
BERKESAN: Joshua Mugo Mward dan Tabitha Kenoi Mugo menerima ucapan selamat dari tamu undangan. Setiap tamu mendapat suvenir angklung.
Saat itu Alwyn juga mengajari ibu-ibu KBRI Nairobi bermain angklung. Saat harus meninggalkan Kenya untuk bersekolah lagi, Alwyn merekomendasikan Joshua untuk menjadi penerusnya sebagai guru angklung di KBRI.
Akhirnya, jadilah Joshua sebagai pengajar angklung. Saat ini dia juga mengajari anak-anak Kenya memainkan alat musik khas Sunda tersebut.
Joshua juga begitu tertarik dengan alat-alat musik khas Indonesia lainnya. Selain angklung, dia sudah bisa bermain kolintang. ’’Saya ingin sekali belajar memainkan gamelan,’’ ujar pria 34 tahun itu.
Saat menikah, dia sebenarnya berencana berbulan madu ke Indonesia. Dia ingin mendatangi saung angklung di Jawa Barat. Selain melihat langsung para seniman memainkan alat musik tersebut, dia ingin tahu proses pembuatan angklung.
’’Saya ingin sekali bisa membuat angklung di sini. Di Kenya sebenarnya banyak bambu walaupun jenisnya berbeda. Saya sedang mencari orang yang bisa membuatnya,’’ katanya.
Kedekatan Joshua dengan orang-orang Indonesia di Kenya juga membuatnya makin mencintai Indonesia. Bahkan, grup vokal yang dia pimpin, Girls Coral of Kenya, kerap melantunkan lagu-lagu Indonesia. Grup itu terdiri atas 21 vokalis.
Saking dekatnya, saat menikah, dia sangat ingin mengenakan pakaian adat Indonesia. Di KBRI, ditunjukkan kepada Joshua pakaian adat berbagai daerah di Indonesia. Pilihan jatuh pada pakaian adat Jawa. ’’Sepertinya itu yang paling praktis,’’ ujar Tabitha.
Pakaian pengantin adat Solo Putri berupa kebaya beludru hitam dengan hiasan bordiran emaslah yang kemudian dikenakan perempuan 32 tahun yang juga seorang gitaris itu. Laili Fauziah, istri pejabat KBRI W. Sunani Ali Asrori, didapuk menjadi perias dadakan. Berbekal Google dan YouTube, dia mendandani Tabitha.
’’Saya hanya diberi waktu 30 menit karena mereka harus segera ke tempat resepsi,’’ ungkap Laili.
Pakem tata rias pengantin Solo Putri memang tidak diikuti 100 persen. Rambut Tabitha tidak memakai sanggul bangun tulak. Tapi tetap memakai cunduk mentul. Tidak ada sunggar atau riasan rambut di atas kedua kuping.
Wajah Tabitha juga di-make-up secara natural. Tidak menggunakan cengkorongan atau paesan berbentuk gajahan dan pengapit di dahi.
’’Busana yang dikenakan Tabitha kekecilan. Makanya tidak dikancing. Yang penting nuasanya sudah terasa Jawa,’’ kata perempuan asal Kediri itu.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
