Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 8 September 2017 | 13.35 WIB

Kisah Tim Pajak Bertutur saat Ajarkan Perpajakan ke Anak-Anak

PELAJARAN PAJAK: Foto kiri, Ichtiar Rachmatullah (kiri) dan Syifa Nafisali dari Tim Patur KPP Pratama Tegalsari. - Image

PELAJARAN PAJAK: Foto kiri, Ichtiar Rachmatullah (kiri) dan Syifa Nafisali dari Tim Patur KPP Pratama Tegalsari.

Menyosialisasikan pajak ke wajib pajak (WP) saja sudah bikin mulut berbusa-busa. Apalagi jika mengajar anak-anak SD. Tapi, antusiasme anak-anak membuat tim Pajak Bertutur pantang mundur. Ada banyak cara untuk menceritakan pajak dengan asyik dan tanpa memakai dasi.


DEBORA DANISA SITANGGANG, Surabaya


DIREKTORAT Jenderal Pajak membuat rekor. Dalam sehari, tepatnya pada 11 Agustus, mereka berhasil menyelenggarakan Pajak Bertutur serentak di seluruh Indonesia. Total, ada 127.459 siswa dan mahasiswa yang berpartisipasi dalam Pajak Bertutur tersebut.


DJP dan unit vertikalnya menyambangi 2.182 sekolah dan universitas. Rekor itu kini telah tercatat di Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri).


Pajak Bertutur atau biasa disingkat Patur adalah program sosialisasi pajak ke pelajar. Mulai yang dasar hingga tingkat perguruan tinggi. Menyosialisasikan pajak ke mahasiswa mungkin sudah lumrah. Bagaimana dengan mengajarkan pajak ke mereka yang berseragam putih-merah? Apakah anak-anak sudah cukup umur untuk tahu soal pajak?


Biasanya kantor pelayanan pajak (KPP) punya beberapa tim yang datang ke sekolah tertentu. Ada tim yang khusus datang ke universitas, SMA, SMP, dan SD. Persiapan tiap-tiap tim tentu berbeda.


Meski kelihatannya agak sulit, rupanya tim Patur SD sukses membawakan materi pajak yang pas dicerna anak-anak. Contohnya, yang dilakukan tim Patur KPP Pratama Genteng. KPP itu menurunkan delapan orang dalam tim Patur SDN Kaliasin I.


Ada dua staf yang dipercaya membawakan materi. Mereka adalah Denok Hanurti, 31, dan Puspawiratna, 37. Para penutur itu mengaku tidak terlalu pusing soal materinya. Sebab, materi sudah disediakan oleh kantor pusat. Yang harus dipikirkan adalah cara menjelaskan pajak itu sendiri. Yang ditakutkan adalah anak-anak bosan atau dahinya berkerut.


Sesuai arahan kantor pusat, tim Patur KPP Genteng memutuskan memakai tema gotong royong. ’’Kita tidak langsung ke pajaknya. Tapi, mereka diajari dulu bagaimana berbagi,” tutur Puspa.
Mereka menggunakan contoh yang sangat familier untuk anak SD. Yakni, uang saku. Puspa mencontohkan bahwa uang saku itu adalah penghasilan mereka.


Lalu, dia masuk ke studi kasus. Bagaimana kalau kelasnya kotor? Harus dibersihkan. Dengan apa? Dengan sapu dan cikrak. Kalau tidak ada sapu dan cikrak, dari mana mendapatkannya?


’’Nah, dari uang iuran,” jawab Puspa. Uang yang dikumpulkan dari anak-anak sekelas itulah yang bisa digunakan untuk membeli sapu. ’’Dari situ kita mulai masuk, pajak itu juga seperti iuran yang sukarela,” lanjutnya.


Menurut mereka, penyampaian seperti itu cukup efektif. Anak-anak mulai paham bahwa pajak bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan banyak orang. Pajak datangnya dari masyarakat sendiri, digunakan untuk kepentingan masyarakat.


Mulai dari iuran beli sapu, Denok dan Puspa menjelaskan objek yang lebih besar. Kalau ada jalan rusak, jembatan rusak, atau sekolah kita rusak, anak-anak sudah mulai mengerti dari mana uang untuk memperbaikinya. ’’Karena kemarin baru saja musim mudik, kita tanya juga siapa yang waktu mudik kemarin jalannya rusak,” ujar Denok.


Puspa dan Denok mengaku belum pernah punya pengalaman mengajar anak SD. Kendati masih newbie di dunia mengajar, tidak terlalu banyak persiapan yang dilakukan. Mereka mengikuti pembinaan dari kantor pusat tentang neo linguistic program (NLP) tentang cara mengajar anak-anak.


Keduanya juga melihat dari pengalaman anak-anak mereka. ’’Paling ya lihat guru anak-anak saya bagaimana. Waktu ke sekolah, saya amati,” tutur Denok. Kebetulan, mereka berdua juga mempunyai anak berusia SD. Anak pertama Denok berusia 7 tahun. Sedangkan anak sulung Puspa kini menginjak 9 tahun. Mereka juga banyak belajar dari interaksi dengan sang anak.

Editor: Administrator
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore