Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 6 Agustus 2017 | 02.16 WIB

Kalau Sudah Latihan di Iten, Mudah Menaklukkan Maraton di Mana Saja

JUARA:  Wilson Kipsang (dua dari kanan), mantan pemilik rekor dunia lari maraton (42,195 km) dengan catatan waktu 2 jam 3 menit 13 detik. - Image

JUARA: Wilson Kipsang (dua dari kanan), mantan pemilik rekor dunia lari maraton (42,195 km) dengan catatan waktu 2 jam 3 menit 13 detik.

Rahasia kehebatan Kenya di race maraton dunia ada di Iten, kota kecil di dataran tinggi. Di sanalah wartawan Jawa Pos TOMY C. GUTOMO selama dua pekan sejak 24 Juli turut merasakan gemblengan pelatih kelas wahid.



BAYANGAN akan panasnya Afrika hilang seketika saat saya mendarat di Bandara Eldoret, Kenya (24/7). Begitu saya turun dari pesawat pukul 19.45 waktu setempat, hawa dingin sudah menyergap. Lebih dingin dari Nairobi, ibu kota Kenya. Aplikasi cuaca di telepon seluler saya menunjukkan suhu 14 derajat Celsius.


Begitu keluar dari tempat pengambilan bagasi, Timo Limo, head coach di High Altitude Training Centre (HATC), kamp tempat saya akan berlatih, sudah berdiri menunggu. Dia membawa kertas bertulisan nama saya.


”Welcome to Eldoret,” kata Timo sambil menyalami saya.


Kami bergegas ke mobil dan langsung menuju Iten, kota di dataran tinggi di Distrik Elgeyo-Marakwet. ”Jaraknya 40 km dari sini. Paling lama 45 menit,” kata Timo yang duduk di kursi pengemudi.


Pemilik nama lengkap Timothy Kipkorir Limo itu merupakan pelari profesional jarak menengah yang cukup terkenal di Kenya. Sepanjang perjalalanan, dia banyak cerita tentang suasana kamp yang akan saya tempati.


Kamp tersebut milik Lornah Kiplagat, mantan pelari perempuan Kenya yang beberapa kali meraih podium world championship. Dia juga memproduksi sportswear dengan merek Lornah.


Kami tiba di Iten pukul 20.30. Willy Songok, manajer HATC, langsung menyambut begitu saya turun dari mobil. Saya kembali cek suhu udara. Tertulis 12 derajat Celsius. Hari itu saya kehilangan sesi perkenalan dengan pelatih dan peserta kamp yang lain yang berakhir pukul 19.00.


Sambil makan malam pasta dan daging, Songok menjelaskan program yang akan saya jalani selama dua pekan di kamp. ”Setelah makan, silakan istirahat. Besok pagi kita mulai latihan pukul 06.10,” kata Songok.


Di Kenya, matahari terbit pukul 06.30. Pukul 06.10 langit masih gelap gulita. Dan, tentu saja dinginnya bukan main.


Saya sengaja memilih jadwal kamp pada Juli–Agustus untuk menghindari panasnya Afrika. Namun, tidak membayangkan sedingin ini. Selain itu, pada Juli–Agustus, banyak pelari Kenya yang pulang kampung dan berlatih di Iten.


Pada hari kedua di Iten, saya sudah ketemu Wilson Kipsang Kiprotich, mantan pemilik rekor dunia lari maraton (42,195 km) dengan catatan waktu 2 jam 3 menit 13 detik. Sekitar sepekan kemudian (1/8), saya bertemu Abel Kirui, juara Berlin Marathon 2009 dan Daegu (Korsel) Marathon 2011 serta peraih perak maraton Olimpiade London 2012. Dan, kemarin (4/8) saya berjumpa pemilik HATC, Lornah Kiplagat.


Wilson punya rumah dan hotel di Iten. Adapun Abel tinggal di Global Sports Camp. Di kamp tersebut juga ada Eliud Kipchoge, peraih emas maraton Olimpiade 2016.


Ada lebih dari seratus kamp lari di Iten. Dan, pada Juli–Agustus, semua kamp tersebut penuh. Sebab, saat ini tidak banyak race besar. Waktu itulah yang dipakai para pelari Kenya untuk berlatih di Iten. Setiap kamp dihuni 7–10 pelari.


Menurut Songok, Iten merupakan tempat ideal untuk meng-upgrade kemampuan lari. Kondisi alamnya yang penuh tanjakan dan turunan sangat memadai bagi pelari untuk melatih ketahanan dan kecepatan.

Editor: Miftakhul F.S
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore