Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 2 September 2017 | 03.08 WIB

Para Pencinta dan Pembudi Daya Leopard Gecko

CINTA: Giovanni Putra menunjukan beberapa koleksi gecko kesayanganya. - Image

CINTA: Giovanni Putra menunjukan beberapa koleksi gecko kesayanganya.


Gio adalah satu di antara beberapa pembudi daya gecko di Surabaya. Semua berawal saat dia duduk di bangku SMP. Dia membeli seekor leopard gecko jantan. Bukan karena jatuh cinta pada hewan nocturnal (aktif saat malam) tersebut. ’’Tapi, soalnya tanggal lahirnya sama dengan saya,’’ kata Gio.


Ya, tiap gecko pasti punya tanggal lahir. Sebab, besar-kecilnya ukuran tubuh gecko tak bisa dijadikan patokan umur. Semakin lama umur gecko, belum tentu lebih besar ukurannya. Jadi, tiap leopard gecko pasti punya akta lahir.


Saat pertama punya gecko, Gio tidak berani memegang. Geli. Selama beberapa lama, gecko itu hanya tergeletak tanpa mendapat sentuhan. Saat memberi makan pun, Gio memakai sendok. Semua pakai alat. Tanpa menyentuh kulit gecko itu sama sekali.


Orang yang kali pertama memegang gecko mungkin merasakan kegelian yang sama. Binatang itu empuk. Lentur. Rasanya aneh. Yang tidak tahan pasti akan jingkrak-jingkrak.


Lambat laun Gio memberanikan diri memegang reptil itu. ’’Ternyata gak apa-apa. Lama-kelamaan jadi biasa akhirnya,” katanya. Setelah beberapa lama, Gio memutuskan membeli gecko baru untuk dipasangkan dengan miliknya yang sudah ada. Dia ingin mencoba breeding (penangkaran).


Tanpa disangka, gecko miliknya berhasil bertelur. Sejak itu, Gio kian tertarik. Uniknya, sekali bertelur, gecko menghasilkan dua butir. Setelah itu, seminggu sekali, gecko pasti bertelur lagi dengan jumlah yang sama. ’’Itu kawinnya cuma sekali. Bertelurnya hingga enam kali,” ujar Gio.


’’Ada yang tanpa dikawinkan sudah bertelur,” lanjutnya. Di dalam telur itu benar-benar ada embrionya. Saat diinkubator pun, telur bisa menetas. Padahal, biasanya gecko yang tidak kawin akan menghasilkan telur kosong.


Menurut Gio, itu adalah sifat reptil. Yakni, partenogenesis. Betina bisa memproduksi sel telur tanpa pembuahan.


Dan, jangan kaget ketika leopard gecko jantan menggigit si betina saat breeding. Bukan berkelahi. Tapi, rayuan kasar pejantan justru akan membuat betina bergairah. Pemanasan yang khas gecko.


Harga leopard gecko berbeda-beda. Yang paling murah, berumur di bawah 2 bulan, dibanderol Rp 100 ribu. Panjangnya hanya separo jengkal orang dewasa.


Yang paling mahal mencapai jutaan rupiah. Contohnya, leopard gecko Gio yang berwarna kulit polos kemerahan. Harganya Rp 4 juta. Ukurannya kurang lebih 20 sentimeter. Yang lebih mahal lagi? Ada banyak, belasan juta rupiah pun ada.


Banderol itu ditentukan banyak faktor. Misalnya, warna. Makin merah makin mahal. Motif juga menentukan. Kalau garis-garis yang muncul tidak terputus, harganya juga makin meroket.


Motif itu memang tak bisa ditebak. Selama masih hidup, warna leopard gecko akan terus bermutasi. Misalnya, bintik besar saat tubuhnya masih kecil. Ketika dewasa, bisa jadi bintik besar tersebut akan pecah menjadi kecil-kecil dan lama-kelamaan hilang.


Nilai jual yang tinggi itu memang pas untuk ladang bisnis. Selain Gio, ada beberapa orang yang berfokus pada budi daya reptil tersebut. Misalnya, Eri Santoso dan Budi Wonosasmito.


Bisa dibilang, mereka adalah pionir leopard gecko di Surabaya. Budi membudidayakan binatang itu sejak 2008. Gio pun memperoleh hewan pertamanya dari Budi. Koleksi Budi kini mencapai dua ribu ekor. Benar-benar maestro leopard gecko.

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore