobrol. Cerita-cerita tentang apa pun. Anak-anak bebas bercerita tentang kegiatan mereka pada hari itu. Bisa juga tentang keluhan-keluhan yang dirasakan selama mengikuti latihan.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
