
TAK MERASA BERBEDA: Muzakir (kiri, foto kiri) dan kedua putrinya, Rauzatul Jannah (kanan) dan Nurul Qomariyah.
Nama mereka Rauzatul Jannah dan Nurul Qomariyah. Rauzatul sekarang duduk di bangku kelas XI MAN 1 Lamno. Si adik, Nurul, masih duduk di bangku kelas VII MTsN 1 Lamno.
Rauzatul, selain berkulit putih, memiliki ujung hidung yang memerah. Bola matanya cokelat. Alisnya juga tipis. ”Rambutnya putih. Tapi maaf, tidak boleh lepas jilbab,” ucap Muzakir.
Begitu pula Nurul. Rambut bocah yang tidak sedang mengenakan jilbab itu pirang. Kulit tangannya putih mulus. Di sekolah, keduanya pun menjadi siswa ”langka” secara fisik. Hanya mereka yang berkulit terang. Meski begitu, mereka tidak merasakan kendala saat berinteraksi dengan yang lain. ”Awalnya jadi perhatian. Sekarang sudah biasa,” kata Rauzatul.
Ernawati, istri Muzakir, juga berkulit putih. Tapi, bola mata dan rambutnya sama dengan warga Aceh pada umumnya. Pasangan suami istri itu memiliki lima anak perempuan. Tapi, hanya dua anak yang mirip bule. Tiga lainnya berambut hitam dan berkulit kecokelatan.
Pria yang bekerja sebagai tukang bangunan itu mengaku tidak tahu asal muasal keluarganya memiliki ciri fisik yang berbeda. Dia tidak pernah mendapat cerita siapa leluhurnya. ”Katanya, ada keturunan orang Portugis. Tapi, saya tidak tahu ceritanya,” ucap Muzakir.
Mengutip sejarahlamno.blogspot.co.id, diduga generasi mata biru di Aceh itu bermula pada periode 1492–1511, ketika sebuah kapal perang Portugis terdampar di pantai Kerajaan Meureuhom Daya, bagian barat Aceh sekarang, setelah kalah perang di Malaka.
Setelah sempat dikarantina, mereka akhirnya dibebaskan raja Meureuhom Daya. Para tentara Portugis itu kemudian berbaur dengan penduduk Lamno.
Mereka diajari bertani dan berbahasa serta diperkenalkan dengan adat istiadat dan budaya masyarakat Aceh. Para mantan tawanan perang tersebut kemudian juga diperbolehkan untuk mempersunting gadis pribumi, tentu setelah memeluk Islam.
Masih ada versi lain nenek moyang generasi mata biru. Tapi, bagi Muzakir, apa pun sejarah tentang asal usulnya, dia tak pernah merasa berbeda dengan warga Aceh lainnya meski secara fisik berbeda.
Sebelum tsunami, pria 48 tahun itu mengaku hidup seperti warga kebanyakan. Tidak ada orang dari luar Aceh yang mencari-carinya. Sebab, para pencari mata biru langsung mendatangi pesisir. Saat itu jumlah warga mata biru sangat banyak di area tersebut.
Tapi, setelah tsunami, mayoritas keturunan mata biru hilang, tewas, atau berpindah ke tempat lain. Dia pun mendadak menjadi buruan. Orang-orang yang masih penasaran dengan keberadaan para keturunan Portugis mendatanginya.
Ada yang berasal dari Aceh, Medan, dan Jakarta. Bahkan, ada juga yang datang secara berombongan dari Malaysia. ”Ke sini tanya-tanya, foto-foto,” jelasnya.
Ada pula yang datang dari Portugis dengan maksud menelusuri sanak keluarga yang selamat dari amukan tsunami. Tapi, Muzakir tidak bisa banyak membantu. Sebab, dia sendiri tidak tahu siapa nenek moyangnya yang berasal dari Portugis.
Kepala Desa Lamme Umar mengatakan, keluarga Muzakir merupakan satu-satunya generasi mata biru yang tersisa di wilayah yang dipimpinnya. Padahal, sebelum tsunami, hampir di setiap desa ada generasi mata biru. ”Sekarang tidak setiap desa ada. Kalau ada, paling hanya satu,” jelasnya.
Tapi, tidak berarti mereka punah. Sebab, keturunan bule terkadang berasal dari orang tua yang tidak memiliki ciri bule sama sekali. ”Ada yang orang tuanya seperti masyarakat Aceh pada umumnya, tapi anaknya bisa berambut pirang,” kata Umar.
Dari Umar pula akhirnya terkuak petunjuk mengenai Puteh. Menurut dia, Puteh tinggal di sebuah desa di seberang Ujong Muloh. Tapi di kecamatan yang berbeda. Sayang, Umar pun tidak mengetahui nama desanya.
Meski sedikit, informasi tentang Puteh itu berharga. Hasil penelusuran menemukan bahwa Puteh ternyata tinggal di Desa Kuala, Kecamatan Indra Jaya, Kabupaten Aceh Jaya. Namanya lumayan populer. Maklum, pria yang sehari-hari bekerja sebagai petani itu satu-satunya pria bermata biru di desa tersebut.
Nama aslinya Jamaludin. ”Orang biasa memanggil saya Puteh, ya sudah,” ucapnya. Fisiknya memang mirip bule. Hidung mancung, kulit putih, dan mata biru kecokelatan. Tapi, ketika berbicara, logatnya murni Aceh.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
