
IKON KERONCONG: Waldjinah di kediamannya di Solo (23/8)
Waldjinah tengah mempersiapkan biografi untuk diluncurkan pada ulang tahun ke-72 pada November nanti. Berencana membuka lagi kursus gratis menyanyi keroncong.
ANDRA NUR OKTAVIANI, Solo
BAGI Waldjinah, tak ada perjuangan yang lebih berat sekarang selain ”menghadapi” sambal terasi dan tongkol mangut. Maksudnya, keduanya ada di hadapan mata, tapi tak boleh menyantap.
”Sambele ngono enak bianget (Sambelnya itu enak banget, Red). Tapi, sudah ndak boleh, ndak berani sama sekali hehehe,” katanya kepada Jawa Pos pada Rabu pekan lalu (23/8).
Ratu keroncong itu memang harus menjaga betul pola makan. Itu harga yang harus dia bayar agar kesehatannya tak kembali drop seperti pada November 2013. Ketika itu penyanyi berjuluk Si Walang Kekek tersebut mesti beristirahat total, bahkan sampai sepanjang 2014.
Buntut lainnya, anak-anaknya pun melarang perempuan kelahiran 7 November 1945 tersebut menyanyi secara profesional. Sebab, pemicu awal penurunan kondisi penyuka makanan pedas dan asam tersebut saat itu adalah kelelahan.
”Tahun 2013 itu memang tahun yang sangat sibuk bagi ibu,” kata Ari Mulyono, anak keempatnya yang turut mendampingi.
Namun, upaya keras Waldjinah menjaga kondisi itu berbuah. Saat berbincang dengan Jawa Pos di kediamannya di kawasan Purwosari, Solo, ibu lima anak dan nenek delapan cucu itu terlihat bugar. Dalam balutan baju dan kerudung merah, wajah perempuan 71 tahun tersebut tampak cantik dan berseri.
Pulihnya kesehatan itu juga seperti membuat ”sayap” Waldjinah mengepak lagi. Penyanyi yang telah menelurkan puluhan album keroncong tersebut kembali aktif beraktivitas. Bak kelincahan si walang alias belalang di petikan lagu yang melambungkan namanya tersebut: ”Walang kekek, menclok ning tenggok//Mabur maneh, menclok ning pari.”
Yang terkini, penembang Jangkrik Genggong dan Ayo Ngguyu itu tengah menyelesaikan proyek biografi. Menurut Ari, biografi tersebut awalnya hanya dibuat sederhana. Sekadar bingkisan kepada teman dan keluarga saat ulang tahun ke-70 Waldjinah pada 2015.
Tapi, ternyata biografi yang ditulis Ning Yulia itu menarik perhatian seorang produser dari Dian Records. Si produser kebetulan turut hadir pada acara ulang tahun Waldjinah. ”Ternyata dia bisa carikan sponsor untuk bikin biografi yang lebih komplet dan didistribusikan lebih luas,” kata Ari.
Sekarang ini sedang proses pengerjaan. Materi sudah komplet. Tinggal melengkapi foto dan daftar lagu. Nanti biografi penyanyi yang mulai melejit saat menjuarai kontes menyanyi Ratu Kembang Katjang pada 1958 tersebut akan terdiri atas tiga buku.
Buku pertama bercerita tentang Waldjinah kecil hingga sekarang. Buku kedua berisi foto-foto Waldjinah. Lalu, buku ketiga berisi lagu-lagu Waldjinah. ”Mudah-mudahan November nanti, ketika ibu ulang tahun ke-72, sudah bisa diluncurkan,” ucap Ari.
Kalau nama Waldjinah sedemikian sinonim dengan keroncong, itu wajar. Cengkoknya khas. Sekar Larasati, dalam abstraksi skripsinya di Universitas Pendidikan Indonesia bertajuk Gaya Vokal Waldjinah pada Langgam Keroncong, menulis, penempatan cengkok, gregel, luk, dan teknik bernyanyi Waldjinah memiliki karakteristik gaya vokal yang unik.
Dengan menjadikan Bengawan Solo dan Walang Kekek sebagai sampel penelitian, Sekar menyimpulkan, seperti dikutip dari situs UPI Digital Repository, dengan mengetahui serta memahami pembawaan vokal Waldjinah, seorang penyanyi keroncong bisa mengapresiasikannya pada sebuah pertunjukan maupun kompetisi musik keroncong.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
