
MULUS TAPI SEPI: Jalan kampung yang menghubungkan ke kawasan pesisir bekas pusat generasi mata biru di Kecamatan Jaya, Aceh Barat.
Populasi keturunan Portugis di Aceh merosot drastis karena tsunami 17 tahun silam. Permukiman mereka pun menjadi desa mati. Berikut laporan wartawan Jawa Pos EKO PRIYONO yang belum lama ini berkunjung ke sana.
SALEH mengernyitkan kening cukup lama. ’’Di sini sudah tidak ada orang, Bang,’’ katanya. Di salah satu sudut Desa Ujong Muloh, pada Sabtu siang dua pekan lalu itu (19/8), Saleh tengah menghaluskan kayu di sebuah gubuk tanpa dinding. Selain dia, memang tak tampak seorang pun di desa yang berlokasi di Kabupaten Aceh Jaya, Aceh, tersebut.
Hampir 12 tahun setelah tsunami menghumbalang Aceh, Ujong Muloh yang terletak di bibir pantai hampir menjadi desa mati. Hanya sebagian penduduk yang bertahan. Yang tinggal agak jauh dari bibir Samudra Hindia. Saleh salah satunya.
Sisanya, sejauh mata memandang, hanya hamparan tanah kosong. Begitu sepi. Begitu panas. Dari perempatan tempat Jawa Pos sempat berhenti lama, hanya deburan ombak Samudra Hindia yang terlihat jelas.
Di desa itulah dulu para keturunan ’’si mata biru’’ banyak bermukim. Si mata biru merujuk kepada warga Aceh keturunan Portugis.
Secara fisik, mereka memang seperti umumnya bule. Kulit putih, rambut pirang, dan mata kebiru-biruan. Tapi, sungguh tak mudah menemukan mereka sekarang. Tsunami pada 26 Desember 2014 telah mencerai-beraikan mereka.
Sebagian lenyap digulung ombak, sebagian yang lain berpindah ke berbagai tempat. Menjauh dari pantai.
Penelusuran dari Banda Aceh membawa Jawa Pos ke Aceh Jaya. Dari ibu kota Bumi Serambi Makkah tersebut, Aceh Jaya terpisah 85 kilometer. Melewati dua bukit dan tiga gunung.
Di sanalah, persisnya di Lamno, komunitas terbesar si mata biru dulu berada. Namun, dari berbagai tempat yang disinggahi dan sejumlah warga yang diwawancarai selama 2,5 jam perjalanan, hanya satu nama sisa si mata biru yang terdengar: Pak Puteh.
Tapi, Saleh mengaku hanya samar-samar mengingat sosok yang dulu bermukim di Ujong Muloh itu. ’’Saya dengar dia tinggal di desa seberang,’’ katanya.
***
Tsunami 2004 telah membuat si mata biru tak ubahnya urban legend di Aceh. Hampir semua orang di provinsi paling barat Indonesia itu mengaku tahu. Tapi, sebatas dari mulut ke mulut.
Ada beberapa versi soal asal muasal si mata biru. Salah satunya, mengutip sejarahlamno.blogspot.co.id, bermula ketika pada 1492–1511 sebuah kapal perang Portugis terdampar di pantai Kerajaan Marhom Daya –di bagian barat Aceh sekarang– setelah kalah perang di Malaka.
Setelah sempat dikarantina, mereka akhirnya dibebaskan raja Marhom Daya. Para tentara Portugis itu kemudian berbaur dengan penduduk Lamno.
Mereka diajari bertani dan berbahasa serta diperkenalkan dengan adat istiadat dan budaya masyarakat Aceh. Para mantan tawanan perang itu kemudian juga dibolehkan mempersunting gadis pribumi, tentu setelah memeluk Islam.
Versi lain menyebutkan, orang-orang Portugis sengaja datang ke Marhom Daya untuk berdagang. Mereka membawa porselen, senjata, dan mesiu. Dan, membawa balik hasil bumi. Dari sana, interaksi antarbangsa terjadi. Catatan lain yang lebih tua, seperti yang tercantum pula dalam sejarahlamno.blogspot.co.id, menyebutkan, perdagangan global di kawasan Lamno itu bahkan telah terjadi sejak abad ke-6.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
