Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 2 September 2017 | 19.45 WIB

Awalnya Takut Bola, Tangguh di Bawah Mistar Berkat Polesan Sang Ayah

Orang tua Satria Tama, Naning dan Aiptu Bambang Hardiyanto. Mereka tidak menyangka, Satria yang dulu takut dengan bola kini menjadi kiper tim nasional Indonesia. - Image

Orang tua Satria Tama, Naning dan Aiptu Bambang Hardiyanto. Mereka tidak menyangka, Satria yang dulu takut dengan bola kini menjadi kiper tim nasional Indonesia.

Nama Satria Tama Hardiyanto menggaung di pentas Sea Games ke-29, Kuala Lumpur, Malaysia. Penampilannya menjaga gawang Timnas U-22 begitu tangguh, heroik, dan dielu-elukan suporter Garuda membuatnya sempat masuk trending topic Twitter worldwide. Kiper yang dijuluki si tangan malaikat itu memulai karir sepak bolanya dari nol.



DIDA TENOLA-SURABAYA


--


Tidak sulit untuk menemukan kediaman Satria Tama di Sepanjang, Sidoarjo. Meskipun harus masuk ke gang sempit nan berliku, warga sudah mengenal sosok kiper bertinggi 184 cm tersebut. Rumah sederhana tersebut terletak di belakang Balai Desa Sepanjang, Sidoarjo.



Begitu masuk ke dalam garasi rumah berpagar hitam itu, terpajang beberapa memori foto perjalanan Satria Tama di belantika sepak bola nasional. Satria Tama merupakan putra bungsu pasangan Aiptu Bambang Hardiyanto dan Naning. Ayah Satria merupakan polisi yang sehari-hari berdinas di Mapolsek Bubutan, Surabaya.



"Saya itu nggak kepikiran kalau anak saya (Satria, Red) jadi kiper seperti sekarang. Mikirnya dulu bagaimana agar dia punya kesibukan, menghindari dari kenakalan remaja," cerita Bambang, mengawali pembicaraan dengan JawaPos.com.



Kebetulan Bambang dinas malam. Saat menemui JawaPos.com, dia tidak memakai seragam cokelatnya. Pengabdiannya sebagai polisi, tak lantas membuatnya kehilangan waktu untuk ketiga buah hatinya. Termasuk kepada Satria Tama sendiri.



Rabu siang (30/8), Bambang dan Naning sepertinya harus menunda untuk melepaskan rasa rindunya terhadap Satria. Saat JawaPos.com ke sana, mereka menerima telepon dari Satria. "Katanya langsung gabung latihan sama Timnas Senior. Persiapan lawan Fiji," tambah Bambang.



Kehebatan Satria sebagai kiper, tak lepas dari peran sang ayah. Sebagai polisi, dia tahu betul anak-anaknya harus punya banyak kegiatan agar tidak terjerumus ke hal-hal yang tidak diinginkan. Bambang ingin anak-anaknya punya ketrampilan.



"Jadi bukan cuma Satria saja. Kakaknya yang pertama itu juga bisa main bola, kalau kakaknya yang perempuan bisa menari. Selain sepak bola, Satria sebenarnya juga sering badminton sama saya," kata pria asli Surabaya tersebut.



Khusus untuk Satria Tama, Bambang malah tidak pernah punya mimpi untuk menjadikannya sebagai salah seorang punggawa Timnas. Dia bercerita, Satria kecil belajar bermain bola sejak kelas IV SD. Melatih anak seusia itu menjadi pemain pro, bisa dibilang terlambat. Biasanya para orang tua yang bermimpi anaknya menjadi pemain sepak bola, sudah mendaftarkan ke akademi atau sekolah sepak bola (SSB) sejak kelas I SD.



Tapi Bambang punya pemikiran sendiri. Dia tidak ingin anaknya masuk SSB tanpa punya ketrampilan yang matang. "Kalau keburu masuk SSB nggak bisa apa-apa nanti nggak dilihat sama pelatih. Makanya saya latih dulu, minimal dia (Satria) punya teknik dasarnya," lanjutnya.



Latihan keras dari Bambang itulah yang jadi salah satu kunci kesuksesan Satria Tama sejauh ini. Bambang memanfaatkan waktu luangnya untuk Satria kecil. Setiap sore, mulai Ashar hingga Maghrib, Satria diajak latihan di lapangan sekitaran Kebonsari, Surabaya. Sekitar 2 km dari rumahya di Sepanjang.



Bambang ingat betul saat pertama kali putra kebanggannya itu bersentuhan dengan si kulit bundar. Satria nampak kikuk, bahkan takut dengan bola. "Dia nggak bisa nendang bola. Karena nggak bisa nendang, saya suruh jadi kiper saja," kelakar Bambang kemudian tertawa.



Ternyata, insting Bambang terbukti. Perlahan, bakat terpendam Satria muncul. Bak kalimat yang sering terlontar dalam anime sepak bola asal Jepang, Captain Tsubasa, "Bola adalah teman" Satria Tama seolah berkawan akrab dengan si kulit bundar. Dia tidak takut! "Dia selalu minta saya untuk nendang sekeras-kerasnya. Dia bilang pasti bisa menangkapnya, dia punya motivasi yang kuat," ucap polisi berusia 51 tahun tersebut.

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore