Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 12 September 2017 | 18.18 WIB

Lontar, Roh Keseharian Masyarakat Pulau Rote

BANYAK MANFAAT: Seorang warga Pulau Rote memanjat pohon lontar. Nyaris tak ada bagian dari pohon lontar yang tak bisa dimanfaatkan warga. - Image

BANYAK MANFAAT: Seorang warga Pulau Rote memanjat pohon lontar. Nyaris tak ada bagian dari pohon lontar yang tak bisa dimanfaatkan warga.


Minuman itu berasal dari nira lontar yang diolah hingga kental seperti sirup. Untuk menyajikannya, tinggal dicampur dengan air. Lalu diminum. ’’Seorang pria dewasa di Rote sanggup bekerja di ladang seharian hanya dengan sarapan dua gelas gula air,’’ ungkap Molle yang juga mantan anggota DPRD Rote Ndao.


Litbang Kementerian Pertanian pernah merilis bahwa nira lontar memiliki kandungan glukosa 10,96 persen atau hampir 11 persen. Nira lontar juga mengandung sukrosa 13–18 persen. Juga, sedikit protein dengan kandungan 0,28 persen.


Karena itu, seperti juga Daniel, Molle tidak khawatir dengan tingkat kemiskinan di Rote Ndao yang masih tinggi. Kepada Jawa Pos, Bupati Rote Ndao Leonard mengatakan mencapai 26 persen. ’’Mungkin mereka memang miskin. Tapi, selama ada lontar, mereka tidak akan kelaparan,’’ lanjut Molle.


Topi Ti’i Langga yang menjadi simbol kebesaran laki-laki di Rote juga dianyam dari daun lontar. Sampai dengan puluhan tahun silam, setiap rumah di Rote dipastikan memiliki topi tradisional tersebut.


Begitu pula sasando. Alat musik tradisional Rote yang sudah mendunia tersebut terbuat pula dari daun lontar. Sasando merupakan sarana hiburan bagi warga tradisional rote. Mengiringi mereka ketika berkumpul dan bernyanyi bersama sehingga timbul kebersamaan.


Masyarakat tradisional Rote juga mengolah lontar menjadi sopi, tuak khas dari pulau tersebut. Kandungan alkoholnya lebih dari 40 persen. ’’Sekarang juga banyak yang diolah menjadi alkohol medik dengan kandungan 90 persen,’’ tutur Molle.


Belakangan, penggunaan sopi semakin dibatasi untuk mencegah dampak buruk minuman beralkohol. Hanya dihidangkan pada acara-acara adat. Di acara-acara seperti itu, sopi dianggap memberikan kekuatan dalam mengambil keputusan.


Ada satu aturan tidak tertulis dalam pemanfaatan lontar. Masyarakat Rote hanya boleh mengolah lontar yang tumbuh di halaman rumah sendiri. Masa produktif lontar bisa mencapai 50 tahun. Tapi, lontar baru bisa menghasilkan nira setelah berusia minimal 15 tahun. Bila dianggap sudah terlalu tua, lontar bakal ditebang untuk dijadikan bahan bangunan.


Belakangan, seiring perkembangan zaman, masyarakat Rote yang benar-benar memanfaatkan lontar secara keseluruhan semakin berkurang. Rumah daun seperti yang ditempati keluarga Daniel Koen, misalnya, sudah banyak digantikan rumah seng. Itu sebutan untuk rumah berdinding batu atau kapur dan beratap seng.


Di sisi lain, Molle menuturkan, saat ini sudah banyak pengusaha kayu dari luar Rote yang justru memanfaatkan lontar. Pohon-pohonnya ditebangi untuk dijual menjadi bahan bangunan.


Meski demikian, sepengetahuan Molle, Rote tak perlu cemas bakal kehabisan lontar. Ada fenomena yang disebutnya sebagai anugerah Tuhan bagi Rote.


Berapa pun banyaknya lontar yang ditebang, seakan tidak pernah habis. ’’Di sisi lain, ketika Pemerintah Kabupaten Rote Ndao mencoba menumbuhkan lontar dengan cara budi daya, juga selalu gagal,’’ katanya.


Lontar tumbuh secara alami, meski lambat, tanpa perlu campur tangan manusia. Tidak perlu dirawat. Tinggal diambil manfaatnya bila mau.

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore